Bagi yang belum sempat menonton Film nya,nih saya kasi novelnya.
PROLOG
Tidak
ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang
berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.
Ini
bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian
jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cerita harus ada
yang terluka.
Ini
barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa
saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.
Ini
kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang
nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.
***
WISH #1: AKU INGIN CEPAT-CEPAT MENJADI
Niki
dan Nata berbaring di atas trampolin, benda usang itu bergoncang-goncang
mengikuti gerakan mereka. Mereka berdua sedang menatap bintang-bintang yang
mulai terlihat jelas setelah matahari tenggelam. Deru mobil dari kejauhan
sesekali terdengar, lalu hening, digantikan oleh bunyi jangkrik yang
menghinggapi malam.
Itu
adalah kebiasaan mereka, duduk menunggu matahari terbenam sambil mengobrol
tentang segalanya -PR yang belum selesai, ujian esok pagi, hari-hari di
sekolah, atau rencana untuk akhir pekan. Mereka melakukannya setiap malam
hingga kegiatan itu menjadi rutinitas harian yang tidak pernah terlewatkan.
Tiba-tiba,
Niki mendesah penuh harapan, lalu bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Jatuh cinta itu..., gimana rasanya, ya?"
Nata
sedikit kelimpungan menanggapi pertanyaan Niki yang tidak biasa.
"Memangnya kenapa?" Dia bertanya dengan hati-hati.
Niki tersenyum lebar
dan memutar tubuh untuk menghadap Nata. "Kayaknya, menyenangkan banget,
bisa pergi berdua ke mana-mana, tukeran hadiah, ngerayain hari-hari penting
sama-sama, seperti Kak Dhanny dan Kak Sivia." Niki menyebut nama abang Nata,
yang akhir-akhir ini sedang dilamun cinta dengan pacarnya.
"Huh." Nata mendengus dan
menekan kepalanya di bawah lengan. "Itu kan, kelihatan dari luarnya aja.
Kalau lagi berantam, Kak Dhanny kerjaannya marah-marah terus. Cemberut
sepanjang hari, atau mohon-mohon sama Kak Sivia supaya dimaafin. Kak Dhanny
bilang, selalu pihak cowok yang harus ngalah, belum lagu harus inget
tanggal-tanggal penting, misalnya tanggal jadian, terus mesti pusing mikirin
harus beli kado apa. Bikin kesalahan sedikit, ceweknya bisa ngambek berhari-hari.
Jatuh cinta itu ngerepotin, tau."
Niki tertawa, sudah
terbiasa dengan gerutu khas Nata yang sangat sinis. "Itu kan, karena Nata
belum pernah jatuh cinta."
Nata meleletkan lidah tak peduli.
"Kamu sendiri juga belum, kan?"
"Udah."
Niki mengerling jenaka. "Sama Kak Dhanny!"
"Yeee...."
Dengan gemas, Nata menepuk kening sahabatnya, ringan. "Itu sih cinta
monyet!"
Niki
cengengesan, lalu kembali serius. "Makanya, aku kepingin tahu, cinta yang
sesungguhnya itu gimana rasanya...."
Mereka
berdua terdiam, larut dengan pikiran masing-masing.
"Di antara kita berdua,
siapa ya kira-kira yang bakal jatuh cinta duluan? Kamu atau aku?"
Nata secara otomatis
menjawab pertanyaan itu. "Kamu."
Niki tergelak.
"Mungkin. Tapi, kamu atau aku, kita harus saling cerita, ya? Janji?"
Nata hanya tersenyum dan
mengangkat bahu, tidak ingin berjanji apa-apa. Niki yang tidak puas dengan
jawaban tersebut mengulurkan tangan untuk menggelitik pinggang Nata. Dua remaja
SMP itu bergulat di atas trampolin, tertawa keras-keras sambil berusaha saling
mendahului, hingga akhirnya Nata setuju untuk mengaitkan kelingkingnya dengan
jari Niki. Janji dua orang sahabat untuk selamanya bersama.
NIKI
Jarum
jam menunjukkan waktu lima belas menit sebelum pukul tujuh ketika terdengar
bunyi gedubrak yang cukup kencang. Suara pintu dibanting, diikuti dengan
langkah kaki yang cepat-cepat menuruni tangga. Tidak lama kemudian, sesosok
remaja perempuan yang baru beranjak usia tujuh belas tahun melongokkan kepala
ke arah dapur dan tersenyum usil pada ibunya.
Sang ibu cuma bisa geleng-geleng
kepala melihatnya. Hidup dengan dua putri yang sedang beranjak puber sama saja
seperti hidup di medan perang, sewaktu-waktu bisa dengan tak sengaja menginjak
ranjau yang meledak hebat. Niki, anak pertamanya yang sudah duduk di bangku SMU
sedang heboh-hebohnya melewati masa rebelling
yang mengikutsertakan mood
swing akut, keinginan untuk jadi seperti teman-temannya yang lain,
juga mulai jatuh cinta. Setiap pagi, dia berkutat di kamar mandi setengah jam,
meluruskan rambut dengan alat catok, mengaplikasikan lipgloss penuh glitter, sampai
mencoba bermacam-macam jenis diet. Belum lagi nilainya yang jeblok lantaran
kebanyakan main ke mall,
dan gampang melawan kalau dinasihati. Sementara, adik Niki, Acha, yang dua
tahun lebih muda, memang cenderung lebih kalem dan dewasa daripada kakaknya.
Tetap saja, sesekali kedua putrinya itu bisa bikin kepalanya mau pecah.
"Ma,
Niki berangkat dulu!"
Niki tampak sudah
rapi. Rambutnya yang lurus sebahu dihiasi jepit kuning. Seragam putih
abu-abunya sengaja dibuat model ketat zaman remaja sekarang, juga sepatu
Converse bergaris kuning dengan pin kecil warna-warni di kaus kakinya. Sebelum
sang ibu bisa berkata apa-apa mengenai aksesoris itu, Niki sudah mengecup pipinya
dan melesat keluar, tidak lupa menyambar sarapan berupa setangkup roti gandung
di atas meja makan.
Mama Niki menghela
napas lagi, lalu tersenyum.
***
Waktu
masih berumur lima tahun, Niki sering mengintip mamanya berdandan.
Diperhatikannya gerakan Mama ketika memulas bedak tabur di permukaan kulit,
merata ke seluruh wajah sampai tidak ada noda yang tersisa. Lalu, sebatang
pensil menebalkan garis mata Mama, membuatnya kelihatan lebih besar. Sedikit
jepitan selama beberapa detik menggunakan sebuah alat berbentuk aneh, diikuti
dengan sikat berujung hitam yang melentikkan bulu mata. Terakhir, tepukan di
pipi untuk menyisakan rona kemerahan, juga warna di kelopak mata dan bibir. Niki
begitu sering mengamati Mama merias diri sampai hafal rutinitas itu, dan suatu
saat ketika Mama sedang pergi, dia memberikan diri menarik laci meja rias yang
mengandung banyak alat-alat ajaib itu.
Ketika pulang, Mama menemukan Niki
sedang asyik berdiri di depan kaca. Wajahnya penuh dengan coretan warna-warni.
Lipstik warna merah darah mencoreng bibirnya, belum lagi pipinya yang didempul
merah muda sampai terlihat seperti topeng monyet. Di tubuhnya yang mungil, ada
atasan kebaya pesta milik Mama, jatuh sampai di bawah lutut dan menggantung di
sana. Mama tidak tahu harus marah atau tertawa.
Dengan lembut, didudukkannya Niki di
atas pangkuannya, lalu menyeka wajahnya dengan sebentuk kapas yang dibasahi
minyak bayi.
"Anak perempuan seumur Niki
masih belum cocok dandan seperti ini." Begitu nasihat Mama waktu itu,
sebelum menghapus merah yang sangat tebal di muka cemong anak tertuanya.
"Terus,
kapan bolehnya, Ma?"
Mama berpikir sejenak. "Setelah Niki
beranjak dewasa, kalau sudah benar-benar membutuhkan alat rias seperti punya
Mama. Mungkin kalau sudah umur enam belas tahun nanti, Niki akan belajar
memakainya."
"Bisa
jadi cantik ya, Ma?" Niki bertanya lagi, memejamkan mata supaya Mama bisa
membersihkan seluruh wajahnya. "Kalau Niki dewasa, Niki mau pakai
alat-alat ini, supaya cantik seperti Mama."
Mama
membelai kepalanya, lalu mengikat rambutnya menjadi satu konde mungil di
belakang kepala. "Tujuan alat-alat ini bukan hanya untuk mempercantik
diri. Kecantikan yang sesungguhnya harus datang dari sini." Ditunjuknya
posisi hati, sehingga Niki ikut memegang dadanya.
Di ulang tahun Niki yang
keenam belas, Mama benar-benar menghadiahinya satu set kosmetik dengan palet
warna pastel yang sesuai untuk remaja. Tapi, Mama tidak ingin Niki lupa, bahwa
kecantikan tidak datang dari penampilan saja, tapi juga dari hati.
***
Niki melempar ranselnya
hingga tersampit di punggung dan berdiri di bagian belakang sepeda. Kedua
tangannya erat di pundak Nata, dan dia mengkomando dengan suara lantang,
"Jalan, Bos!"
Nata, yang sudah menunggu
dua puluh menit di garasi terbuka rumahnya, menggerutu dengan kesal. "Udah
telat masih nganggep gue sopir, pula."
Niki menepuk ubun-ubunnya
dengan gemas. "Cuma telat sebentar aja, kok. Tadi ada emergency,
tau."
Nata memalingkan wajah
sekilas sambil terus mengayuh. "emergency
apaan? Bad hair
day?"
Niki tertawa lepas.
"Tau aja ih, Nata."
Lagi-lagi, Nata menggumam
tak jelas, tak dihiraukan oleh Niki. Tentu
saja cowok gak akan ngerti, begitu pikir Niki. Memangnya, enak
tiba-tiba bangun pagi dengan rambut kriwil yang supermegar, atau kram perut
karena datang bulan?
Begitu tiba di sekolah, Niki
segera ngeloyor masuk kelasnya, dengan ceria mengucapkan selamat pagi. Helena,
sang ketua cheerleader,
meneliti penampilannya dari atas sampai bawah, lalu mengangguk puas. Niki
tersenyum bangga, mengambil tempat duduknya satu baris di depan Nata.
Diam-diam, Niki sebenarnya
ingin seperti Helena dan teman-temannya. Mereka selalu kelihatan keren. Cantik.
Lengkap dengan tas, jam tangan dan sepatu model terbaru, cewek-cewek seperti Helena
selalu up-to-date dengan gaya
fashion
terbaru. Mereka juga jadi bagian elite grup pemandu sorak yang tidak bisa
sembarangan merekrut anggotanya.
Sejak dulu, impian terbesar Niki
adalah menjadi cheerleader.
Dia merengek pada Mama sampai akhirnya diperbolehkan les balet. Dia menonton
setiap film tentang cheerleader
dan dance
dengan seksama, menghafalkan gerakan dan koreografinya. Kadang-kadang, dia
latihan sendiri di kamarnya, menciptakan gaya tarian baru dan belajar dengan
mengamati gerakan orang lain.
Salah satu alasan Niki
menyukai sekolah ini adalah karena tim cheers-nya
yang jadi kebanggaan. Setiap tahun, tim cheers SMU Harapan selalu masuk
kategori final kejuaraan cheerleading
seluruh Jakarta, malah tidak jarang menyabet juara satu. Ada sesuatu yang magical dengan
pompom--persatuan, kreativitas, disiplin ketat, latihan keras, dan kecintaan
pada musik dan seni tari. Niki menghargai itu. Ia ingin jadi salah satu dari
mereka.
Dia masih ingat hari ketika
dia mengikuti audisi untuk anggota baru. Kakinya bergerak begitu saja mengikuti
hentakan musik, lalu tubuhnya mengikuti gerakan demi gerakan yang sudah
dilatihnya selama berbulan-bulan. Lompatan maupun gerakan cartwheel yang
biasanya merupakan tantangan besar bagi gadis-gadis lain tidak jadi masalah
buat Niki, dia bisa melakukannya dengan mata terpejam sekali pun. Ketika
selesai, Niki tahu dia pasti berhasil. Dia bisa melihatnya dari tatapan kagum
para senior, tepukan tangan para anggota lain, dan anggukan samar para guru.
Dan sejak saat itu, akhirnya Niki berhasil menjadi bagian dari tim pemandu
sorak yang begitu diidolakannya.
"Eh, tau gak, hari ini
ada anak baru yang masuk, lho!" Vanya, salah satu anggota geng Helena,
memutar kursi untuk menghadap Niki.
"Katanya pindahan dari
New York. Blasteran bule!"
"Oh ya?" Niki
mengangkat muka sekilas, walau dia sedang sibuk mengerjakan PR Matematika yang
lupa diselesaikannya semalam, gara-gara begadang nonton Gossip Girl
bersama Acha, adiknya.
Helena mengangkat jari-jari
lentik yang kukunya habis dipoles cat warna nude.
Suaranya rendah dengan nada misterius. "Denger-denger sih... anaknya Vidia
Rossa."
Kali ini, Niki langsung
melupakan PR-nya. Vidia Rossa? Model terkenal itu?! Niki cinta Vidia Rossa.
Bahkan, dia punya posternya di kamar, tepat di atas meja belajarnya. Kalau lagi
suntuk belajar, Niki akan bengong menatap poster itu sambil berkhayal. Vidia
Rossa melenggak-lenggok di atas CATWALK untuk memamerkan koleksi musim gugur
Prada, launching
koleksi hasil desainnya sendiri di New York tempo hari, yang masuk masalah fashion lokal
maupun luar negeri. Vidia Rossa, yang garis wajahnya mirip Claudia Schiffer,
tapi dengan keanggunan ala Gisele Bundchen.
"Tuh, anaknya baru aja
dateng!"
Secepat kilat, separuh isi
kelas berhamburan keluar untuk melihat rupa anak tunggal Vidia Rossa yang hari ini
resmi jadi murid SMU Harapan. Hanya Nata yang bermalas-malasan di mejanya,
lebih senang mendengarkan musik dengan iPodnya daripada ikut bergosip.
"Nat, anaknya Vidia
Rossa!" Niki masih dengan bersemangat mengguncang lengannya.
"Terus kenapa...?"
Huh. Niki cemberut, lalu
menyusul Helena keluar. Nata tidak akan peduli sekalipun itu anak presiden. Dia
melihat seorang gadis dalam balutan seragam merah kotak-kotak, yang menenteng
tas Juicy Couture terbaru seperti yang pernah dilihatnya di katalog fashion bulan
ini. Gadis itu memang jelas-jelas Indo, dengan rambut kecokelatan sepunggung
yang ditarik dengan baret hitam. Tubuhnya sangat
tinggi dan sangat
kurus, terlihat sedikit canggung ketika berjalan.
"Ceking banget, pasti anorexic."
Bisik-bisik terdengar di antara kaum perempuan, raut iri dan kagum terlukis
jadi satu di wajah mereka. Niki tidak mengindahkannya, dia sudah terbiasa
mendengar komentar sinis teman-temannya.
Murid-murid laki-laki mulai
bersiul dengan kurang sopan, membuat gadis itu mendongak ke atas, ke arah
mereka yang sedang bergelantungan di depan kelas di lantai dua. Matanya tak
sengaja bertemu pandang dengan Niki.
Niki tersenyum kikuk. Gadis
itu memiringkan kepalanya sekilas, lalu kembali bergegas ke arah ruang TU.
***
ANNALISE
Wish #2: I want to fit in (Annalise)
Jadi anak baru memang
menyabalkan; salah satu hal paling menyebalkan di dunia ini selain kepergian
Mama berbulan-bulan lamanya dan mendapat label anak aneh hanya karena dia lebih
suka membaca daripada hangout
seperti remaja lain seumurnya.
Annalise sudah sering pindah
sekolah. Saking seringnya, dia sampai tidak ingat sudah berapa kali dia
hengkang dari satu sekolah dan masuk ke sekolah lainnya. Beberapa kali
keluarganya pindah mengikuti jadwal tour
Mama keluar negeri, mulai dari Tokyo, London, New York, sampai balik lagi ke
Jakarta, tempatnya dilahirkan. Annalise tidak terlalu ingat tahun-tahun
pertamanya tinggal di sini, waktu itu dia masih sangat kecil. Baginya, kota ini
besar tapi semrawut. Sarat polusi, macet, dan panas setiap saat. Namun, entah
mengapa dia suka tinggal di sini. Begitu banyak hal menarik yang bisa
dipotretnya dengan kamera Nikon yang mengganduli lehernya ke mana-mana.
Annalise mendengus mengingat
momen pertama kalinya dia menyeberangi lapangan basket sekolah baru ini--tadi
pagi. Dia berjalan lengkap dengan seragam sekolah lamanya yang berbasis
kotak-kotak merah, tas suede
krem hadiah dari Mama waktu ke Milan, dan sepatu kets baru yang masih bersih.
Terdengar siulan-siulan kurang senonoh dari lantai atas, dan begitu dia
mendongak, belasan remaja laki-laki sedang menunduk ke bawah, memperhatikannya
dengan seksama. Malah ada beberapa yang dengan cuek memotretnya dengan kamera
HP. Dengan ngeri, Annalise mempercepat langkah ke arah ruang tata usaha untuk
mengambil buku-buku pelajarannya semester ini.
Bunyi suit-suit makin keras
mengikuti bayangannya, lalu jadi senyap setelah guru BP yang berdiri di depan
ruang TU menghardik mereka dengan galak. Annalise menghela napas lega, untuk
sementara dia bebas, tapi predikat anak baru sudah keburu melekat. Dia merasa
seperti objek, hanya karena dia bule. Blasteran. Indo. Beda dari yang lain.
***
Belum lama dia duduk di
kantin sendirian, sudah banyak yang bergosip tanpa berusaha mengurangi volume
suara.
"Itu anaknya Vidia
Rossa, kan? Model terkenal tahun sembilan puluhan!"
"Katanya sih begitu.
Tadi liat gak dia diantar pakai Jaguar hitam? Pasti tajir banget."
"Ya anaknya model dan
perancang terkenal, gitu lho."
Kuping Annalise panas
mendengarnya. Dia memang berat di nama--mamanya adalah Vidia Rossa Roberts,
model senior yang masih sering muncul di vogue
walau usianya sudah hampir empat puluh. Model berdarah Russia-Amerika-Indonesia
yang namanya sudah malang-melintang di dunia fashion,
yang akhir-akhir ini banting setir untuk berkiprah di dunia fashion design.
Walaupun itu berarti beliau akan jarang di rumah, lebih sering menghabiskan
waktu di atas kursi empuk bussiness
class pesawat terbang, menenggak beberapa butir aspirin untuk
menghilangkan jet
lag di kamar hotel, lalu sibuk mengurus ini-itu dengan partner
bisnisnya. Walaupun itu berarti Annalise akan sangat merindukan Mama sampai
akhirnya terbiasa dengan ketidakhadirannya.
Annalise menarik sejilid
buku usang dari tas dan mulai membaca sambil menikmati makan siangnya. Wuthering heights,
sebuah judul yang tak pernah bosan dibacanya. Diam-diam dia hilang dalam bacaan
itu, barisan kalimat yang bagaikan menghipnotis, untuk sementara membuatnya
lupa bahwa dia adalah orang asing di sekolah ini.
***
NATA
Nata tidak ingat kapan
tepatnya Niki mulai berubah.
Niki yang dikenalnya dulu
adalah anak perempuan bandel yang tidak gentar memanjat pohon jambu di halaman
rumahnya. Anak kecil yang cekikikan sambil mengebut dengan sepeda gunungnya,
juga tak ragu bermandi hujan dan air banjir yang becek. Mereka sudah
bertetangga sejak usia lima tahun, jadi Nata bisa bilang kalau dia mengenal
sahabatnya ini luar dalam.
"Nataooo!"
Nata bahkan menghafal suara
cempreng itu dengan baik. Niki berdiri di hadapannya sambil mengunyah batangan
snack kismisnya, lengkap dengan seragam cheers
yang serbapink. Rambut sebahunya dikucir satu tinggi-tinggi di atas kepala,
bibirnya terulas lipstik merah muda senada, dan matanya dibingkai sedikit
pemulas.
"Mau latihan cheers atau mau
ke pesta, sih?" Nata tidak tahan untuk tidak menyindir pedas. Akhir-akhir
ini, Niki jadi gemar dandan. Dia jadi salah satu anggota cheers, jadi
tergila-gila dengan warna pink,
selalu diet dengan hanya mengonsumsi makanan rendah kalori, dan jadi... centil.
Nata masih kurang terbiasa dengan kebiasaan baru macam ini.
Niki melengos sambil
cemberut. "Hari ini mau nungguin aku selesai latihan, kan?"
Nata melirik jam tangannya.
Masih ada satu jam. "Ya udah, deh."
"Sip!" Dengan
senyum lebar, Niki menepuk pundak Nata dua kali sebagai ungkapan terima kasih,
lalu menghilang di balik pintu ruang olahraga. Tidak lama kemudian, lagu Avril
Lavigne yang sering dipakai tim cheers
untuk latihan menggema sampai ke luar.
Nata menggaruk kepala dan
menyeret langkah ke arah UKS. Tidur siang lagi di ranjang UKS, deh. Kalau
tidak, kasihan Niki, nanti pulangnya jalan kaki sendirian.
***
Nata bisa bersahabat dengan Niki
karena ibu mereka dekat. Sejak keluarga Niki pindah ke seberang rumah Nata, ibu
mereka saling mengunjungi sambil membawa anak masing-masing. Kadang kursus
masak bareng, kadang ikut kelas aerobik sama-sama, perawatan di salon, arisan
atau sekedar mengobrol dengan dua cangkir teh hangat. Anak-anak ditinggal di
pekarangan begitu saja, mungkin semacam latihan sosialisasi supaya mereka mudah
berinteraksi sejak usia dini.
Awalnya, Nata dan Niki tidak
acuh terhadap satu sama lain. Nata duduk sendiri dengan robot-robotannya di
pangkuan, sedangkan Niki main Barbie lengkap dengan rumah-rumahannya. Acha
selalu tertidur di atas sofa, mengisap jempol. Namun, setelah berjam-jam, para
Mama mengobrol tanpa ada tanda-tanda akan selesai, Niki sepertinya mulai gerah.
"Kamu punya
sepeda?"
Nata mendongak ketika
ditodong seperti itu. Dari tadi dia sengaja tidak menyapa gadis kecil itu,
takut koleksi robotnya dirusak atau terpaksa main Barbie juga. Ih, Nata tidak
akan mau ke-gap
sedang main boneka perempuan!
"Punya sepeda
nggak?" Anak itu mengulangi dengan tidak sabar.
Nata menunjuk ke arah garasi
tanpa berkata-kata lebih lanjut.
"Yuk!"
Dengan tenaga yang cukup
besar untuk seorang anak perempuan, Niki menarik tangan Nata, setengah
menyeretnya ke garasi.
Niki yang pertama kali
mengajarinya bahwa mengayuh pedal kencang-kencang lalu membiarkan sepeda
menuruni lintasan curam adalah salah satu hal paling mengasyikkan di dunia. Niki
memberitahunya bahwa kenikmatan main ayunan adalah udara segar yang menerpa
wajah saat mereka berdiri di atas papan kayu sambil menentang angin. Niki juga
yang sibuk bercerita bahwa langit yang paling indah ada tepat sebelum malam
beranjak masuk--ketika langit berubah ungu dan merah jambu dengan loreng-loreng
merah oranye, dengan mataharinya kembali ke peraduan. Sebagai gantinya, Nata
mengajari Niki menangkap kunang-kunang dengan tangan kosong, juga berbagai
tempat kesukaannya di kebun belakang dengan gadis kecil itu.
Mereka bergantian membonceng
sepeda sampai Mama Niki mengajak anak perempuannya pulang. Waktu itu, Nata
hanya bisa memandang Niki yang berjalan menjauh, sambil sesekali berbalik dan
melambai ke arahnya dengan gigi ompong yang terlihat di balik senyum lebarnya.
***
"Anna, seragamnya sudah
selesai."
Tiga potong seragam putih
abu-abu yang sama persis bentuk dan ukurannya diserahkan dalam bungkusan
plastik. Annalise lega besok dia bisa mulai berseragam sama dengan murid-murid
di sini. Gara-gara tidak ada seragam yang pas dengan tubuhnya yang tinggi
kurus, pihak sekolah terpaksa membuat tiga setel khusus costum-made
untuknya.
Besok, hari-hari sekolahnya
sebagai pelajar SMU di Jakarta akan dimulai. Hari ini, dia setengah membolos,
untuk mengurus administrasi.
"Bu, bisa minta
obat?" Annalise bertanya sopan pada perempuan di balik meja Tata Usaha.
"Kepala saya pusing."
"Oh, minta saja di UKS.
Tuh, di lorong kedua belok kiri."
"Terima kasih." Annalise
bergegas ke arah yang ditunjuk dengan kepala berdenyut. Tiba-tiba saja
kepalanya pusing. Semalaman berkutat mencetak hasil fotonya di ruang gelap
membuatnya kurang tidur, dan kalau sedang asyik sendiri, Annalise jadi sering
lupa dia punya problem anemia yang cukup parah.
Ruang UKS kosong. Ada tempat
tidur berkelambu putih di pojok, lengkap dengan kabinet obat-obatan di
sampingnya dan sebuah meja kecil. Tidak yakin apa yang harus dilakukan, ia
memutuskan untuk menunggu sambil bersandar pada sebuah kursi.
Tak lama kemudian, seorang
murid laki-laki masuk tanpa mengetuk pintu, membawa iPod hitam special edition
U2 dengan volume diputar keras-keras. Dia menyapukan pandangan sekeliling, dan
tanpa berkata apa-apa langsung melompat ke atas ranjang UKS. Annalise diam
saja, berharap penjaga UKS segera datang.
Tidak lama kemudian,
terdengar suara murid laki-laki itu yang bertanya, "Sakit apa?"
Annalise tadinya tidak yakin
dia sedang mengajaknya bicara, tapi berhubung hanya mereka berdua yang sedang
ada di sana, dia memberanikan diri menjawab lirih. "Pusing."
"Pusing?"
Pipinya memerah seketika.
"Ya. Anemia."
Tirai yang menutupi tempat
tidur disibakkan dengan bunyi berisik. Murid laki-laki itu melongokkan
kepalanya untuk melihat Annalise. "Kalau begitu lo pasti lebih butuh
tempat tidur ini daripada gue."
Dia setengah memaksa Annalise
untuk berbaring di sana, tidak menghiraukan tolakan bernada sungkan. Annalise
memperhatikannya diam-diam; rambut yang terjuntai berantakan di kerah dan melewati
telinga, sepasang mata gelap dengan pandangan tajam, dan ekspresi wajah cuek
yang tidak tersenyum. Lalu, pemuda itu mengambil tempat duduk tidak jauh dari
sana, memejamkan mata sambil mendengarkan lagu. Bekas tempatnya berbaring
hangat, dan Annalise pun turut memejamkan mata.
"Kamu sendiri sakit
apa?"
Pemuda itu menarik sebelah earphone-nya
supaya bisa mendengar lebih jelas. "Penyakit malas. Lagi pula, cuma tempat
ini yang bisa dijadiin sarana tidur siang yang aman dan nyaman."
Annalise tertawa kecil
mendengar jawaban yang dilontarkan seenaknya itu. "Lagi denger lagu
apa?"
Lawan bicaranya menyeringai
ketika ditanya begitu. "Mau denger juga?"
Annalise menyambut sebelah earphone dengan
ragu dan melekatkannya di telinga. Bukan jenis lagu yang biasa didengarkannya,
tapi... cukup menarik. Interesting,
Annalise menyimpulkan this
guy has an interesting sense of music.
Mereka berdua menghabiskan
setengah jam di sana, berdiam diri sambil mendengarkan lagu dari album U2--joshua tree.
***
"Nataoo!!"
Pintu UKS dibuka dengan
sembrono, membuat Nata terlonjak sedikit. Niki masuk dengan napas tersengal,
ikat rambutnya longgar sehingga helai-helai rambut yang membingkai pipi
bulatnya basah oleh keringat. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis berdiri
tidak jauh dari tempat tidur UKS yang sempit. Niki mengenalinya sebagai murid
baru (anaknya Vidia Rossa!) yang pagi tadi datang dengan seragam sekolah
lamanya. Kalau tidak salah namanya Annalise Putri. Nama yang anggun sekali,
seperti nama seorang putri. Dalam jarak dekat seperti ini, Niki bisa melihatnya
lebih jelas; sepasang alis yang melengkung sempurna, mata hijau tua yang
dibingkai oleh bulu mata panjang yang super lentik, dan wajah polos yang pucat
tanpa make-up.
Fitur-fitur wajahnya begitu menonjol dan tidak proporsional--kedua matanya
sipit, sedangkan hidungnya sedikit crooked,
persis seperti ibunya, namun entah mengapa dia terlihat menarik. Seperti model, Niki
membatin. Di matanya, Annalise terlihat begitu keren dalam balutan seragam
sekolah swasta luar negeri.
Sebelum Niki sempat berkata
apa-apa pada anak baru itu, Nata bangkit berdiri, lalu menghampiri Niki.
Seperti biasa, ditariknya tas yang disandang Niki sehingga kini ia membawa dua
tas, termasuk miliknya sendiri yang tersampir di punggung. Mereka berdua
berjalan menuju lapangan parkir sekolah. Sesekali Niki menengok ke belakang,
melihat Annalise yang masih duduk di atas tempat tidur UKS.
"Kamu kenal sama anak
baru itu?"
Nata mengangkat bahu.
"Tadi baru kenal waktu di UKS doang kok."
Anna. Panggilannya akrab banget,
Niki berpikir diam-diam. "Dia sakit?"
"Katanya sih
pusing."
"Ooo. Dia mirip sama
Vidia Rossa, ya? Cantik, ya, Nat! Mudah-mudahan dia sekelas sama kita."
Tidak lama kemudian, akhirnya Niki berhenti menyebut nama Vidia Rossa dan mulai
sibuk bercerita tentang gaya dance
baru yang diciptakannya tadi waktu latihan. Sepanjang perjalanan dengan Niki
membonceng bagian belakang sepedanya, bercerita dengan penuh semangat. Nata
mendengarkan tanpa antusiasme total, pikirannya merembet ke mana-mana.
**
NATA
Nata memang tidak ingat
kapan tepatnya Niki berubah, tapi dia ingat jelas kapan pertama kalinya dia
menyadarinya. Hari itu hari pertama orientasi SMU. Para kakak kelas dengan
kejamnya memaksa seluruh murid tahun pertama untuk memakai seragam SMP lama
mereka lengkap dengan rangkaian petai terkalung di leher. Yang perempuan harus
mengepang rambut jadi tiga puluh bagian--tidak peduli seberapa berantakan yang
penting ada tiga puluh set per kepala. Yang laki-laki harus pakai bando
perempuan, plus jepitan rambut warna-warni.
Pagi itu, Niki muncul sambil
merengut. Ia tampil heboh dengan tatanan rambut dikepang rapi kecil-kecil, juga
untaian petai yang semerbak. Rok SMP-nya sudah Saracilan dan kependekan,
sehingga dia terus-menerus menarik ujungnya dengan tak nyaman.
Nata tidak sadar betapa
cepat Niki berkembang selama dua bulan libur musim panas kemarin. Padahal, dari
dulu Niki kan pendek, kecil, dan pakai kawat gigi. Pokoknya boyish abis.
Rambutnya juga biasa dibiarkan pendek dan menjuntai hingga leher, lebih banyak
terkena matahari sehingga ujungnya pecah-pecah.
"Aneh, ya?" Niki
bertanya dengan gemas, menarik-narik rambutnya. "Mana petainya bau banget
lagi."
Nata ingin tertawa, tapi dia
malah tercengang. Niki masih Niki, tapi Niki bukan lagi Niki. Masuk akal gak
sih? Maksud Nata, sekarang Niki kelihatan berbeda. Entah sejak kapan kedua
tungkai kakinya mulai memanjang, diikuti dengan lekuk pinggang yang sempurna.
Kulitnya terasa lembut ketika menyentuh Nata. Rambutnya mulai dipanjangkan
hingga menyentuh bahu, bersih dan berkilau di bawah terik matahari. Nata jadi
ingin menyentuhnya, ingin tahu karena kelihatannya halus sekali. Matanya bulat,
bibirnya kemerahan, lehernya jenjang. Niki... cantik. Adjektif terakhir itu
terdengar aneh di mulut Nata. Karena dia tidak pernah menganggap sahabatnya itu
sebagai perempuan sungguhan.
Lalu, ada lagi kejadian
ketika cowok-cowok kelasnya berkumpul, topiknya tentu saja tidak jauh-jauh dari
perempuan.
"Cewek-cewek SMU
Harapan cantik-cantik, ya." Rizky, salah satu anak baru, buka suara.
"Gak nyesel masuk sini."
Waktu itu, Nata diam saja,
tanpa komentar menonton anak-anak kelas dua main basket di lapangan dari
tempatnya bergelayut di pagar lantai dua. Dia paling malas ikut nimbrung
masalah perempuan dan penaklukan--kesannya macho tapi norak.
"Iya," timpal
Debo, salah satu teman sekelas Nata sejak SMP. "Cakep-cakep. Liat sih Helena,
mulus banget. Atau si Vanya."
Lalu, murid-murid pun ikut
berdiskusi dengan seru.
"Kalau gue sih lebih
suka sama Linny. Seksi." Yang lain sibuk menggoda dan bersiul nakal.
"Kalo gue milih Sara.
Gue demen cewek yang mungil kayak dia."
"Sara biasa aja. Kalo Niki
gimana?"
Kuping Nata jadi
supersensitif mendengar nama itu disebut.
"Niki? Nikola ciputra
ya...?" Salah seorang dari mereka mulai memperhatikan gerak-gerik Niki
yang sedang mengobrol seru dengan teman-temannya di tepi lapangan. "Manis.
Ceria, kayaknya orangnya asyik."
"Tipe gue banget
tuh!"
"Niki, kan, teman dekat
Nata sejak kecil." Kiki, yang memang sudah mengenal Nata dan Niki sejak SD
berkomentar. "Gimana menurut lo Nat?"
Nata mengangkat bahu dengan
cuek, tapi hatinya sedikit berdebar. "Biasa aja. Gue udah terlalu lama
sahabatan sama dia."
"Jadi boleh kita kejar,
ya?"
Nata tidak terlalu
mendengarkan lagi. Dia tidak ingin mengakui bahwa dia juga merasa Niki menarik.
Kenapa, ya? Padahal, dari dulu Nata biasa aja di dekat Niki. Cewek itu yang
berubah... atau Nata yang berubah?
***
Pikiran Nata buyar seketika
begitu Niki melompat dari sepeda dan meraih tasnya. Pelukan di pinggangnya
melonggar begitu saja.
"Thanks, Nat! See you
tomorrow."
Sebelum masuk ke rumah, Niki
sempat melambai dan tersenyum lebar. Bau cologne
bayi yang dipakainya masih menusuk hidung Nata, membuatnya sedikit kepayang.
Pintu rumah Niki sudah
tertutup rapat, tapi Nata masih bengong sambil menuntun sepedanya. Iya, ada
sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Nata masih tidak tahu
perasaan apa itu. Tapi, kenapa hatinya jadi berdebar tidak keruan?
***
Wish #3: aku ingin
melihatnya tersenyum (Annalise)
Namanya MaNata Stevano
Aditya Haling. Annalise mendengar orang-orang memanggilnya Nata, jadi dia pun
mencoba menyebutkan nama itu diam-diam, untuk mengetes bunyinya. Nata. Nata.
Dengar-dengar, dia sangat
pintar. Nilainya tidak pernah kurang dari angka delapan, walaupun dia jarang
belajar dan lebih sering ketiduran saat pelajaran. Gayanya cuek dan sepertinya
sifatnya agak pendiam.
Annalise mengambil tempat
duduknya di sebuah bangku kosong di baris kedua paling belakang. Hari ini,
resmi jadi hari pertamanya belajar di sekolah baru. Tasnya sudah terisi
beberapa buku tulis kosong dan daftar pelajaran per minggu, juga sekotak pen
warna biru yang khusus dibelinya. Murid-murid lain masih berkeliaran di luar
sebelum bel berdering, beberapa duduk di atas meja sambil mengobrol. Annalise
tahu dia masih jadi pusat perhatian. Diam-diam, dia menyalahkan bentuk tubuhnya
yang kurang normal dan penampilannya yang sangat jauh dari raut Asia.
Juga nama Mama yang sangat,
sangat tenar.
Dengan gugup, Annalise
mengeluarkan buku-bukunya. Merapikan mereka di atas meja, menyusunnya
berdasarkan urutan pelajaran. Memasukan beberapa ke dalam laci, lalu berubah
pikiran. Duh, kapan sih bel akan berbunyi?
Di depan kelas, Annalise
melihat Nata. Dia sedang bercanda-canda dengan murid sekelasnya, seorang gadis
berambut poni yang lengan kemeja putihnya digulung dan dijepit bros pink--gadis
yang kemarin membuka pintu UKS, lalu pulang bersama Nata. Dia menyambut uluran
tangan Nata, menerima earphone
dan memasangnya di telinga.
Tiba-tiba, Nata mendongak.
Pandangannya dan Annalise bertemu tanpa sengaja. Annalise jadi salah tingkah,
lalu menunduk malu. Ketika ia mengangkat muka, Nata sudah mengambil kembali earphone-nya
dari gadis itu. Tiga detik kemudian, bel pertama berbunyi. Nata mengambil
tempat duduk tepat di belakangnya. Annalise menyembunyikan wajahnya yang
memerah walau dia yakin Nata tidak akan bisa melihatnya.
Cewek yang tadi berdiri di
samping Nata justru duduk di samping Annalise. Dia memperhatikan Annalise
sejenak, lalu pertanyaan itu tersembur begitu saja dari mulutnya, "Kamu
beneran anaknya Vidia Rossa, kan?"
Pertanyaan itu terdengar
sungguh polos sehingga insting pertama Annalise adalah ingin tertawa daripada
tersinggung, tapi jika dia tertawa pasti akan tidak sopan sekali. Jadi sambil
menahan tawa, Annalise mengangguk serius.
Nata berkomentar singkat
dari belakang. "Niki fans
beratnya Vidia Rossa."
Gadis itu--Niki, mengangguk
antusias. "Bisa minta tanda tangannya gak yah?"
Annalise tersenyum dikulum,
lagi. "Sekarang, Mama lagi tour
ke Paris. Nanti ya kalau udah balik, aku mintain tanda tangannya
untuk kamu." Mata Niki membulat kagum. Annalise sadar sesuatu, lalu
menjulurkan tangannya. "Oh ya, aku Annalise. Pleasure to meet you."
Niki menyambut jabatan
tangannya dengan senyum lebar. "Aku Alyssa. Panggil aja Niki."
Nata menggeleng-geleng
ringan. "Hati-hati sama Niki, nanti diterkam. Dia mengoleksi segala hal
yang berbau Vidia Rossa."
Yang diledek memukul lengan Nata
dengan lembut, lalu mencubitnya. Annalise merasakan kedekatan mereka, mungkin
mereka teman baik, atau bahkan... pacar?
"Niki sahabat gue,
sejak kecil." Nata berkata lagi dengan tiba-tiba seakan bisa membaca
pikirannya. Annalise bersemu merah sekali lagi, lalu mengangguk mengerti.
"Kemarin, belum sempat
tur keliling sekolah, kan?" Niki berkata sambil tersenyum. "Nanti,
pas istirahat siang, aku tunjukin tempat-tempat rahasia sekolah ini, dari
tempat makan bakso paling enak sampai tempat bolos paling oke."
Annalise menyanggupi tanpa
banyak bicara. Sejujurnya, dia tidak berharap banyak untuk persahabatan ini,
toh Annalise tidak terbiasa memiliki sahabat. Setiap pindah sekolah, selalu ada
teman-teman lama yang ditinggalkannya, juga orang-orang baru yang harus dikenalnya.
Awalnya dia terus berkoresponden dengan beberapa teman lamanya, tetapi
lama-kelamaan rutinitas menulis e-mail
untuk satu sama lain semakin berat dan mereka hilang kontak begitu saja. Sejak
saat itu, Annalise tidak ingin terlalu dekat dengan remaja-remaja
seumurnya--dia benci rasa kehilangan ketika akhirnya harus mengucapkan selamat
tinggal.
"Kamu mau ikut
ekstrakulikuler apa?" Gadis di sampingnya mulai berbicara lagi.
Sepretinya, dia tidak pernah kehilangan energi. "Di sini ada kelas
melukis, memasak, olahraga, band,
sampai cheerleading."
Sambil membusungkan dada, Niki melanjutkan dengan nada bangga, "Aku
anggota cheers.
Kamu mau ikutan? Dengan postur tubuh seperti kamu, pasti gampang banget jadi
anggota."
Annalise tidak ingin
menjawab bahwa jadi pemandu sorak adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.
Mereka semua tidak tahu seberapa buruknya dia dalam olahraga, apa pun jenisnya.
Dia tidak bisa memegang raket dengan benar, selalu gagal memasukkan bola ke
dalam gol maupun keranjang, selalu lari paling lambat, dan dengan ceroboh jatuh
karena tersandung kaki sendiri. Jadi cheerleader?
Bisa-bisa semua orang mati ketawa melihatnya berlaga di atas panggung dengan
pompom rafia warna-warni dan gerakan patah-patah.
"Ada kelas
fotografi?"
"Ada." Nata yang
menjawab. "Tahun ini anggota klub fotografi mau bikin galeri kecil untuk
pentas seni."
Hati Annalise melambung, dan
segera dia teringat pada kameranya yang sudah lama tidak menjepret foto.
"Kalau begitu aku akan bergabung dengan klub fotografi."
Niki kelihatan sedikit
kecewa. "Padahal, kamu pasti cocok banget jadi cheerleader."
"Nanti aku foto kalian
para cheerleader
aja deh." Annalise menawarkan, dan dengan cepat semangat Niki pulih.
"Kamu bisa jadi modelnya."
Tangannya sudah gatal ingin
memotret. When you
take a photograph of someone, you take a potrait of their soul,
begitu ayahnya sering berkata. Annalise ingin mengunci ekspresi di wajah Niki,
semangatnya yang berkobar-kobar dan wajah polosnya yang manis. Wajah
orang-orang asing di sekitarnya, yang merupakan objek fotografi paling menarik.
Lalu, wajah Nata, sorot matanya yang tajam, garis wajahnya yang tegas, dan
senyumnya yang belum pernah benar-benar tampak sebelumnya.
Jika dia tersenyum, Annalise
ingin menyimpan kenangan ekspresi itu melalui lensa.
***
Wish #4: menggaet putri
model internasional dalam tim cheers (Helena)
Helena membuka halaman demi
halaman majalah Vogue-nya
yang terbaru, diam-diam matanya mengikuti gerak-gerik gadis yang sedang asyik
tenggelam dalam bacaannya di sudut perpustakaan yang sepi. Annalise Putri, sang
murid baru itu, tampak tidak memedulikan keadaan sekelilingnya. Beberapa hari
ini, dia memang lebih sering terlihat sendirian, atau sesekali bersama Niki dan
teman cowoknya, Nata.
Helena mengulang kata-kata
yang ingin diucapkannya kepada Annalise sekali lagi dalam kepala, lalu berjalan
menghampiri meja Annalise. Bunyi keras hak sepatunya yang mengetuk lantai sama
sekali tidak menyebabkan Annalise mengangkat kepala, sepertinya bakan tidak
sadar Helena telah berdiri di hadapannya.
Helena berdehem. Baru
setelahnya Annalise mendongak dengan ekspresi terganggu yang samar. Delicate, Helena
memutuskan kata itulah yang tepat untuk menjelaskan rupa Annalise, walau dia
sendiri enggan mengakuinya. Annalise terlihat seperti porselen, mudah pecah
jika disentuh.
"Hai." Helena
menyapa dengan senyum terbaiknya. Biasanya, murid-murid lain akan segera
meleleh ketika melihat senyum itu, mungkin bangga karena gadis sepopuler
dirinya mau menyapa mereka. Namun, Annalise hanya menatapnya dengan ekspresi
yang sama, sama datarnya dengan ekspresi yang pernah diberikan Nata saat Helena
menyapanya pada hari pertama mereka bertemu. Pipi Helena memanas, dan dia
memutuskan untuk langsung ke inti pembicaraan.
"Gue dateng khusus
untuk mengundang lo masuk ke tim cheerleader.
Biasanya, orang-orang harus ngelewatin audisi ketat untuk bisa gabung ke tim
kita, tapi gue bersedia untuk ngasih lo sebuah kesempatan langka."
Mata Annalise mengerjap
seakan tidak percaya. Untuk sesaat, Helena merasa yakin dia telah berhasil
menggaet anak Vidia Rossa ke dalam grup elitenya, yang terdiri dari anak-anak
paling populer di sekolah mereka. Awalnya, dia memang antipati terhadap Annalise
karena perhatian murid-murid SMU Harapan berpindah dari dirinya. Tapi, Helena
tahu, dengan titel Annalise sebagai anak supermodel internasional yang
terkenal, grupnya akan semakin solid.
Dia sendiri, sebagai tombak, sudah lama berkiprah sebagai model print media
maupun iklan televisi sejak usianya lima tahun, mengikuti jejak karier sang ibu
yang pernah menjadi model terkenal juga pada masa jayanya. Tapi, Annalise tidak
berkata apa-apa, seakan sedang memikirkan jawaban yang tepat untuknya.
"Gimana?" desak Helena.
"Kalo ikut tim gue, lo gak akan lagi sendirian di perpustakaan yang sumpek
seperti sekarang. Lo akan dapet akses ke semua a-list parties yang ada, dan hangout dengan
orang-orang terkenal. You
won't regret this."
Yang tidak disangkanya
adalah senyum sopan Annalise yang disusul dengan gelengan kepala. "thanks for the invite, but
no."
Tidak? Helena berkedip dan
membuka matanya perlahan, ingin memastikan penolakan itu. Mayoritas populasi
sekolah ini memilih popularitas dibanding nilai bagus. Kesempatan semacam ini
hampir tidak pernah diberikannya secara cuma-cuma kepada siapa pun, bahkan
setelah mereka memohon. Masih banyak gadis di sekolahnya yang berusaha sebisa
mungkin untuk menjadi bagian dari gengnya, tapi Annalise masih berkutat dengan
ekspresi yang sama, menandakan pembicaraan mereka sudah selesai. Tidak tahu apa
yang harus dilakukannya, Helena memaksakan senyum dan berkata, "Too bad."
sebelum meninggalkan perpustakaan dengan langkah panjang.
Sialan, dengusnya berulang-ulang
dalam hati. Sial.
Memangnya dia
kira, dia siapa? Mentang-mentang anak orang terkenal.
Tidak banyak orang yang
berkata tidak pada Helena. Dan, ketika dia bertemu dengan orang-orang yang
melakukannya, Helena tidak akan pernah melupakannya.
***
Annalise menatap Helena
berjalan menjauh dengan bingung. What's
with everybody? Kenapa mereka niat sekali mengajaknya bergabung
dengan tim cheerleading?
Setidaknya, dia yakin motif Niki lebih bersahabat daripada Helena karena di
mata Niki dia hanya melihat excitement
dan ketulusan, sedangkan dalam ekspresi Helena dia melihat sesuatu yang lain. Annalise
sering melihatnya dalam pandangan mata orang-orang yang ditemuinya sejak kecil
saat ia mengikuti Mama untuk sesi pemotretan--baik itu para wartawan yang
menguntit, sesama model, atau manager
Mama yang sering berganti-ganti.
Kemungkinan besar perkataan Niki
benar, mereka semua menginginkan Annalise dalam tim cheerleading karena postur tubuhnya
yang jangkung--hampir melebihi seratus delapan puluh sentimeter di usia enam
belas, dan dia tahu perkembangannya tidak berhenti sampai di situ saja.
Sejujurnya, Annalise tidak pernah nyaman terperangkap dalam tubuhnya
sendiri--terlalu jangkung sehingga dia cenderung membungkuk ketika berbicara
dan berjalan di samping orang-orang yang lebih pendek daripada dirinya. Belum
lagi berat badannya yang tidak pernah meningkat drastis apa pun yang
dimakannya, a
blessing for most people, a curse for her. Kadang, Annalise merasa
dirinya hanya dibalut kulit dan tulang.mengapa dia tidak bisa lebih seperti
mamanya?
"Anna!"
Seruan itu membuatnya
tersentak lagi. Niki sedang berdiri di pintu perpustakaan melambai-lambai riang
sambil berusaha meminta maaf kepada penjaga perpustakaan yang menegurnya karena
terlalu ribut. Nata berdiri di belakangnya, memunggungi pintu dengan sebuah
bola basket di tangannya.
"Main yuk!"
Annalise tersenyum lagi,
kali ini tanpa paksaan. Entah mengapa dia merasa gembira berada di antara Nata
dan Niki, padahal mereka belum saling mengenal dengan baik. Niki selalu
mengikutsertakannya dalam segala sesuatu, sedangkan Nata mendukung dari
belakang. Mereka berdua tidak pernah menganggapnya selebritas, bersikap apa
adanya, tanpa pretensi.
Annalise menutup buku Anna Karenina
yang sedang dibacanya, lalu beranjak keluar dengan perasaan ringan.
***
DHANNY
Dhanny terbangun oleh bunyi
berisik yang muncul dari lantai bawah. Ia mengucek mata untuk mengusir sisa
tidur, lalu beranjak bangun sambil mengusap rambutnya yang mencuat ke
mana-mana.
"Nat!"
Dipanggilnya adik bungsunya melalui tangga yang meliuk ke arah ruang keluarga
di lantai dasar. Tidak ada jawaban. Tanpa mengenakan kaus untuk menutupi
dadanya yang telanjang, dia menelusuri tangga dengan langkah lebar-lebar. Siapa
sih yang mengganggu tidurnya pagi-pagi begini? Sudah pukul sepuluh lewat sih,
tapi hari Sabtu kan jatahnya tidur sampai siang.
Nata tidak ada di bawah,
tapi seorang gadis sedang membuat minuman di dapur. Dia berdiri membelakangi Dhanny,
mengenakan sepasang faded
denim dan kemeja putih yang agak gombrong. Rambutnya panjang
mencapai punggung. Dhanny mengerenyit. Siapa nih orang asing yang tiba-tiba ada
di dalam rumah?
Tiba-tiba, cewek itu
berbalik dengan gelas minumannya, dan hampir menjatuhkannya karena kaget. Tidak
lama kemudian tampaknya dia baru menyadari bahwa Dhanny masih mengenakan piyama
tidur kotak-kotak tanpa kaus, dan pipinya memerah.
"Kamu siapa?" Dhanny
bertanya dengan suara berat oleh kantuk. "Nata mana?"
Gadis itu menunjuk tanpa
suara ke arah perpustakaan keluarga, yang juga dijadikan ruang kerja dan
belajar. Dia lalu berlari keluar, melupakan gelasnya.
Dhanny mengambilnya dari
atas dipan. Teh herbal dengan banyak es batu. Sambil mengingat-ingat wajah
gadis tadi, Dhanny menyeruput tehnya tanpa banyak bicara, lalu menjulurkan
lidah. Pahit.
***
Annalise baru menyadari
bahwa dia meninggalkan gelas minuman yang tadi dibuatnya di atas dipan. Tapi,
kembali ke dapur untuk mengambilnya akan terlihat konyol sekali, jadi dengan
serba-salah dia kembali menarik kursi dan mencoba berkonsentrasi dengan buku
pelajarannya.
"Kenapa, kok
buru-buru?" Niki yang kebingungan melihat gelagat Annalise bertanya
penasaran, bertopang dagu sambil mengerjakan bagiannya dalam tugas kelompok
sejarah yang jadi PR mereka minggu ini. Mereka bertiga sedang berkumpul di
rumah Nata untuk menyelesaikannya.
Annalise menggeleng cepat.
Dia masih ingat muka cowok yang masih ngantuk tadi, menyapanya santai dengan
keadaan setengah telanjang. Ini pertama kalinya dia melihat seorang laki-laki
selain Papa bertelanjang dada, dan tiba-tiba saja dia jadi malu setengah mati.
Rambut laki-laki tadi dipotong cepak dengan gaya tentara, ujungnya yang
memanjang berdiri lancip. Usianya kurang lebih dua puluh, terlihat seperti Nata
dalam versi dewasa. Tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya, dia bertanya
pada Nata, "Kamu punya kakak laki-laki, ya?"
Nata mengangkat muka sebentar
untuk menjawab, "Iya."
"Tadi kamu ketemu Kak Dhanny?"
Niki mulai menginterogasi dengan senyum nakal, sejenak melupakan tugas yang
masih belum diselesaikannya. "Kaget ya? Kak Dhanny memang ganteng,
sih."
Dhanny Jonathan--alias Kak Dhanny,
adalah cinta monyet Niki. Bagi Niki, tetangga sebelah yang lebih tua beberapa
tahun darinya itu selalu jadi sebuah misteri. Dhanny akan pergi dengan
teman-temannya yang keren sampai malam, bisa mengendara mobil ke mana-mana
sendirian, dan sering latihan basket di garasi luar, sambil memamerkan
lemparannya yang jitu. Sementara, dia dan Nata hanya bisa bersepeda keliling
kompleks, mengerjakan PR bareng, atau nonton di mal dan pulang sebelum pukul
sembilan. Membosankan.
"Nat, Kak Dhanny udah
punya pacar belum sih?" Tiba-tiba, Niki ingin tahu.
Nata mengangkat bahu dengan
tak acuh. "Kayaknya, gak ada. Banyak, sih, yang suka nelepon, tapi belum
ada yang dikenalkan secara resmi.
Waktu Nata dan Niki masih
SMP, Dhanny pernah punya pacar yang cantik, namanya Sivia. Niki yang
mengidolakan Dhanny sempat kecewa bukan main, tapi dengan cepat berbalik
mendukung pasangan itu dan menjadikan mereka sebagai ikon cinta yang sempurna.
Ia memata-matai mereka berdua, menyaksikan Dhanny menggandeng Sivia, sampai
ciuman pendek mereka di depan pintu, ketika mereka kira tidak ada yang melihat.
"Ngomong-ngomong, Kak
Sivia ke mana ya sekarang?"
Nata berhenti menulis
sesuatu di bukunya. "Gak tau, gak pernah denger kabarnya lagi."
Tepat satu setengah tahun
setelah Dhanny dan Sivia jadian, Niki tiba-tiba menyadari bahwa gadis itu sudah
tidak pernah muncul lagi. Biasanya setiap Sabtu, mereka akan keluar bersama,
kadang bahkan memberikan tumpangan pada Nata dan Niki supaya bisa ke mall. Tapi Sivia
sama sekali tak pernah datang lagi, dan baik Niki maupun Nata tidak pernah
benar-benar menyanyakannya pada Dhanny. Cowok itu pun sepertinya tidak ingin
membahasnya.
"Menurut kamu, kenapa
ya dia gak pernah datang lagi ke sini?"
"Mungkin putus."
Annalise merasa kurang
nyaman mendengarkan kisah pribadi seseorang yang tidak dikenalnya, tapi dia
diam saja. Niki menarik napas panjang. Nata menatapnya dengan pandangan aneh.
"Kenapa, sih, lo
penasaran banget sama urusannya Kakak? Gue aja sebagai adiknya nggak pernah
nyanya-nanya begitu."
Niki cemberut mendengar
sindiran Nata. "Heran deh Nata, selalu pedes omongannya. Kak Dhanny kan
udah seperti abang betulan buat aku, jadi wajar dong kalau aku peduli?"
Nata menggeleng.
"Menurut gue, itu bukan urusan kita."
"Terserah." Niki
berhenti menulis dan berpura-pura sibuk membaca komiknya, sebuah aksi ngambek
setiap kali Nata membuatnya kesal. Nata menghela napas, lalu beranjak untuk
mengambil segelas teh dingin, minuman kesukaan Niki. Hitung-hitung sesajen,
supaya Niki tidak marah terlalu lama.
Annalise terdiam, kali ini
tidak berusaha melerai. Tanpa disadarinya, ia kembali memikirkan spekulasi Niki
mengenai kisah cinta Dhanny. Cowok tadi... pasti menyimpan sebuah luka yang
kelam.
***
Wish #5: kembali ke masa
lalu (Dhanny)
Dhanny membuka sedikit tirai
di kamarnya, menjulurkan kepala untuk mengintip Nata dan Niki yang sedang
mengantar kepergian teman mereka, gadis yang tadi ditemuinya di dapur. Gadis
itu melambaikan tangan melalui jendela belakang mobil hitamnya sebelum pergi. Niki
lalu mengikuti Nata ke kebun belakang untuk santai-santai di trampolin usang
kesukaan mereka.
Waktu masih kecil dulu, Niki
paling senang merepotkan dia dan Nata. Mereka kakak beradik sibuk menemani Niki
main, walau Nata paling ogah main boneka-bonekaan. Nata dan Dhanny juga yang
mengajari Niki main sepatu roda dan skateboard
walau Nata kesal kalau Niki jatuh lalu menangis. Lalu ketika mereka beranjak
dewasa, Dhanny mulai menemukan teman-temannya sendiri, meninggalkan Nata dan Niki
yang baginya seperti anak kecil dibanding teman-teman barunya.
Namun, sekarang Nata dan Niki
sudah besar. Nata saja kini sudah hampir setinggi dirinya, dengan pendapatnya
sendiri, tindakan memberontaknya, dan kesukaannya pada musik. Sementara Niki,
dia sudah tumbuh menjadi perempuan muda yang bersemangat. Dhanny selalu
menganggapnya sebagai adik yang disayanginya, apalagi dia tidak punya saudara
perempuan.
Wajah gadis indo tadi
kembali muncul di benaknya. Sosok dan posturnya sedikit mengingatkan Dhanny
akan seseorang di masa lalu yang menguak luka lama. Dhanny menutup tirai, lalu
mendesah. Kalau sedang sendu begini, kadang-kadang dia akan teringat pada
Sivia. Waktu SMU dulu, mereka juga pernah seceria Nata dan Niki, mengira bahwa
mereka bisa mengatasi apa saja.
Butuh sebuah pengorbanan
bagi Dhanny untuk menyadari bahwa cinta tidak seperti dongeng yang selalu
berakhir bahagia.
***
Nata berhenti memetik gitar
ketika pintu kamarnya diketuk dua kali. Pasti Dhanny. Hanya abangnya yang punya
kebiasaan itu; orangtuanya selalu menerobos masuk kamar Nata tanpa merasa perlu
mengetuk dulu.
"Mau makan, nggak? Mami
sama Papi belum pulang. Macaroni and cheese, yuk?"
"Boleh." Nata
meletakkan gitarnya dan mengikuti Dhanny ke dapur. Makaroni keju adalah makanan
favorit mereka berdua. Setiap kali orangtua mereka pergi, Dhanny dan Nata pasti
camping
di depan televisi sambil makan sebanyak-banyaknya.
Nata tidak banyak komentar
saat Dhanny menyetel saluran ESPN sambil menunggu makanannya matang. Dia memang
tidak terlalu suka nonton acara olahraga.
"Tadi, cewek bule yang
datang ke sini itu siapa?"
"Annalise." Nata
menjawab tanpa menoleh. "Murid baru di kelas kita, pindahan dari Amerika. Anna
itu anaknya Vidia Rossa, model terkenal yang digandrungi Niki."
"Oh, pantesan anaknya
juga kayak model," komentar Dhanny. "Niki pasti seneng banget. Kalian
masih sekelas, kan?"
"Iya," kata Nata,
sambil meraih mangkuk makaroni yang masih hangat.
"Sekarang Niki cantik,
ya. Pasti banyak yang naksir."
Nata spontan menoleh. Jadi
bukan hanya dia yang menyadari perubahan pada gadis yang satu itu. "Kami
cuma sahabatan kok," jawabnya defensif tanpa berpikir dua kali.
Sekilas ekspresi bingung
melintasi wajah Dhanny, tapi lalu dia tersenyum. "Aku, kan, nggak bilang
apa-apa." Melihat Nata mulai memerah dan tidak nyaman, Dhanny menggoda
lagi, "Memangnya kalian pacaran? Atau jangan-jangan kamu lagi yang naksir
sama dia."
Kali ini, Nata benar-benar
terpojok. Dia pura-pura sibuk dengan acara televisi, padahal dari tadi dia sama
sekali tidak memperhatikan tim sepak bola mana yang sedang memimpin skor.
"Kalau memang suka,
harus dikejar." Dhanny berkomentar iseng, geli sendiri melihat perubahan
sikap adiknya yang biasa datar menjadi salah tingkah dengan muka semerah
kepiting rebus. "Nanti keduluan cowok lain, lho."
"Sudah kubilang kami
cuma sahabatan," bantah Nata.
Dhanny terSarah menertawakan
polah Nata. "Oke, oke." Mereka berdua mencoba duduk diam sambil
mengunyah makaroni, tapi tawa kecil Dhanny masih belum surut juga.
Ekspresi Nata berubah keruh,
lalu dia melemparkan sebuah bantal ke arah abangnya dengan kesal. "Udah
ah, Kak! Jangan ketawa lagi!"
Dhanny malah jadi tidak
mampu menahan tawa, dia tergelak bebas sambil menikmati ledakan emosi yang
jarang muncul pada wajah adiknya. Gemas, malu, dan gengsi sekaligus. Nata
benar-benar kena batunya.
**
FRIENDSHIP
Niki menunduk dan menyentuh
ujung sepatunya dengan jari-jari terentang. Latihan cheers hari ini lebih berat dari
biasanya, sebagian besar karena pertandingan basket antar-SMU yang
diselenggarakan setiap tahun sudah dekat. Mereka semua harus berlatih ekstra
keras untuk formasi piramida baru yang akan dilakukan pada pertandingan
tersebut. Niki mengusap keringat dan merasakan otot-ototnya meregang, lalu
bangkit untuk membereskan barang-barangnya.
Tidak jauh dari tempatnya
berdiri, Vanya, Linny, dan Sara sedang duduk bersila, membolak-balik halaman
majalah Elle
terbaru yang dipesan khusus dari luar negeri.
"Liat deh, flats Chanel
keluaran terbaru. Ini model sepatu yang dipake anak baru itu, kan?"
"He eh. Sayang anaknya
sombong banget. Belagu, nggak pernah mau gabung sama kita-kita. Mentang-mentang
nyokapnya model terkenal."
Niki mengangkat muka,
sedikit terganggu dengan topik obrolan itu. "Maksud kalian Annalise?"
Linny mengangguk, mulutnya
sibuk mengunyah permen karet. "Iya, temen sebangku lo itu."
"Anna memang pendiam,
tapi nggak sombong seperti yang kalian bilang. Mungkin karena dia belum
terbiasa di lingkungan baru, namanya juga baru pindah ke Jakarta setelah
bertahun-tahun tinggal di luar negeri."
Vanya mengerenyitkan alis
tanda tidak setuju. "Lo tau nggak sih, Helena pernah ngajak dia buat
gabung tim cheers
dan responnya nyebelin banget. Padahal kan, maksud kita-kita baik. Ya nggak,
Priss?
Helena yang baru saja
menyelesaikan stretching-nya
hanya tersenyum. "No
big Vanyal-lah, kalau masalah ini. Yang penting gue udah mencoba
ramah sama dia."
"Gue gerah aja ngeliat
orang kayak begitu. Sok tajir, borju, trus pilih-pilih temen. Gue jadi skeptis,
bener nggak sih dia anaknya Vidia Rossa?" Sebelum Niki sempat protes, Linny
sudah menyambung, "Kita semua nggak pernah denger dia nyebut nama Vidia
Rossa sekali pun. Pas pertemuan guru murid tempo hari, nggak ada pihak
orangtuanya yang dateng. Setiap hari pulang-pergi dengan sopir. Nggak ada yang
tau di mana dia tinggal, dan sama siapa. Lo kan temennya, Ki, masa, sih, dia
nggak pernah cerita apa-apa?"
Niki menelan kembali
pembelaan diri yang sudah berada di ujung lidah. Selama ini, setiap kali dia
bertanya mengenai Vidia Rossa, Annalise cenderung menghindari pertanyaannya dan
hanya menjawab seperlunya. Jika tidak ditanya, Annalise hampir tidak pernah
bercerita mengenai keluarga maupun dirinya sendiri. Kalau dipikir-pikir, selama
beberapa saat mereka berteman, Niki tidak tahu banyak hal mengenai Annalise.
"Kita, kan, nggak punya
bukti kalau semua itu bohong," protesnya lemah.
Helena menyentuh lengan Niki,
lalu berkata lembut, "Kita bukannya nuduh Annalise bohong, Ki. Justru
karena nggak ada bukti itulah, kita jadi curiga. Kita cuma mau nolong, kok, mau
jadi temannya. Tapi, kita nggak bisa bantu seseorang yang nggak mau jadi temen
kita."
Niki tidak lagi mendengarkan
ketika teman-temannya melanjutkan gosip mengenai anak kelas sebelah yang
katanya menderita bulimia dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Pikirannya
penuh dengan tanda tanya besar. Dia tidak percaya Annalise berbohong, tapi juga
sepenuhnya mengerti alasan Helena berkata begitu. Tanpa sepatah kata lagi, Niki
menyandang tasnya dan beranjak ke luar.
***
Nata sedang berbaring di
atas bangku panjang di samping kebun sekolah dengan kedua mata terpejam ketika Niki
menghampirinya dengan sebutir apel hijau, snack
hariannya setiap selesai latihan. Gerak-geriknya gelisah dan tidak bisa diam,
mengganggu Nata yang separuh terlelap. Akhirnya, Nata mengambil posisi duduk
dan merengut ke arah Niki.
"Kenapa, sih?"
Niki tidak segera menjawab.
Tidak lama kemudian, ia membalikkan pertanyaan lain. "Nat, menurut kamu, Anna
bohong nggak, sih, sama kita?"
Pembicaraanya tadi dengan Helena
dan teman-temannya mengalir keluar begitu saja dari mulutnya. Nata berdecak
tidak setuju, geram karena sejak dulu dia tidak suka Niki bergaul dengan geng
tersebut. Menurutnya, cewek-cewek seperti Helena selalu menganggap diri mereka
lebih baik dari orang lain. Tapi, Niki tidak terlalu menghiraukannya, karena
tanpa Helena, Niki tidak akan bisa bergabung dengan tim cheers yang
begitu diidolakannya.
"Menurut lo, Anna itu
pembohong, bukan?" tanya Nata akhirnya.
Setelah terdiam beberapa
saat, Niki menggeleng. "Aku cuma ngerasa dia nyembunyiin banyak hal dari
kita."
"Menurut gue, semua
orang pasti punya masalah yang nggak ingin diceritakan sama orang lain, begitu
juga dengan Anna. Kita nggak perlu mikir macem-macem."
Niki mencerna kata-kata Nata,
lalu menggumam, "Aku ngerti. Yang penting, kita akan selalu ada buat dia
saat dia membutuhkan teman, iya kan, Nat?"
Nata mengangguk, kemudian
kembali berbaring untuk melanjutkan tidur siangnya. Jika seseorang memiliki
sesuatu yang ingin dirahasiakan, dia tidak akan memaksa untuk mengetahui apa
itu. Lagi pula, dia mengerti, karena dirinya sendiri mempunyai sebuah rahasia
yang tidak ingin diungkapkannya kepada siapa pun.
***
Wish #6: bertemu mama (Annalise)
Annalise melirik jam yang
melingkari pergelangan tangannya dengan resah. Sebentar lagi bel pelajaran
kelima akan berdering. Sejujurnya, dia sudah tidak sabar lagi untuk segera
pergi dari sana.
Hari ini adalah hari ulang
tahunnya yang ketujuh belas. Angka yang menunjukkan kedewasaan, dan merupakan
hari yang biasanya dirayakan secara besar-besaran oleh kebanyakan remaja
seumurnya. Namun, yang Annalise inginkan bukan pesta mewah dan gaun lansiran
rumah mode ternama, hanya seseorang yang menghabiskan hari istimewa itu
bersamanya.
Waktu Annalise masih kecil,
Mama selalu menemaninya merayakan hari ulang tahunnya. Untuk memperingati hari
spesial itu, biasanya Mama akan memasak, sesuatu yang jarang beliau lakukan.
Mereka berdia akan membuat kue cokelat dan meniup lilin bersama-sama, lalu
menonton film-film lama sampai malam. Tapi, pada hari yang sama empat tahun
yang lalu, Mama harus menghadiri sebuah fashion
show penting di Paris. Sejak saat itu, Annalise tidak pernah lagi
merayakan hari ulang tahunnya bersama Mama.
Bel tanda berakhirnya jam
istirahat berbunyi nyaring dan murid-murid mulai berhamburan masuk ke kelas,
diikuti dengan Nata dan Niki yang sedari tadi sedang mengobrolkan sesuatu
mengenai acara pentas seni. Annalise tidak terlalu memperhatikan apa yang
sedang mereka katakan hingga Niki menyentuh pundaknya ringan, membuatnya terlonjak
kaget.
Nata dan Niki bertukar
pandang sekilas.
"Ada apa, Ann? Kok,
kayaknya cemas banget?" Suara Niki yang terdengar khawatir membuatnya kian
gelisah.
Annalise tidak tahu apakah
dia harus memberi tahu kedua teman barunya perihal rencananya untuk membolos
pelajaran. Dia ingin sekali menjemput Mama, yang semalam menelepon untuk
memberikan kabar baik mengenai kepulangannya ke Jakarta. Semangat Annalise
melambung jika mengingat Mama sepertinya sengaja memilih hari ulang tahunnya
sebagai hari kepulangan, apalagi sudah hampir dua bulan dia tidak bertemu Mama.
"Ada hal penting yang
harus kamu lakukan?"
Pertanyaan Nata yang tepat
sasaran membuatnya terhenyak. Cowok itu berdiri dengan sebelah tangan dalam
saku, memandangnya dengan serius. Entah mengapa Annalise merasa tenang,
mengetahui dengan jelas apa yang ingin dan akan dilakukannya. Sebuah pertanyaan
terlontar begitu saja dari bibirnya, mengejutkan dirinya sendiri.
"Ya. Kalian mau
ikut?"
***
Mereka bertiga duduk di
sebaris bangku kayu di tengah bandara yang dingin, masing-masing menggenggam
gelas minuman plastik yang sudah separuh kosong. Sudah tiga jam mereka duduk di
sana, tapi yang ditunggu belum juga keluar.
"Pesawatnya terlambat,
kali." Niki berusaha beralasan ketika melihat muram di wajah Annalise.
"Atau mungkin dibatalkan."
"Nggak mungkin, Ki."
Annalise menunjuk layar besar yang menunjukkan jadwal penerbangan hari itu.
"Pesawat dari Paris udah mendarat dari tadi."
"Mungkin bukan pesawat
yang itu." Nata, yang mulai merasa iba ikut nimbrung. "Gimana kalau
kita tanya petugasnya?"
Mereka mengelilingi seorang
petugas yang tampak kebingungan menjawab pertanyaan mereka. Akhirnya, mereka
kembali duduk dengan kecewa.
"Kita tunggu sebentar
lagi, ya." Niki mencoba menghibur Annalise, lalu cekikikan sendiri.
"Kira-kira, bakal gimana ya di kelas? Untung kita bolos pas pelajaran
Kimia. Aku paling nggak bisa menghitung rumus-rumusnya yang ngejelimet."
Annalise mau tidak mau
tersenyum, merasa terhibur oleh kehadiran Nata dan Niki. "Maaf ya, kalian
jadi ikut membolos...."
Ekspresi Niki berubah
serius. Perlahan, digenggamnya tangan Annalise. "Ann, apa pun yang
terjadi, cerita, dong, sama kita. Baik susah maupun senang, kabur dari sekolah
atau belajar bareng, libatkan kita, ya. Kita kan sahabat."
Dari sudut matanya, Annalise
melihat anggukan samar Nata. Sahabat.
Kata itu begitu asing baginya, sesuatu yang lebih intim dari kata teman yang biasa
digunakan, tapi dia merasa sahabat adalah kata yang tepat untuk menjelaskan
hubungan mereka bertiga.
"Selama ini Niki
khawatir," timpal Nata, "Dikiranya kamu nggak mau temenan sama
kami."
"Sebenernya kamu juga
khawatir, kan, Nat?" sahut Niki tak mau kalah.
Mereka tertawa. Annalise
menggigit bibir dengan rasa bersalah. "Maaf ya, aku nggak pernah sadar
kalian ngerasa begitu. Sejak dulu, aku nggak punya banyak teman. Bisa dibilang,
kalian adalah sahabat pertamaku."
Tiba-tiba, telepon
genggamnya berdering. Suara Tante Nadja, adik Mama yang tinggal bersamanya
sejak kepulangan mereka ke Jakarta, terdengar lebih khawatir daripada marah.
"Anna, kamu di mana? Pak Saryo bilang kamu nggak ada di sekolah."
Annalise menepuk dahi,
menyadari kelalaiannya tidak mengabari sopir yang selalu menjemputnya sepulang
sekolah. "Maaf Tante, aku lupa telepon. Aku lagi di air port, mau
jemput Mama. Tapi, sampai sekarang masih belum keluar."
Tante Nadja seperti
terhenyak di ujung sambungan telepon. Suaranya melembut ketika kembali bicara.
"Anna, barusan mamamu mengabari, katanya nggak jadi pulang hari ini karena
mau ke Milan dulu sampai bulan depan."
Annalise merasa kebas
seketika. "Mama... ada nitip pesan?"
Keraguan tantenya untuk
menjawab pertanyaan itu membuatnya yakin bahwa Mama sama sekali tidak ingat
pada dirinya. Dengan lemas, ia menutup telepon.
"Kenapa?" Niki,
yang duduk di sebelahnya segera menoleh untuk melihat reaksinya.
"Mama nggak jadi
pulang," jawab Annalise.
Seperti orang bodoh saja,
menunggu berjam-jam lamanya untuk seseorang yang tidak akan datang. Seharusnya,
dia tidak terlalu terkejut, karena sudah beberapa kali Mama membatalkan janji
sebelumnya.
Annalise mencoba meyakinkan Niki
dan Nata bahwa dia baik-baik saja, tapi dia tidak mampu memaksakan senyum.
Tanpa terasa, pandangannya memburam, dan ia menutupi wajah dengan kedua telapak
tangan sambil terisak pelan. Secara otomatis, Niki mengusap-usap punggungnya
yang bergetar oleh tangis. Nata juga terdiam, Annalise merasakan tangannya yang
besar ikut menepuk pundaknya.
"Maaf...." Annalise
berkata tersendat sambil berusaha menghapus air mata, tidak mampu mengungkapkan
Saracewaannya dengan kata-kata.
Tatapan Nata dan Niki tidak
menyiratkan rasa kasihan, tetapi rasa sedih... seakan mereka juga merasakannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Niki mendekat untuk memeluk Annalise, menopang
sebagian rasa sakit yang dirasakannya. Mereka bertiga duduk berpelukan di
tengah bandara, berusaha mengisi kekosongan hati satu sama lain.
***
Pak Marwan, sang guru Kimia,
berdiri di depan papan tulis dengan raut tidak senang. Tongkat yang sering
digunakannya untuk menunjuk rumus diayun ke kiri dan kanan, kacamatanya yang
jadul melorot ke hidung. Matanya menyipit penuh konsentrasi, memandang tiga
murid nakal yang kemarin membolos mata pelajarannya.
Nata, Niki, dan Annalise
berdiri dengan muka ditekuk, tidak berani memandang langsung ke arah Pak
Marwan. Namun, begitu beliau berbalik, mereka saling menyikut sambil
menyembunyikan tawa.
"Apa alasan kalian
membolos?" Pernyataan itu diucapkan sebagai pertanyaan.
Mereka bertiga kembali
memasang ekspresi bersalah, tetapi tidak ada yang menjawab. Baik Nata maupun Niki
bungkam.
"Kenapa tidak ada yang
menjawab? Apa pelajaran saya begitu membosankan hingga kalian semua memilih
untuk bolos?" Pak Marwan menepukkan tongkatnya ke telapak tangan, lalu
kembali bertanya, "Atau kalian merasa sudah pintar dan tidak perlu ikut
kelas ini lagi?"
Niki menunduk dan
menyilangkan tangan di balik tubuh, berharap mereka tidak dihukum berat.
Semalam, dia dan Nata sudah diomeli orang rumah karena pulang malam tanpa
mengabari, belum lagi masalah membolos yang ketahuan karena pihak sekolah
menelepon orangtua mereka.
Ia memberanikan diri
mengangkat muka, memasang ekspresi polos. "Maaf, Pak, kami nggak akan
membolos lagi."
"Iya, Pak." Nata
dan Annalise membeo.
"Kalian masih tidak mau
mengatakan alasan membolos kemarin?"
Niki, Nata, dan Annalise
bertukar pandang. "Kami nggak merokok, main-main ke game centre,
atau melakukan hal-hal yang nggak seharusnya, kok, Pak," Nata berusaha
bernegosiasi.
"Iya, Pak, kami nggak
bohong," tambah Niki. "Swear."
Mata Pak Marwan membulat
mendengarnya. Sebelum sang guru tambah mengamuk, Annalise buru-buru menyambung,
"Kemarin mereka membolos gara-gara saya, Pak. Saya yang mengajak."
Ketika mendengar pembelaan
itu, Nata dan Niki segera menyambar, "Bukan, Pak. Kami suka rela kok. Kami
yang salah."
Pak Marwan menghela napas
berat, lalu menggeleng kesal. Tampaknya, tidak ada yang mau mengungkapkan
alasan yang sesungguhnya. Walaupun begitu, ia percaya pada ketiga muridnya—Nata
dan Annalise selalu mempertahankan nilai baik, sedangkan Niki belajar keras
untuk tidak mendapat nilai di bawah angka enam.
"Ya sudah. Supaya
kalian kapok, saya akan memberikan hukuman berat."
Niki memejamkan mata,
berharap dia tidak usah disuruh melakukan hal-hal konyol seperti membersihkan
WC, membawa papan bertuliskan 'saya tidak akan bolos lagi', atau lari keliling
lapangan seperti hukuman yang biasa diberikan guru-guru kepada murid yang
nakal.
"Kalian harus mencuci
bus sekolah yang ada di parkiran. Sampai bersih," ujar Pak Marwan akhirnya.
Niki membelalakan mata.
"Hanya itu, Pak?" tanyanya lugu.
"Ya. Asal kalian janji
tidak akan membolos lagi, apalagi saat jam pelajaran saya." Pak Marwan
tersenyum tipis sebelum mengeluarkan mereka dari ruang kerjanya. Gini-gini, saya kan juga pernah
muda, beliau lantas menambahkan dalam hati.
***
Dengan lengan kemejanya, Niki
mengusap keringat yang mengucur. Nata dan Annalise juga bersimbah peluh sambil
terus mencuci bus sekolah yang setiap hari digunakan untuk mengantar-jemput
murid-murid SMU Harapan. Bus bercat kuning, kotor dengan ban berlumpur dan
bagian dalam yang penuh bekas makanan.
"Gila ya, jorok banget
nih, bus. Nggak tau anak-anak buang apa aja di dalamnya." Niki mengerutkan
kening dengan jijik saat menemukan sebentuk permen karet bekas di tepi jendela.
"Jangan leha-leha, udah
mau gelap, nih," gerutu Nata sambil terus menyorokkan kain untuk
membersihkan kaca depan. Lahan parkiran sudah kosong dan hampir semua murid
sudah pulang, sedangkan mereka masih belum menyelesaikan hukuman.
Niki menghela napas, tidak
berhenti mengeluh sembari melakukan tugasnya. Sekarang, dia tahu mengapa Pak
Marwan memilih tugas ini sebagai hukuman. Tadinya, dia mengira hukuman ini akan
lebih ringan dari mencuci kloset atau lari keliling lapangan, tapi ternyata
mencuci bus adalah pekerjaan yang memakan waktu dan tenaga. Tahu begini, tadi
dia akan mencoba bernegosiasi dulu dengan Pak Marwan.
"Udah untung nggak
dimarahi lebih lama," celetuk Nata, seakan bisa membaca pikirannya.
Niki menjulurkan lidah.
"Mendingan diomelin berjam-jam, deh, daripada harus banting tulang kayak
gini. Yang menikmati juga bukan kita, tapi anak-anak yang pulang pergi naik bus
ini."
Annalise bergerak ke
sampingnya untuk membantu. Tiba-tiba, ia berhenti, lalu memandang Niki sejenak
dan tertawa kecil. Nata pun ikut menatapnya dan entah mengapa tersenyum lebar.
"Ada apa, sih?" Niki
mengusap wajahnya dengan bingung. Hal itu hanya membuat kedua temannya tertawa
lebih keras. Penasaran, ia berjalan menuju kaca spion dan memperhatikan
refleksi wajahnya sendiri yang terpantul di sana. Wajahnya terlihat letih dan
kusam, berdebu, dan penuh keringat. Tanpa disadarinya, riasan mata tipis yang
tadi dikenakannya bagaikan lumer dan mengaliri sisi-sisi wajahnya seperti dua
riak sungai. Tatanan yang tadi pagi terlihat cantik kini berantakan.
Biasanya, Niki akan langsung
panik dan buru-buru membersihkan wajahnya, tapi ketika menyadari keadaannya
sekarang—basah kuyup dengan peluh, lelah dan kotor, ia justru mengejutkan
dirinya sendiri dengan tertawa.
Nata menyemprotkan percikan
air dari selang untuk menggodanya, dan Niki berteriak kecil. Dia segera
melupakan riasannya yang hancur untuk membalas Nata, dan menarik Annalise
bersamanya. Mereka bertiga masing-masing memegang lap, saling mengejar, saling
membantu, saling bercanda hingga yang terdengar di parkiran itu hanya tawa.
***
Nata menetap ban sepedanya
yang kempes dengan kecewa. Sepeda itu tadi pagi masih terparkir rapi di bagian
belakang sekolah, tapi sekarang roda di depannya telah rusak tak berbentuk.
"Ini, sih, kena
paku," komentar Niki. Sebuah paku yang lumayan besar memang mencuat keluar
dari salah satu bagian roda yang tak begitu kelihatan. "Kita pulang jalan
kaki aja, deh."
"Aku antar,yuk."
Tiba-tiba, Annalise menawarkan dengan sedikit malu-malu, menunjuk Pak Saryo
yang telah menunggu di depan gerbang.
"Beneran?" Niki
langsung ceria mendengar prospek akan diantar pulang dengan mobil Jaguar hitam
yang beberapa minggu ini jadi objek kekaguman seluruh sekolah.
"Iya. Kalau kalian mau,
kita bisa mampir di rumahku juga."
Niki bersorak gembira, dan Nata
menyikutnya sambil tersenyum. "Niki, sih, kayak kejatuhan durian
runtuh."
"Hehehe." Yang
disindir tersenyum lebar, lalu menggamit tangan Nata dengan lengan kiri dan
tangan Annalise dengan tangan kanan. "Yuk, jalan."
Seperti prediksi Nata, Niki
girang bukan main saat menginjakkan kaki di karpet rumah selebritas. Dia tidak
henti-hentinya berkomentar mengenai ini-itu, mulai dari pajangan antik koleksi
keluarga Annalise, sampai foto-foto Vidia Rossa yang memenuhi dinding. Annalise
tersenyum sendiri melihat Niki yang ekspresif, sedangkan Nata hanya mendengus,
tapi terlihat sama kagumnya.
Selama tinggal di sini,
rumah Annalise belum pernah kedatangan tamu. Rumah ini lebih sering kosong daripada
berpenghuni, dan seandainya ada pun, dia pasti hanya sendirian bersama tantenya
dan beberapa orang pembantu.
"Boleh lihat kamar
kamu, nggak?"
Annalise terperanjat,
sedikit ragu untuk menjawab. Dia tidak terbiasa mengundang orang masuk ke kamarnya,
tapi tidak tega melihat raut Niki yang begitu antusias.
Ketika menginjakkan kaki di
atas karpet biru yang melapisi kamar Annalise, Nata tampak yakin bahwa seumur
hidupnya, dia belum pernah melihat kamar semewah itu. Dinding kamar tersebut
dicat biru muda, dihiasi beberapa lukisan dan foto dalam bingkai kaca yang
terlihat eksklusif. Sebuah ranjang double
bed megah dengan seprai satin terletak di satu sisi. Meja belajar
lengkap dengan rak buku yang memuat karya-karya sastra favorit Annalise
terletak tidak jauh dari built-in
dressing room dengan pakaian cantik yang tergantung rapi. Lantainya
terbuat dari marmer dan jendelanya besar dengan tirai bermodel Victorian,
menutupi sebuah balkon luas yang menghadap ke arah kolam renang. Sudah bisa
ditebak, desain kamar Annalise, seperti ruangan lain di rumah ini, adalah
rancangan desainer inteNatar yang sudah berpengalaman dan punya taste yang tidak
biasa.
Di sudut kamarnya, ada
sebuah papan khusus tempat Annalise menempelkan foto-foto hasil jepretannya. Nata
sedang membungkuk di hadapannya, mengamati lembaran polaroid hitam putih yang
ditempel dengan paku payung.
"Ini bagus,"
katanya, menunjuk selembar foto. Objek foto itu adalah Vidia Rossa. Foto itu
diambil Annalise diam-diam ketika mamanya sedang melukis di patio. Jika
sedang senggang, Mama hobi sekali melukis. Ekspresi Mama saat menggambar selalu
istimewa—kombinasi antara emosi damai dan dreamy
sehingga Annalise tergoda ingin menangkapnya dengan lensa. Saat itu, Mama tidak
sadar sedang dijadikan objek foto, sehingga hasilnya sangat berbeda dari
foto-foto modelling
Mama.
"Ini Mama kamu,
kan?" Niki menarik lembaran itu dari tangan Nata.
Annalise tidak pernah
menunjukkan hasil fotonya kepada siapa pun, kecuali orang tuanya dan Tante
Nadja. Sudah bertahun-tahun sejak Mama dan Papa bertanya mengenai karyanya yang
terbaru sehingga Annalise lebih senang menyimpannya dalam sebuah album di bawah
tempat tidurnya. Dia jadi canggung saat mendengar Nata dan Niki mengomentari
fotonya seperti itu.
"Sudahlah, jangan asal
sentuh barang orang." Nata mengambil kembali foto itu dan menempelkannya
di tempat semula. "Maaf, ya."
"Nggak apa-apa,
kok."
"Serius, Ann, kamar
kamu keren banget," puji Niki, matanya berbinar saat melangkah ke arah
balkon dan merasakan sepoi angin. "Coba aku punya rumah sebagus ini. Rumah
kamu jauh lebih keren dari rumah-rumah selebritas yang biasa kutonton di MTV."
Annalise ikut tersenyum. Niki
pasti tidak tahu betapa sepinya berada di rumah sebesar ini sendirian, membuat
rumah ini terasa lebih besar dari sebenarnya.
"Kamarku sempit, nggak
ada setengahnya dari kamar kamu," sambung Niki, masih dengan nada riang.
"Waktu kecil, aku dan adikku Acha berbagi, tapi untungnya sekarang kami
punya kamar sendiri-sendiri. Di sini, pasti menyenangkan, ya, luas sekali! Ada
kolam renang, gym
pribadi... itu tempat apa?"
Annalise ikut melongok untuk
melihat pojokan teduh yang ditunjuk Niki. "Itu patio tempat Mama melukis."
Tanpa kehadiran Mama, tempat itu terlihat sepi, tidak terpakai.
"Mama kamu masih belum pulang,
ya?" Niki bertanya dengan suara pelan, seolah takut menyakiti perasaannya.
Annalise menggeleng.
"Mama memang jarang pulang. Sibuk dengan jadwal fashion show
yang padat,belum lagi ngurusin butiknya yang baru. Aku sih, udah terbiasa kalau
Mama pergi berbulan-bulan lamanya, kadang hanya kembali beberapa hari, terus
langsung pergi lagi."
Sebenarnya, Annalise sedikit
berbohong. Dia tidak pernah benar-benar terbiasa dengan kepergian Mama. Setiap
kali Mama pergi untuk jangka waktu lama dan tidak menghubunginya, Annalise
merasa sedih. Setiap kali melihat sepasang anak dan ibu yang sedang
bercengkerama, dia membenci Mama karena dia tidak bisa memiliki hal yang sama.
Tapi, rasa benci itu pupus tergantikan oleh rasa rindu, dan Annalise hanya
ingin Mama pulang.
"Jadi, kamu hanya
sendirian di sini? Gimana dengan..." Kalimat itu tidak terselesaikan oleh Niki,
yang kini terlihat serbasalah.
Annalise mengulas senyum,
mengerti siapa yang dimaksud oleh Niki. Dia tidak pernah sekali pun berbicara
mengenai keluarganya kepada orang lain, tapi kini rasanya Nata dan Niki bisa
menjadi pengecualian. "Orangtuaku bercerai waktu aku masih kecil.
Sekarang, Papa udah menikah lagi dan tinggal di Bali."
Perceraian lima tahun yang
lalu itu ditutupi sedemikian rupa hingga tidak terendus media. Mama tidak ingin
privasinya terganggu sehingga lebih memilih membohongi publik walau pada
akhirnya dilanda gosip yang lebih besar karenanya. Annalise tahu betapa besar
perceraian itu melukai Mama, sampai kadang melupakan bahwa Annalise juga
terluka oleh perpisahan orangtuanya.
Lalu, dia baru menyadari
kalau Niki dan Nata tidak lagi berbicara sehingga Annalise tertawa. "Kok,
kalian jadi diam begitu, sih?"
Tanpa diduga, Niki maju
untuk memeluknya erat-erat. Dengan sungguh-sungguh, Niki berkata kepadanya,
"Kalau kamu kesepian, masih ada aku dan Nata. Kamu nggak sendirian."
"Iya, nggak perlu
sungkan-sungkan," tambah Nata.
Annalise mengangguk dengan
haru, tidak menyangka mereka akan bereaksi begitu. "Thanks,
ya."
Mereka beranjak ke dapur
untuk membuat snack,
dengan Niki yang bercerita ringan tentang apa saja dan Nata sesekali menimpali.
Langkah-langkah kaki mereka bertiga memenuhi seluruh ruangan, dan untuk pertama
kalinya Annalise merasakan suasanya yang hangat di rumah ini.
Kali ini, yang menggema juga
bukan sepi, tapi tawa.
***
SEKOLAH KECIL NIKI DAN NATA
Hari ini, sepulang sekolah, Annalise
mendapat undangan dari Niki untuk mampir di rumahnya.
"Hari Selasa itu hari
mengajar," ujar Niki dengan lagak penting. "Mau liat Nata ngajarin
anak-anak kecil yang bandel, kan? Pengalaman langka, lho."
Nata dengan cuek terus
mendorong sepedanya keluar gerbang sekolah, melengos mendengar kalimat Niki.
Tapi, dia sempat berbalik dan berkata pada Annalise, "Datang aja.
Jarang-jarang bisa liat Niki dikerjain sama anak kacil."
Niki cengengesan, lalu
menarik lengan Annalise sebelum dia mampu berkelit. Mereka bertiga berjalan
pulang ke arah rumah Niki yang tidak terlalu jauh dari sekolah.
Kawasan perumahan tempat
mereka tinggal terlihat asri dan terawat. Rumah Niki hanya berjarak beberapa
meter dari rumah Nata, mungil dan sederhana, bercat kuning gading dengan
pekarangan yang tidak terlalu lebar, tetapi dipenuhi oleh tanaman berbagai rupa
dan bunga warna-warni. Garasinya dibiarkan terbuka dengan barisan kursi-kursi
plastik yang disusun rapi. Sekitar dua puluh anak antara usia lima sampai dua
belas tahun memenuhi ruangan tersebut, memandang seksama ke arah papan tulis
putih yang digantung di dinding. Pakaian mereka tidak bisa disebut layak, sedangkan
kulit mereka gelap dan kotor. Wajah mereka terdapat ekspresi keras layaknya
orang-orang yang sudah terbiasa menghuni jalanan, tetapi dalam pandangan mereka
terpancar kepolosan dan tawa.
Ketika Niki masuk, anak-anak
kecil itu langsung beranjak untuk mengerubunginya. Annalise berdiri dengan
tidak nyaman di depan garasi,tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
"Mama Niki membuka
sekolah khusus untuk anak-anak yang kurang mampu," Nata, yang berdiri di
sebelahnya, menjelaskan dengan suara pelan. "Keluargaa anak-anak ini nggak
mampu membayar biaya sekolah, jadi mereka bisa belajar gratis di sini setiap
minggu."
"Kamu juga membantu di
sini?" Annalise memandang dengan takjub ketika anak-anak kecil itu dengan
riang berbalik menghampiri mereka dan menarik-narik celana panjang Nata.
"Kak Nata, hari ini
kita nyanyi lagu apa?" Mereka ribut berteriak-teriak, membuat Annalise
terdorong ke belakang.
"Hari ini, kita ada
guru baru," Nata berkata dengan sabar pada mereka. Annalise belum pernah
melihat ekspresi lembut yang kini ada di wajah Nata.
"Kakak siapa?"
Salah satu dari mereka, seorang gadis kecil berambut pendek yang kasar karena
terbakar matahari, mendongak untuk memandang Annalise. Annalise tersenyum kaku,
lalu berjongkok sehingga pandangan mereka setara.
"Namaku Annalise,"
dia berkata.
"Kakak bule, ya?"
Anak laki-laki yang tampak bengal dengan kepala botak, ikut nimbrung.
Annalise tidak tahu
bagaimana harus menjawab dengan diplomatis. "Emmm, bisa dibilang
begitu."
Tanpa memedulikan jawaban Annalise,
anak-anak itu malahan berteriak ramai. "Horeee! Kita punya guru
bule!"
"Kamu bisa jadi guru
bahasa Inggris," kata Niki padanya, lalu kembali sibuk meladeni
murid-muridnya yang ribut sendiri. Ia memegang sebuah buku matematika,
bersiap-siap untuk mengajarkan perkalian pada sekelompok anak. Mama Niki tampak
sedang menjelaskan kalimat dalam bahasa Indonesia melalui tulisan di papan.
Adik perempuan Niki, Acha, sedang mengajari beberapa anak untuk membaca dari
sebuah buku dongeng yang sudah usang. Hati Annalise menghangat melihat mereka
semua, lalu ikut duduk di salah satu bangku pendek untuk membantu.
Awalnya, senyum-senyum ceria
anak-anak ini membuatnya ingin menangis. Tapi, sekarang, dia justru tersenyum
bersama mereka. Dia mengamati Nata yang sedang duduk di pojokan dengan
gitarnya, anak-anak yang mengelilinginya bernyanyi mengikuti nada. Seakan
merasakan Annalise sedang memperhatikannya, Nata mengangkat wajah dan membalas
senyumnya.
***
POMPOM UNTUK NATA
Wish #7: Niki hadir di sini
(Nata)
Nata memandang sekeliling
dengan ragu. Tangannya yang erat menggenggam gitar mulai berkeringat karena
gugup melihat orang-orang sudah berkumpul di arena podium.
Acara 17 Agustus sekolah
tahun ini mengusung tema 'persatuan', yang berarti berbagai grup ekskul akan
menampilkan acara. Tim basket unggulan sekolah mereka sedang berlaga di
lapangan melawan tim dari SMU lain, grup ekskul seni bergabung dengan
murid-murid kelas fotografi untuk membuat sebuah galeri mini di ruang-ruang
kelas yang kosong, grup drama mengadakan pentas teater, dan masih banyak lagi.
Tahun ini, kebetulan Nata yang didaulat untuk memeriahkan acara dengan
pertunjukan musik solo di atas panggung walaupun dia menolak mentah-mentah
lantaran benci harus tampil di depan khalayak umum.
"Ayolah, Nat,"
waktu itu Niki yang merengek memaksanya setuju, "terima aja tawaran itu,
kesempatan bagus lho."
"Gue gak siap." Nata
menggeleng dengan alasan stadarnya. Sebenarnya, Nata sudah punya ancang-ancang
beberapa lagu ciptaannya, dan dia bukannya kurang latihan. Hanya saja ada satu
hal yang ditakutkannya.
"Kamu demam panggung,
ya?" Niki menebak jitu dengan raut jenaka. Sejak kecil, Nata
tergagap-gagap jika harus tampil di depan umum. Dia paling benci pidato dan public speaking
saat dia harus menatap kerumunan orang yang sedang memperhatikannya.
Ditembak begitu, Nata agak
gelagapan. Niki tersenyum maklum dan mendorong gitar kembali ke pangkuan Nata.
"Kamu pernah bilang mau jadi pemusik profesional, kan? Lagu-lagu kamu
bagus tau. Kamu nggak bisa selamanya sembunyi begitu. Siapa tahu di sana
kebetulan ada pencarian bakat yang lagi nyari idola baru. Kamu harus bisa
ngatasin ketakutan itu."
Nata termenung, sedikit
kaget melihat betapa dewasanya gadis di hadapannya sekarang. Niki tertawa
lebar, merasa sudah meyakinkan sahabatnya. "Kenapa, kamu kaget ya denger
aku ngomong kayak gitu?"
Mendengar omongan Niki, Nata
malah ingin merangkulnya, tapi tentu saja (dan untung saja) tidak dilakukannya.
"Kamu bakal datang kan? Nonton solo gue."
"Ya, pastilah. Pukul berapa?"
"Jadwalnya, sih,
sekitar pukul sepuluh."
Raut Niki berubah, penuh
rasa bersalah. "Yaah. Kayaknya nggak bisa Nat, aku harus cheer untuk tim
basket. Pertandingannya mulai pukul sembilan."
Nata ikut merengut.
"Kalo gitu, gue nggak mau tampil." Walaupun terdengar kekanakan, Nata
tetap bersikukuh.
"Cuma gara-gara gak ada
dukungan moral? Nat, kamu harus naik panggung itu! Nyanyiin lagu kamu! Tunjukin
sama semua orang kalo kamu mampu." Niki mengguncang sedikit bahunya, mulai
memaksa lagi.
"Buat apa?" Toh, Nata
tidak pernah peduli apa yang orang lain pikirkan tentangnya.
"Selain untuk ngeramein
acara sekolah, tentunya kamu juga nggak mau ketahuan demam panggung kalau harus
nyanyi di depan umum, kan?" Niki dengan kesal berusaha memberi alasan.
"Ayolah, demi aku. Ya, Nata, ya?"
"Kenapa, sih, malah
kamu yang ribet?"
Niki meletakkan kedua tangan
di bahu Nata, dengan serius berkata sambil menatapnya dalam-dalam. "Karena
kamu bisa, Nat. Aku tau kamu bisa."
Jadilah Nata menyanggupinya
begitu saja. Sekarang, dia jadi menyesal, tapi sudah terlambat karena acara
sudah mau di mulai.
"Nat, giliran lo lima
menit lagi." Septian menepuk bahunya sesaat sebelum menghilang di balik
tirai panggung. Lima orang anggota band sekolah yang sedang memainkan lagu The
Click Five hampir menyelesaikan encore
mereka yang kedua. Kerumunan murid-murid sudah ramai memenuhi kursi penonton. Nata
melayangkan pandangan sekali lagi, mencari-cari sebuah sosok yang diharapkan
ada. Tapi, yang dilihatnya hanya Annalise, yang melambai sekilas dengan Nikon
tergantung di lehernya dan beberapa teman sekelas lain yang ikut menyanyikan
lirik lagu.
Duh, kenapa, sih, lo harus
maksa gue ikut sedangkan lo sendiri gak ada di sini? Nata mengumpat, merasakan
adrenalin dan keringat mengucur di belakang lehernya. Penontonnya banyak banget
lagi dan sudah ada tanda-tanda penutupan lagu.
"Sekarang, mari kita
sambut MaNata Stevano, salah satu gitaris solo kita!"
Tiba-tiba saja namanya
disebut, diikuti dengan sorakan riuh-rendah para penonton yang sebagian besar
adalah perempuan. Nata ingin muntah. Dia ingin kabur. Tapi, Septian sudah
menepuk punggungnya dan menggiringnya ke panggung.
Nata duduk di sebuah kursi
yang dipasang di belakang mikrofon, kepalanya tertunduk. "Duh, mati deh
gue," bisiknya sebelum mulai. Jari-jarinya lemas dan basah dengan keringat
dingin.
Ki, lo di mana?
***
Wish #7: keberanian untuk Nata
(Niki)
Niki mengacungkan pompomnya
sambil meneriakkan Liv-Liv terakhir, dan merasakan adrenalin mengaliri
darahnya, memompa jantungnya dan membuatnya tersenyum lebar. Tim basket putra
sekolah mereka baru saja menyelesaikan permainan, dengan skor enam poin di atas
skor lawan. Tim lawan tadinya membantai habis-habisan tim SMU Harapan, tapi
permainan mereka agak menurun di sesi kedua sehingga tim sekolah Niki dengan
mudah mengejar skor. Permainan diakhiri dengan satu lemparan mulus dari tim
lawan, yang sayangnya memantul di ring dan tidak jadi masuk.
Inilah yang disukai Niki
dari cheerleading.
Dia bisa menjadi pendukung, penggembira dan pemanis sekaligus. Tanpa kehadiran
mereka, tim-tim basket pastinya akan ngoyo dan tidak bersemangat, begitu juga
dengan penonton yang senang melihat gaya para gadis cantik di sisi lapangan.
Seandainya permainan anggota tim buruk, para cheerleaders-lah
yang menyoraki dan memberi dukungan moril, sedangkan jika mereka menang cheerleaders
juga yang meningkatkan atmosfir kemenangan. Niki suka menjadi bagian dari
sesuatu sepenting ini.
Jam karet di lengannya sudah
menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. Nata sudah mau naik panggung.
Padahal, tadi dikiranya pertandingan basket akan selesai sebelum pukul
sepuluh,tapi dengan salah satu anggota tim lawan yang sempat cedera, break yang
diambil jadi lebih lama.
Dengan panik, Niki minggat
dari tepi lapangan dn berlari menuju aula, tempat sebuah panggung besar telah
disiapkan dengan speaker
dan dekorasi megah. Panggilan Helena yang memintanya tinggal tidak
dihiraukannya.
"Nata, Nata...." Niki
menggumam sambil terus berlari, menyeruak di antara kerumunan murid-murid
berbaju bebas yang memadati sekolah. Tenaganya rasanya terkuras habis, badannya
bersimbah keringat dan rambutnya bau matahari hasil kelamaan terpanggang di
lapangan. Duh. Nata
pasti kecewa kalau aku nggak datang, hanya itu yang terpikir oleh Niki
sepanjang permainan basket berlangsung.
Padahal, Niki yang sibuk
menceramahinya supaya mau naik panggung.
Padahal, Nata sudah berusaha
sebisa mungkin mengatasi fobianya tampil di depan umum.
Padahal, Nata sudah berlatih
berminggu-minggu lamanya untuk lagu-lagunya.
Padahal, Nata melakukannya
demi Niki.
Samar-samar, Niki melihat Nata
berjalan memasuki panggung, dan ia menyelinap masuk, berjingkat ke kursi
penonton paling depan. Sekilas, dilihatnya wajah Nata, kebingungan, gugup, dan
kelihatan kelabu seperti sedang sakit, tidak juga menyadari bahwa Niki ada di
antara kerumunan. Aduh, Niki cemas setengah mati, takut Nata akan lari keluar
sewaktu-waktu atau menyanyi sumbang saking gugupnya.
Tiba-tiba, Niki mendapat ide
brilian. Jika tim basketnya membutuhkan dukungan dan semangat, kenapa Nata
tidak? Nata kan juga atlet--di bidang musik. Dia pantas mendapat penghargaan
atas usahanya dan Liv-Liv yang sama kencangnya dengan mereka yang menggiring
bola di lapangan. Sambil menarik napas dan meneguhkan tekadnya, Niki
mengacungkan pompom merahnya sekali lagi, tinggi-tinggi di udara. Sebagian
penonton mengalihkan perhatian ke arahnya, membuat Nata ikut menengok juga.
Sekarang saatnya. Dengan
suara lantang, Niki meneriakkan kata-katanya satu per satu.
"R! I! O! Nata!"
Mukanya merah karena jengah,
apalagi dia satu-satunya gadis pemandu sorak di sana yang masih lengkap
berseragam merah putih. Rambutnya diikat tinggi-tinggi di atas kepala, ditutupi
headband
merah, tangannya menggerakan pompom dengan semangat. Belum lagi gerakan
melompatnya yang heboh, menyerukan nama Nata seperti yang biasa dilakukannya
untuk anggota tim basket di lapangan. Dia pasti terlihat aneh. Bodo amat,
karena yang paling penting adalah menyemangati Natam
"Gitaris paling oke! Nata,
maju terus!"
Pada awalnya, penonton hanya
tergelak melihat aksinya, tapi lama-kelamaan mereka ikut menyebutkan namanya.
"Nata! Nata! Nata!" Nama itu bergema di seluruh ruangan, seperti
sebuah mantra yang harus diucapkan.
Nata melongo di tengah
panggung, untuk sesaat begitu kaget sampai tidak bisa bicara. Ditatapnya Niki
yang masih sibuk melagakan gerakannya yang radikal dan berlebihan. Wajahnya
yang tadi pucat karena nervous
berubah merah karena malu. Malu setengah mati jadi objek di tengah panggung
dengan seluruh isinya meneriakkan namanya.
"Nata! Nata! Nata!"
Dan, ketika seruan itu mulai
surut, Niki menatap Nata dengan pandangan paling menggemaskan yang pernah Nata
lihat. Kedua mata gadis itu berbinar, pipinya bersemu karena lelah, dan
senyumnya lebar, seakan ingin mengatakan, "Aku percaya, Nata. Kamu pasti
bisa."
Mau tak mau, Nata tersenyum.
Ada rasa tenang yang menyelimutinya ketika dia mulai memetik senar gitar dan
melantunkan liriknya untuk melengkapi nada.
Kalau tadi gak ada lo, Ki...
Bahkan, Nata tidak berani
membayangkan bagaimana penampilannya nanti seandainya sahabatnya itu tidak ada
di sini. Jadi, kali ini, dia akan melakukannya untuk Niki, seperti yang sudah
dijanjikannya.
***
OLIVER
Wish #9: mengenal gadis
mungil berpompom merah (Oliver)
Oliver berjinjit sebisanya,
mencoba mencari sekelibat dodok gadis berkuncir satu yang barusan mengundang
tepuk tangan spektakuler karena aksi cheers-nya
di samping panggung. Ia pertama kali melihatnya tadi pagi di barisan para cheerleaders tim
SMU Harapan yang menjadi lawannya di pertandingan basket kali ini. Entah
mengapa, ada sesuatu mengenai gadis itu yang mengusik perhatiannya.
Oliver ingin mengajaknya
kenalan setelah pertandingan selesai, walau harus menelan rasa malu karena
timnya kalah. Namun, gadis itu sudah keburu pergi. Hampir saja ia kehilangan
jejak, tapi Oliver berhasil diam-diam mengikuti gadis itu sampai aula.
“Hai.”
Gadis itu melongok bingung.
“Yang tadi di lapangan
basket.” Oliver mencoba mengingatkan, mengangkay sedikit jersey basketnya.
Angka 7—Oliver Stevent.
Untungnya gadis itu ingat.
“Oh, iya. Kamu kapten tim basket SMU Pelita, kan?”
“iya. Aku Oliver.”
Dijulurkannya sebelah tangan, yang disambut dengan satu jabatan ringan.
“Niki.” Sang gadis
menyebutkan nama. Jadi namanya Niki—dilihat daari dekat ternyata lebih manis
lagi. Niki tersenyum dan bertanya basa-basi, “Kamu mau nonton pensi juga?”
Oliver menggeleng cepat.
“Ah, bukan. Aku sengaja ngikutin kamu ke sini.”
“Oh ya?” Niki tampak bingung
lagi. “Ada apa?”
“Mau ngajak kenalan.”
Dengan satu kalimat itu,
wajah Niki bersemu merah. Melihat lawan bicaranya salah tingkah dan tidak
berkomentar apa-apa, Oliver jadi tersenyum sendiri. Langsung ke titik
pembicaraan adalah salah satu taktik kenalan yang selalu berhasil.
“Sekolah kamu bagus,”
pujinya, berusaha menetralkan suasana.
Niki mengangguk canggung,
berusaha menguasai diri. “Iya, tim basketnya oke banget,” selorohnya asal.
Oliver tertawa, menyadari
bahwa dia sedang disindir tentang kekalahannya hari ini. “Lain kali, pasti tim
basket sekolah kami yang menang,” sahutnya.
“Coba aja kalau bisa.” Niki
ikut tersenyum, bahasa tubuhnya kini lebih rileks.
“Kita lihat tahun depan,”
balas Oliver.
Mereka berdua terdiam,
saling berhadapan dengan senyum bodoh di wajah masing-masing. Sebelum
terlambat, Oliver segera mengungkapkan maksudnya, “Aku bisa ketemu kamu lagi?
Boleh minta nomor telepon?”
Niki tidak menjawab,
semburat merah di wajahnya kembali lagi. Tiba-tiba, seseorang menepuk
pundaknya, ternyata pemuda yang tadi membawakan permainan solo gitar di atas
panggung. “Yuk, cabut,” kata cowok itu. Niki mengangguk sekilas. Sebelum pergi,
dia tersenyum pada Oliver.
“Oke, kalau kita ketemu
lagi.”
Diberikannya lambaian
selamat tinggal, lalu berbalik dan menghilang di antara kerumunan. Oliver
terpaku, kata-kata itu terngiang di kepalanya.
***
“Siapa, tuh?” Nata menggamit
lengan Niki, menariknya ke kantin untuk membeli sebotol minuman dingin.
Lagu-lagu itu berhasil dibawakannya, dengan baik—thanks to Niki—dan anehnya, dia
tidak merasa gugup lagi. Setelah beberapa detik pertama, Nata seperti tersedot
masuk ke dunianya sendiri, melupakan orang-orang yang ada di ruangan itu dan
hanya bisa mendengar suaranya sendiri bergabung dengan tangga nada. Ketika
mendengar tepuk tengan yang bergemuruh, rasanya seperti baru menaklukan dunia,
padahal yang ditaklukannya hanya panggung dan dirinya sendiri.
“Kapten tim basket SMU
Pelita,” jawab Niki sambil meneguk air putih dinginnya cepat-cepat, lalu
mengipasi diri dengan selembar kertas. “Tadi tim mereka kalah dibantai sama tim
sekolah kita.”
“Terus, ngapain dia ada di
sana?”
“Katanya, sih, mau ngajak
kenalan.”
Hah? Nata hampir
memuncratkan minuman di mulutnya. “ Terus gimana?”
“Gimana apanya?” Niki
bertanya balik dengan cuek. “Namanya Oliver. Dia minta nomor teleponku.”
“Terus lo kasih?”
“Enggak.”
“Bagus, deh.”
Mendengar respon pasif itu Niki
memonyongkan bibir. “Gimana sih, Nata? Masa begitu bagus? Ini, kan, pertama
kalinya ada cowok ngajak aku kenalan!”
“Lo bangga karena ini
pertama kalinya, begitu?” Nata menghabiskan isi botolnya dalam sekali teguk,
lalu melanjutkan, “Gak semua cowok di dunia ini baik, Ki. Lo harus hati-hati,
apalagi sama model cowok yang sembarangan ngajak cewek kenalan.”
“Negatif banget, sih,
pikirannya,” Niki merengut, “Kamu, sih, nggak percaya sama cinta pada pandangan
pertama>”
Sudah ratusan kali Niki
mengangkat topik itu, yang bagi Nata lebih terdengar seperti dongeng yang tidak
akan pernah terjadi. Dongon yang membodohi orang!
“Gue kasih tau ya, Ki,” dia
memulai nasihatnya, “di dunia ini nggak ada yang namanya cinta pada pandangan
pertama. Yang ada juga nafsu atau suka pada pandangan pertama, yang lalu
disalahartikan sebagai cinta.”
“Kamu ngomong begitu karena
belum pernah ngalamin,” tuduh Niki.
“Memang lo pernah?” tantang
balik Nata.
“Belum. Tapi, nggak ada
salahnya percaya, kan?”
Nata menghela napas.
“Terserah lo deh. Yang jelas, gue gak percaya ada cinta yang seperti itu.”
“Gak romantis, iya gak, Ann?”
Niki berbalik memandang Annalise yang baru saja duduk di sampingnya dengan
semangkuk bakso kuah.
“Apanya?” Annalise yang baru
bergabung bertanya tak mengerti.
“Nata nggak percaya sama
cinta pada pandangan pertama,” Niki mengadu, “Kalau kamu gimana?”
Annalise tiba-tiba tersedak
kuahnya, terbatuk cukup lama sebelum bisa menjawab. Wajahnya merah—entah karena
matahari terik, bakso yang kepedesan, atau fakta bahwa dia tidak ingin menjawab
pertanyaan polos yang dilontarkan Niki itu. Akhirnya, dia menepuk dada sambil
menengahi bijak, “Pendapat orang kan beda-beda, Ki. Mungkin Nata orang yang
realis, sedangkan perempuan kan, lebih romantis.”
“Maksudnya, pemimpi,” Nata
mengoreksi, “tanpa nlogika.”
Niki mendengus lagi. Annalise
tersenyum, sudah terbiasa melihat dua sahabat itu bertengkar tak keruan. “Ini
tentang cowok yang tadi ngobrol sama Niki di aula, ya?”
“Iya,” jawab Niki
ogah-ogahan. “Namanya Oliver.”
“Cakep,” komentar Annalise.”
“Iya, kan? Jadi nyesel nggak
ngasih nomor telepon ke dia tadi,” ujar Niki antusias.
Nata melengos mendengar
pembicaraan dua gadis yang mulai seru membicarakan cowok ganteng. Dihabiskannya
beberapa potong gorengan di piringnya, gusar masih mencongkel hatinya.
Kadang-kadang, bukan maksudnya untuk ketus seperti itu, hanya saja Nata tidak
tahan untuk menasihati Niki yang sering kekanak-kanakan. Akhirnya, malah
membuatnya kesal sendiri, dan Niki jadi ngambek. Padahal, maksudnya tadi mau
berterima kasih karena telah membantunya mengatasi demam panggung, tapi malahan
bertengkar dengan gadis itu.
Dia memandang Niki sekilas.
Kata ‘terima kasih’ itu berhenti di bibirnya, belum sempat terucapkan.
***
Annalise memperhatikan
deretan foto-foto berbingkai yang dipajang di dinding kelas, juga judul dan
namanya yang tercetak kecil-kecil di bawahnya.
Famili—by Annalise Putri.
Tajuk itu digunakannya untuk
foto mamanya yang dilihat Nata dan Niki waktu sedang berkunjung ke rumahnya.
Tadinya, dia tidak cukup percaya diri untuk memamerkan hasil jepretannya di
lorong sekolah, untuk dipertunjukan kepada semua orang. Tapi, Nata dan Niki
terus membujuknya, meneguhkan hatinya.
“Foto-foto kamu bagus
sekali, pasti banyak orang yang suka.” Niki selalu bilang begitu walaupun Annalise
merasa hasil karyanya masih amatiran. Nata hanya meneliti detail-detail di fotonya
dalam diam, lalu mengembuskan napas kagum dan berkata, “Foto-foto ini punya
nyawa.”
Karena itulah Annalise
memberanikan diri menyumbang beberapa foto kolseksinya untuk galeri mini
sekolah mereka. Foto-foto hitam putihnya kini dimuat di antara lautan foto-foto
lain dengan beragam tema dan warna.
“Ini karya kamu?”
Suara seseorang
mengejutkannya. Dhanny, abang Nata, tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya,
menatap foto yang sama dengan yang sedang dipandangi Annalise. Selembar foto
bertajuk Friends yang
dilapisi dengan bingkai kaca.
“Iya,” jawabnya, canggung.
Objek foto itu adalah sebuah
kincir angin plastik yang sering dimainkannya sejak kecil. Kemarin, ia
menemukannya di kolong ranjang, sudah berdebu, tapi masih bisa berputar dengan
baik. Annalise membersihkannya dan meletakannya di tepi jendela, supaya benda
itu bisa kembali berputar karena angin. Ketika Nata dan Niki datang waktu itu, Annalise
memotret mereka dari balik sayap-sayap kincir angin. Di foto itu, Niki sedang
tertawa, sedangkan Nata tersenyum.
Dhanny menyentuh foto itu,
ujung jarinya membelai wajah Nata dan Niki yang hanya samar-samar terlihat di
balik gerakan kincir angin.
“Foto yang bagus.”
“Terima kasih.”
Annalise dan Dhanny tidak
berkata apa-apa lagi, sama-sama mengetahui sesuatu tentang Niki dan Nata yang
belum mereka sadari.
***
Wish #10: berbaikan dengan Niki
(Nata)
Nata berhenti di depan
trampolin, lalu menjatuhkan diri ke permukaanya, membuat Niki yang sedang duduk
bersila di atasnya ikut terguncang-guncang. Niki, yang sore ini mengenakan
celana pendek warna pink
terang dan jaket hoodie
putih dengan topinya menutupi kepala, sedikit merengut melihat Nata
ada di sana. Dia masih sedikit kesal akibat obrolan tadi siang di kantin.
Nata membetulkan posisi
duduknya di atas trampolin, memainkan nada pada gitarnya dan bersenandung
ringan. Trampolin yang dipasang di kebun belakang rumahnya ini adalah tempat
favoritnya dengan Niki. Waktu kecil, dia merengek supaya dibelikan sebuah
trampolin besar. Setiap hari mereka berdua melompat-lompat diatasnya sampai
capek, kemudian berbaring terlentang di sana sambil menengadah memandang langit
yang membentang luas. Kini mereka berdua sudah terlalu besar untuk berbagi
ruang di trampolin itu, tapi tetap saja mereka suka melakukannya.
“Berisik.” Niki menggunakan
kedua tangan untuk menutupi telinganya, aksi memboikot yang membuat Nata
tersenyum.
“Udah dong, ngambeknya.”
Disenggolnya Niki sedikit, tapi yang disikut bergeming. “Ki, gue serius nih.
Gue punya sesuatu buat lo.”
“Apa?” Dengan cepat, Niki
mengulurkan tangannya, bersiap-siap menerima sesuatu.
Nata tersenyum lagi. Ulah
gadis ini selalu membuatnya kewalahan, tapi Niki tidak pernah berhenti
membuatnya tertawa. :Ini bukan hadiah semacam itu.”
“Bisa dimakan, gak?”
“Gak bisa!” Dengan gemas, Nata
menjitak kepala Niki ringan. “Cuma lagu, kok.”
“Lagu?”
“Iya.”
Niki memeluk lutut,
memandang Nata yang sudah siap dengan gitarnya. “Tadi, kan, kamu udah nyanyiin
lagu untuk pentas seni. Ada lagi?”
Nata menggeleng. “Lagu-lagu
yang tadi gue nyanyiin buat kepentingan sekolah. Tapi, yang ini gue mau
nyanyiin buat lo.”
“Buat aku?” Niki
mengerjapkan mata, berubah bersemangat.
“Iya, karena lo udah
ngedukung gue untuk tampil di panggung. Mau dengerin, gak?” Nata bersehem
sedikit, lalu mulai memetik gitarnya, memainkan versi akustik dari salah satu
lagu favorit Niki.
And friends come and go,
But people like you are hard
to find,
And times just goes to show,
I wouldn’t change a thing
I owe it all to yo I always
know,
How lucky I am to have you
here beside me,
So before I go,
I wanna say
Thank you, thank you, thank
you
(Thank You - Katana)
Nata terus bermain sambil
bersenandung, dengan Niki yang mendengarkan tanpa berkedip. Seulas senyum hadir
di wajah keduanya, sebentuk tenang yang sangat nyaman.
Akhirnya, Nata memang tidak
berhasil mengucapkan terima kasihnya pada Niki, tapi dia tidak perlu
melakukannya, karena Niki sudah tahu. Niki sudah memiliki lagu itu.
***
ES KRIM MATCHA DAN NOMOR
TELEPON
Oliver menunggu di dalam
mobilnya, satu tangan memeluk setir dan satunya lagi sibuk merapikan rambut
menggunakan refleksi kaca spion yang ada di hadapannya. Sudah hampir pukul
tiga, sebentar lagi murid-murid SMU Harapan pasti akan bubar. Dia berharap Niki
ada di antara kerumunan murid yang akan keluar melewati pagar depan itu.
Ucapan Niki yang ambigu dan
penolakan halus untuk memberikan nomor teleponnya membuatnya makin penasaran.
Biasanya, jika gadis-gadis remaja berhadapan dengannya, mereka akan berubah
malu-malu dan lebih sering tertawa centil sambil memutar rambut dengan jari.
Kebanyakan dari mereka akan segera menuliskan nomor telepon mereka di secarik
kertas, menyelipkannya di saku jaket Oliver atau bahkan ada yang pernah menuliskannya
di jendela mobilnya dengan sebentuk lipstik merah. Tapi, gadis yang satu ini
tidak begitu, dia dengan mudahnya mengucapkan selamat tinggal dan langsung
pergi seakan tidak peduli jika tidak pernah melihatnya lagi.
Oliver belum pernah merasa
ditolak seperti ini, dan seperti kata orang, penolakan berarti pengejaran yang
lebih kukuh. Egonya telah tersentil oleh seorang cheerleader SMU seberang.
“Kamu Oliver Stevent, kjan?”
Bau parfum yang menyengat—Britney Spears Fantasy
yang teramat manis aromanya—menyumbat hidung Oliver. Dia menengadah
dan menurunkan kaca mobil lebih rendah lagi. Seorang gadis cantik berseragam
putih abu-abu dengan roklipit superpendek sedang membungkuk menatapnya, tiga
orang gadis lain di belakangnya berbaris seperti pengawal.
“Aku Helena, kapten tim cheers yang
kemarin Sabtu hadir di pertandingan,” Gadis itu mengulurkan sebelah tangan. Oliver
menjabatnya ringan, tapi tangan sang gadis yang dingin dan rikuh tidak segera
melepaskan tangannya.
Helena tersenyum menggoda,
mengelus-elus helaian rambutnya yang dicat kemerahan. “Ada apa datang ke sini?
Mencari seseorang?”
Right on cue, pikir Oliver, karena saat
itu dilihatnya Niki sedang berjalan keluar dengan ranselnya, seorang gadis bule
yang sangat tinggi di sampingnya dan cowok yang kemarin solo dengan gitarnya
sedang membopong alat musik itu di belakangnya. Cepat-cepat, Oliver keluar dari
mobil, lalu berlari menghampiri mereka.
“Hai!” sapanya ceria.
Langkah Niki terhenti, menatapnya aneh walau di bibirnya tersungging senyum
senang.
“Halo, Oliver.” Oliver
senang Niki mengingat namanya. “Kok, ada di sini?”
“Aku nyari kamu.”
Didengaranya Helena
terkesiap sedikit, lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangan yang termanikur
rapi. Tiga gadis di belakangnya meniru gerakannya hampir serentak.
Niki juga tampak kaget, tapi
lalu dengan sigap memperkenalkan dua orang temannya. “Kenalin dulu, ini Annalise,
dan ini Nata, teman-teman sekelasku.” Oliver menyambut jabatan tangan Annalise,
lalu Nata—entah kenapa yang ini malah tampak kurang senang. “Ada apa ya nyari
aku?”
Oliver mengantongi kacamata
hitam Oakley-nya di saku, lalu menunjuk mobilnya. “Kuantar pulang, yuk.”
“Tapi, aku pulang dengan
teman-temanku.”
Penolakan lagi. Oliver
tersenyum, tidak menyerah. “Kalau begitu aku datang lagi besok.”
“Eh, tunggu!”
Seperti yang diduga, Niki
berlari mengejarnya, meninggalkan sekelompok temannya yang terlihat agak kaget
juga. “Nggak usah,” katanya, “aku bisa pulang sendiri kok.”
Oliver menatap gadis mungil
yang menggenggam tali ranselnya erat-erat, dengan tegas mengatakan tidak. “Kamu
tahu nggak kenapa aku datang ke sini?” Niki menggeleng. “Minggu lalu, kamu
bilang kamu akan ngasih nomor telepon kalau kita ketemu lagi.”
Rona merah jambu mewarnai
pipi Niki sekarang ketika dia teringat janji itu. “Jadi kamu datang untuk minta
nomor teleponku?”
Oliver angkat bahu. “Kalau
boleh, aku juga mau nganter kamu pulang. Boleh, kan? Pasti sampai di rumah
dengan selamat, kok. Gratis es krim, lagi.”
Niki tertawa. “Kalau aku
bilang enggak, besok kamu bakal datang lagi?”
“Seterusnya sampai kamu
bilang iya.”
Niki menggelengkan kepala,
mendesah dengan canda. “Bukan main. Masa’ aku harus pindah sekolah supaya gak
dikuntit?”
Oliver membalasnya dengan
tawa juga. “Gak usah seekstrem itu, cukup satu jam saja hari ini dan aku nggak
akan ganggu kamu lagi.”
Niki tampak memikirkannya
sejenak, lalu akhirnya mengalah. “Ya udah, deh. Satu jam. Tumpangan pulang,
plus es krim.”
“Sip!” Oliver menyeringai
menang.
Niki berbailk untuk memberi
tahu Nata dan Annalise, juga menyadari bahwa Helena masih menyaksikan interaksi
itu dengan mata terbelalak. Dari dulu, teman-teman cheerleader Niki memang selalu
bilang bahwa kapten tim basket SMU Pelita sangant populer. Ganteng, kaya, dan charming.
Sekarang, mereka melihatnya dalam jarak dekat, sedang flirting dengan Niki.
“Nat, Anna, aku pulang sama Oliver
ya hari ini.” Niki melihat raut wajah Nata berubah, sedangkan Annalise hanya
tersenyum maklum.
“Pulang sama dia?” Nata jadi
berang. “Lo gak takut diapa-apain?”
Niki memasang tampang penuh
permohonan. “Nata... Jangan kayak nenek-nenek, deh. Cuma satu jam, kok. Terus
aku langsung pulang.”
“Tapi, lo kan gak kenal
dia!”
“Ya itu tujuannya dia
dateng, mau ngajak kenalan.”
Annalise segera menyentuh
lengan Nata. “Kayaknya, dia bukan orang jahat, kok, Nat. Niki juga pasti bisa
jaga diri.”
Tanpa membaca situasi dan
usaha Annalise membujuk Nata, Niki malahan semakin menambah minyak pada api.
“Iya! Aku bukan anak kecil lagi.”
Ekspresi Nata sulit dibaca,
tapi akhirnya dia mengangguk enggan. Niki tersenyum lebar dan berlari ke mobil Oliver,
membiarkan pemuda itu membukakan pintu mobil untuknya dan mempersilakannya
masuk. Tidak lama kemudian, mobil itu meluncur pergi, Nata dan Annalise
memandangnya sampil menghilang di tikungan.
“Gue Cuma nggak percaya sama
cowok itu,” kata Nata ketika dia melangkah lagi untuk mengambil sepedanya. Annalise berjalan
di sampingnya, mendekap beberapa buku pelajaran sambil larut dalam pikiran.
“Aku ngerti kamu
khawatir,”katanya lembut. “Tapi, Nat, mungkin saja ini cinta pertamanya Niki.”
Nata terhenyak.
***
Wish #11: nomor telepon Niki
(Oliver)
Seumur hidupnya, Niki belum pernah naik mobil senyaman ini; sedan BMW biru tua
dengan inteNatar yang sudah dimodifikasi sehingga kursinya lebih lebar dan
nyaman. Ada satu set perlengkapan televisi dan GPS dengan voice command, juga
CD player yang sekarang memutarkan lagu In
A Rush milik Backstreet.
Niki mengalihkan pandangannya dari sebuah miniatur oemain basket di atas dashboard ke
arah Oliver yang sedang menyetir dengan tangan kanan. Sang kapten basket SMU
Pelita memang tampan, yang satu ini tidak perlu diragukan lagi. Tubuhnya tinggi
dan ramping model atlet, berisi tapi tidak terlalu kekar seperti ahli angkat
besi. Rambutnya dipotong rapi dan tidak menyentuh telinga, ditata dengan gel
seadanya sehingga memberikan kesan berantakan. Kulitnya kecoklatan hasil
latihan rutin di bawah sinar matahari, sedangkan senyumnya ramah, mencerminkan
kesan easygoing.
Pemuda ini mengingatkan Niki pada Kak Dhanny yang selalu wangi, rapi, dan
bersih.
Kalau boleh jujur, Niki
senang bertemu dengannya lagi. Ia sempat, menganggap ajakan kenalan waktu itu
tidak lebih dari candaan belaka walau sempat menyimpan secercah harapan bahwa
cinta yang manis suatu hari akan datang kepadanya. Ketika ia mulai melupakan
kejadian tersebut, tiba-tiba saja Oliver kembali muncul di hadapannya,
menawarkan kesempatan kedua. Niki menganggapnya sebagai sebuah pertanda.
Mereka berhenti di depan
sebuah kafe gelato. Lagi-lagi, Oliver membukakan pintu mobil untuknya, sebuah
aksi yang memberi nilai plus di mata Niki.
“Mau es krim apa? Kutebak ya,
rasa cokelat.”
Niki menggeleng. “Aku suka
es krim matcha. Green
tea gelato.”
Kening Oliver sedikit
berkerut. “Oh ya? Nggak nyangka.”
“Bukan berati aku nggak suka
cokelat, lho.” Candaan ini dibalas oleh senyum Oliver. Mereka berdua menempati
sebuah meja kosong di pojok, masing-masing asyik dengan pilihannya. Diam-diam, Niki
agak deg-degan; dia belum pernah pergi berdua dengan cowok selain Nata. Kalau
sedang berduaan dengan cowok yang baru saja dikenal, enaknya harus ngobrolin
apa, ya? Gimana harus bersikap?
“Cowok yang tadi pacar kamu,
ya?”
Niki mengangkat muka,
melupakan sejenak monolog senyapnya. “Yang mana? Nata?”
“Iya, cowok yang bawa gitar
itu. Kayaknya, dia kurang senang ngeliat aku.”
Niki tergelak kecil. “Ah,
perasaan kamu aja kali. Nata emang orangnya begitu, agak galak, tapi sebenarnya
perhatian. Dia sahabatku dari kecil.”
“Mungkin dikiranya aku playboy yang
nggak bisa dipercaya,” canda Oliver.
Niki berhenti menyuap es
krimnya, lalu bertanya dengan lugu, “Memangnya kamu begitu?” Wajahnya begitu
polos sehingga Oliver tertawa.
“Ya nggaklah. Aku nggak
punya pacar, kok.”
Dalam hati, Niki meras
sedikit lega. Tapi, ia tak bisa menahan diri untuk meledek dengan nada
skeptis,”Masa orang seperti kamu nggak punya pacar?”
“Orang seperti apa?” Oliver
balas bertanya, seakan ingin memancing reaksinya. Wajah Niki memerah lagi dan
ia menunduk maul, merasa salah bicara.
“Yah... orang yang populer
seperti kamu. Banyak lho teman-temanku yang bilang kalau kamu cowok iVanyal
yang diinginkan cewek-cewek.”
“Menurut kamu, aku
begitu...?”
“Nggak tahu. Aku kan, belum
kenal kamu.”
Oliver tersenyum lebar, dan
kali ini Niki melihat lesung pipit samar di pipi kanannya. Senyum tampak sangat
natural di wajah itu. Perlahan, Oliver menjulurkan sebelah tangan dan menyentuh
sudut bibir Niki, mengusap lembut dan bertahan di sana selama beberapa saat
sebelum menariknya kembali. Niki agak terkejut dan sedikit menarik tubuhnya ke
belakang dengan salah tingkah.
“Sori, aku nggak bermaksud
apa-apa. Tadi ada bekas es krim di wajah kamu....”
Niki mengangguk samar,
mengutuk diri sendiri karena bersikap begitu kaku.
Sepanjang perjalanan pulang,
Oliver memutarkan lagu-lagu top
forty yang juga menjadi favorit Niki. Perlahan, tetapi pasti, rasa
canggung di antara mereka melumer, terganti oleh pembicaraan seru. Niki
bercerita mengenai sekolahnya, perlombaan cheerleading
yang akan diadakan bulan Desember, dan segudang aktivitas lain yang biasa
diikutinya. Oliver tertawa mendenghar jokes-nya,
juga berbagi cerita mengenai dirinya sendiri. Melalui ceritanya, Niki
mengetahui kalau Oliver adalah anak tunggal, dan ulang tahunnya hanya berbeda
lima hari dengan Nata, sama-sama berzodiak Capricorn walau sifat mereka berbeda
jauh.
Niki hampir saja merasa
kecewa ketika perjalanan mereka berakhir, seperti Cinderella yang sudah harus
berlari pulang pada pukul dua belas malam.
“Thanks yah udah nganterin aku
pulang.” “tunggu. Kamu lupa sesuatu.”
Niki merogoh saku bajunya,
memeriksa apa yang kelupaan. “Apa?”
“Nomor telepon.”
Niki tertawa sumringah,
bersiap-siap mengeluarkan pulpen untuk mencatat nomor teleponnya pada secarik
kertas. Namun, sebuah ide iseng muncul, dan dengan raut nakal, dicoretkannya
deretan angka itu dengan lipstik pink
yang selalu dibawanya ke mana-mana. Mengikuti gaya flirty perempuan-perempuan yang
pernah dilihatnya dalam film, diselipkannya kertas tersebut dalam saku kemeja Oliver.
“Supaya aku nggak berutang lagi sama kamu,” ujarnya sebelum masuk ke dalam
rumah, meninggalkan Oliver yang memandangnya dengan ekspresi melongo bercampur
kagum.
***
Wish #12: cerita kakak
(Acha)
Acha
yang sedang mengerjakan tugas Fisika di atas meja makan melirik kakak
perempuannya dengan bingung. Ada
sesuatu yang aneh dengan kakak hari ini, dia menyimpulkan. Sepulang
sekolah tadi, Niki langsung berlari ke kamarnya sambil menyenandungkan lagu
favoritnya. Tidak lama kemudian, dia mondar-mandir di depan meja telepon,
sampai akhirnya duduk termenung dengan raut dreamy
di wajahnya. Mama yang melihatnya Cuma geleng-geleng sambil
tersenyum kecil, sedangkan Acha masih tidak mengerti juga apa yang telah
terjadi pada kakaknya.
Setiap kali telepon berdering, Niki akan terlonjak dari kursinya dan
mengangkatnya dengan waswas. Wajahnya berubah kecewa jika telepon itu ternyata
bukan untuknya. Ketika telepon itu masih juga tidak berdering untuk jangka
waktu yang lama, akhirnya Niki menyerah dan duduk di samping adiknya.
“Acha”
“Hmmm?”
“Mau denger cerita, nggak?”
Acha meletakkan pulpennya,
berhenti menuliskan rumus-rumus yang membuat otaknya ngejelimet. Sejak kecil, Niki
selalu bercerita mengenai apa saja. Kadang-kadang, Niki suka membangunkannya di
tengah malam, lalu membisikkan sebuah rahasia di telinganya. Acha menyukainya,
hal itu membuatnya merasa penting dan dipercaya.
“Cerita apa?”
Dulu cerita Niki penuh dengan
dongeng fantasi tentang seorang pangeran rupawan yang menyelamatkan seorang
putri dari negri yang sangat jauh. Hari ini, Niki bercerita tentang seorang
murid laki-laki sekolah sebrang yang tampan, yang mengantarnya pulang dan
meminta nomor teleponnya.
“Jadi yang dari tadi kakak
tunggu itu telepon dari dia?”
Ekspresi Niki sarat dengan
kebahagiaan dan rahasia. “Iya. Namanya Oliver.”
“Orangnya seperti apa?”
Niki menjelaskan rupa
pangeran tampannya—tidak berkuda putih, tapi lengkap dengan sedan biru yang mewah.
Kapten tim basket, walau sempat kalah di pertandingan kemarin. Senyum yang
menarik, suara tang menggetarkan, sosok yang sempurnya.
“Memangnya ada, ya, orang
yang sempurna di dunia ini?” Acha ingin tahu.
“Sempurnya itu relatif,”
jawab Niki, senyum itu masih enggan meninggalkan wajahnya.
Telepon berbunyi. Segera
setelah satu dering, Niki menyambar gagangnya. Tiba-tiba, ekspresinya berubah
cerah, dan dia mengedipkan sebelah mata pada Acha sambil terus mengobrol di
telepon. Ini dia,
bisiknya sambilk menunjuk-nunjuk telepon.
Oh. Acha ikut tersenyum,
akhirnya mengerti. Kakaknya ternyata sedang jatuh cinta.
***
KISS
Wish #13: segala sesuatunya
untuk tidak berubah (Nata)
Nata
gondok setengah mati. Pasalnya, dari satu jam yang lalu, yang dibicarakan Niki
Cuma satu hal—Oliver. Setelah diantar pulang waktu itu, mereka ternyata membuat
janji untuk bertemu lagi. Kesalnya lagi, akhir-akhir ini Niki selalu pulang
bareng cowok itu. Wajahnya selalu berbinar-binar ketika bel terakhir berdentang
tepat pukul tiga sore, lalu dia langsung melesat keluar ke arah parkiran.
“Jadi, hari Sabtu nani aku
nggak bisa pergi bareng kalian.” Niki menyelesaikan kalimatnya. Mereka bertiga
baru saja menyelesaikan kelas lab Biologi, dan kini merapikan alat-alat yang
tersebar di atas meja sebelum pulang.
“Masa aku dan Nata jadi Cuma
pergi berdua...?” Annalise mengeluh kecewa. Hari Sabtu nanti mereka bertiga
sudah janjian untuk nonton film action
terbaru di mal, sekaligus mencoba tempat makan sushi yang baru buka di sana.
“Maaf...” Niki melekatkan
kedua telapak tangannya di depan dada untuk memohon maaf. “Sekali iniii... aja.
Kali ini penting.”
Nata membuang muka. “Kalau
begitu, hari ini aja kita nontonnya, sehabis pulang sekolah bisa langsung ke
mal.”
“Iya, ide bagus tuh,” dukung
Annalise.
Lagi-lagi, Niki membungkuk
minta maaf. “Aduh... hari ini aku juga nggak bisa. Mau pulang bareng Oliver,
sambil coba yogurt smoothie di counter
Boost Senayan City yang baru buka.”
Kali ini Nata menggeram tak
sabar. “Jadi, kapan dong, kita bisa ngumpul bareng?” Sudah seminggu Niki tidak
bertandang ke rumahnya. Padahal biasanya cewek itu selalu datang setiap sore
setelah makan malam, entah hanya untuk mengobrol atau minta diajari Matematika.
Sekarang, boro-boro menelepon atau menumpang sepedanya Nata, setiap pagi dan
sore selalu diantar jemput oleh ‘sopir’ barunya.
“Hari Minggu, deh!” Niki
berjanji. “Minggu pagi. Nanti kubuatin apple struddle untuk kalian berdua.”
Belum sempat Nata berkata
apa-apa, sedan biru itu meluncur memasuki parkiran sekolah. Dengan semangat, Niki
langsung menarik tasnya dan berlari kecil untuk menyambutnya. Nata menghela
napas. Bagian belakang sepedanya kosong. Walaupun dulu setiap hari punggungnya
habis ditepuk-tepuki dan dia harus mendengarkan celoteh ringan tentang hal-hal
yang gak penting, rasanya Nata lebih senang begitu daripada hanya bersepeda
pulang sendirian.
***
Wish #14: ..... (Nata)
Sore
hampir berganti malam. Warna biru langit sudah pecah, berganti dengan kombinasi
ungu oranye yang menyerupai palet warna dari olesan kuas. Nata menemukan Niki
sedang tertidur di atas trampolin mereka, sebelah tangannya menggenggam plastik
berisi satu gelas stereofoam dengan label Boost tercetak di
tengah-tengah. Niki tadi berlari ke sini untuk menunggu Nata selesai makan
malam, rencananya ingin membawa oleh-oleh satu gelas smoothie buah untuk Nata. Niki
merasa bersalah, sudah lama dia tidak menghabiskan waktu berdua saja dengan
sahabatnya itu. Padahal, dulu, mereka tidak terpisahkan. Akhir-akhir ini, dia
juga kangen mendengar nyanyian Nata yang srak-serak basah diiringi petikan
gitar yang lembut.
Setelah setengah jam menunggu, Niki jadi bosan. Angin sepoi-sepoi membuatnya
mengantuk, dan dia terbuai dalam lelap di bawah langit sore.
Nata ingin membangunkannya, tapi tidak jadi. Ingin juga mengisenginya dengan
menggambar kumis di atas bibirnya dengan spidol, tapi tidka tega. Jadi dia
hanya duduk menatap Niki yang tertidur, menjulurkan sebelah tangan untuk
membelai helai-helai halus yang membingkai wajahnya.
Wajah Niki yang sedang tertidur seperti anak-anak. Seperti seorang anak
perempuan yang baru saja mendapatkan lolipop kesukaanya, lalu mengisapnya habis
sampai tertidur. Seperti seorang gadis kecil yang menyimpan senyum dalam
tidurnya, dan akan bangun bersamanya juga.
Entah apa yang membuat Nata tergugah. Seulas senyum lembut menyelinap di
wajahnya yang biasa berekspresi keras. Dia menunduk, ragu-ragu sejenak, lalu
mendekatkan wajahnya ke wajah Niki dan mengecup bibir gadis itu pelan.
Dengan wajah memerah, dia kembali ke posisi duduknya, menyentuh bibirnya
sendiri sambil tersenyum.
***
Wish #16: melihat Niki tidak
jadi pergi (Nata)
Nata menyingkap tirai
jendela kamarnya sambil setengah mengintip. Tidak menemukan apa yang dicari,
kembali ditutupnya tirai tersebut sambil mengembuskan napas yang memburu. Lima
menit kemudian, ia kembali mengintip. Begitu seterusnya sampai deru mobil
terdengar samar-samar di kejahuan.
Mobil BMW biru tua milik Oliver
berhenti tepat di depan rumah Niki. Nata melihat gadis itu setengah berlari
keluar, mengenakan terusan merah jambu dipadu dengan sepatu berwarna senada,
rambutnya diurai hingga menyentuh bahu.
Wajahnya dihiasi senyum
lebar penuh antisipasi, seakan dia sudah menunggu kedatangan Oliver sejak tadi.
Oliver membukakan pintu
mobil untuk Niki, lalu berjalan memutar ke arah pintunya sendiri. Nata melihat
sebuket mawar merah dalam genggamannya.
Cih. Hanya playboy yang
membawa bunga untuk cewek,
hatinya tidak tahan untuk tidak berdesis sinis.
Mobil itu berjalan menjauh,
meninggalkan Nata yang masih terpaku di depan jendela dengan tatapan kurang
senang. Akhirnya, disambarnya telepon dan segera menekan nomor Annalise.
"Kita cabut, yuk."
***
Wish #17: percakapan bersama
Nata (Annalise)
Annalise agak terkejut
ketika Nata meneleponnya barusan. Tadinya, ia mengira janji mereka untuk nonton
bareng dibatalkan, berhubung Niki tidak bisa hadir. Sejam kemudian, mereka
berdua sudah berdiri bersebelahan di hadapan poster-poster film di sebuah
teater bioskop. Nata tidak bicara, dengan kedua tangan dalam saku bajunya—hari
ini ia mengenakan kaus band
warna hitam dan jeans
belel serta sepasang sandal.
Annalise menunduk menatap
pakaiannya—skinny
jeans dan atasan lengan panjang putih berkerah sabrina, dengan
rambut dibiarkan tergerai. Dia hanya mengambil pakaian yang paling praktis dari
lemarinya, dan kini sedikit menyesali pilihannya yang sederhana. Apalagi, ini
kali pertama dia pergi berdua dengan cowok, tepatnya... dengan Nata.
"Mau nonton apa?" Nata
menunjuk pada barisan poster film di balik lemari kaca, tampaknya tidak terlalu
bersemangat untuk memilih.
Annalise mengulum senyum,
tiba-tiba saja menyadari mengapa Nata begitu uring-uringan hari ini.
"Sebenarnya, Nat, you
look like you'd rather be anywhere but here."
Ketika mendengarnya, Nata
langsung mengangkat wajah dengan raut bersalah. "Sori, Ann. Mood gue lagi
jelek banget."
Annalise menggeleng.
"Nggak apa-apa, kok. Kita ngopi aja, yuk?"
Mereka masuk ke sebuah kedai
kopi mungil di sudut lantai tiga, tempat yang lengang tanpa pengunjung, hanya
seorang barista yang menunggu di balik counter
dengan wajah bosan. Annalise meletakkan bawaannya di atas meja dan Nata melihat
sudut kamera Lomo merah yang menonjol dari tas itu.
"Gue jadi penasaran...
sejak kapan, sih, lo hobi motret?"
Annalise tersenyum sendu,
mengingat kali pertama ia memegang sebuah kamera dan merasakan berat benda itu
di tangannya yang mungil. Membiarkan tangan yang kokoh membimbing jemarinya
untuk menekan tombol, dan suara yang berisik di telinganya, tahan napas... dan, klik.
"Umur delapan tahun.
Papa memberikan aku hadiah kamera pertamaku."
Dulu, Papa sering
menyebutnya 'asisten cilik'. Mereka memotret Mama, pura-pura mendandaninya dalam
kostum, lalu menjepret aksi konyol itu. Mereka memotret langit sebelum berubah
gelap, bayangan pohon yang memanjang, sepeda pertama Annalise, boneka beruang
kesayangannya, mobil baru Papa. Annalise senang memperhatikan Papa bekerja
dengan kameranya, di bawah lampu suram kamar gelap tempatnya mencuci foto,
mengamati buram berubah bentuk.
"Aku suka konsep
fotografi—seakan-akan momen yang ditangkap lensa akan tetap di sana untuk
selamanya."
Dan, mereka memang tetap
ada, bahkan saat dunia berputar dan berubah, kenangan yang tercetak pada
lembaran foto itu tidak pernah berubah. Photographs
last for a lifetime.
"Papa selalu bilang,
manusia akan menua, tempat bisa berubah, kita bisa melupakan. Karena itulah
kamera digunakan, untuk merekam hal-hal yang tidak dapat diingat manusia dengan
sempurna."
Ia mengangkat kamera,
menahannya tepat di depan wajah Nata. Nata bergeming, tidak tersenyum dan tidak
memintanya untuk berhenti, hingga Annalise menekan tombol shutter.
Klik.
"Kamu sendiri, sejak
kapan suka musik?" tanyanya.
Nata mengangkat bahu.
"Nggak inget tepatnya kapan. Keluarga gue fanatik musik—selalu ada musik
yang diputar di rumah. Mulai dari oldies,
jazz, rock sampai pop. Dulu,
bokap gue pernah jadi drummer,
lho."
Annalise tidak bisa
membayangkan ayah Nata yang sekarang bekerja di sebuah kantor pengacara
terkenal, ternyata pernah jadi anggota band kawakan.
"Tapi, buat gue, musik
itu sebuah bentuk obsesi. Gue merasa tenang kalau ada musik, mungkin dengan
cara yang sama, seorang atlet bisa nyaman berada di lapangan, atau seorang
pelukis saat megang kuas."
Jawaban gamblang itu
sama-sekali tidak mengejutkan Annalise. Sebaliknya, dia mengerti. Fotografi dan
musik sama-sama merupakan bagian dari seni; keinginan untuk menyampaikan
sesuatu. Obsesi untuk mencari nada yang tepat, atau menciptakan bait lagu yang
sempurna. Sama seperti keinginan memotret objek yang istimewa atau mengabadikan
satu fragmen kenangan.
"Niki selalu bilang gue
kelihatan kayak orang yang berbeda kalau lagi pegang gitar," kata Nata.
"Kurasa, buat sebagian
orang, seni menjadi bagian penting yang sulit dipisahkan dari diri mereka. Seni
juga merupakan bentuk pelarian, cara untuk melampiaskan emosi. Mungkin karena
itulah, seni terkadang bisa mengubah orang."
Nata mengangguk-angguk setuju
terhadap observasi itu, lalu berkomentar, "Lo lebih dewasa dari kebanyakan
orang yang gue kenal, Ann."
"Dan, kamu nggak
sesinis yang orang lain kira." Annalise membalas kalem sambil tersenyum.
Nata tertawa. "Gue
bukannya sinis, tapi prinsipil. Gue nggak suka orang yang suka pura-pura, dan
gue terbiasa ngomong apa adanya ke semua orang. Kadang, itu disalahartikan
sebagai sarkastis."
"Kamu punya sisi lembut
kalau berhadapan dengan Niki," kata Annalise pelan.
Nata terdiam di balik
kepulan kopi tubruknya, tidak membantah pernyataan tersebut. Raut wajah itu
membuat Annalise turut larut dalam hening. Diam-diam, dia sadar, hening semacam
ini, hanya Niki yang mampu mengisinya.
***
Pada waktu yang sama, Oliver
dan Niki sedang menikmati makan malam, setelah satu jam puas bermain bowling di
sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Niki mengetuk-ngetuk jari di atas
meja sambil menikmati sepiring salad buah, hentakan itu seirama dengan detak
jantungnya yang tidak keruan. Oliver tidak pernah berhenti mengejutkannya;
mulai dari serangkai mawar segar hingga perlakuannya yang gentleman
membuatnya merasa bagaikan seorang putri.
Akhir-akhir ini, mereka
selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Dalam waktu singkat perkenalan
mereka, ternyata ia dan Oliver sering sependapat mengenai banyak hal. Mereka
sama-sama tidak menyukai pelajaran Matematika dan lebih memilih pelajaran
olahraga daripada harus menyelesaikan soal rumit yang berkaitan dengan angka.
Mereka memiliki selera musik yang sama, juga menyukai genre film serupa. Niki
merasa dapat mengobrol dan berdiskusi mengenai banyak hal bersama Oliver.
Percakapan mereka selalu menyenangkan, diselingi dengan tawa dan canda.
Oliver mengangkat beberapa
potong kentang goreng dan memasukkannya ke dalam mulut. "Minggu depan, tim
basketku tanding dengan tim basket sekolah putra di Tangerang. Mau datang
nonton?"
Niki tersenyum mendengar
ajakan itu. "Kalau aku datang, memangnya kamu bisa menang?"
"Kalau kamu datang,
seenggaknya aku akan lebih terpacu untuk menang." Dia menjawab dengan
mudah, membuat Niki memukul lengannya dengan canda.
"Gombal!" ucapnya
di tengah tawa. Tanpa disangka, Oliver meraih kedua tangannya yang sibuk
memukul, lalu meremas jari-jarinya lembut. Niki terdiam, pipinya memerah karena
malu. Tapi, kali ini, dia tidak melepaskan pegangan itu.
***
Wish #18: supaya... hujan
ini tidak pernah berhenti (Niki)
Gerimis.
Niki menatap rinai hujan
mengalir turun seperti butiran salju. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca
mobil, merasakan permukaannya yang dingin dari rintik-rintik kecil yang mulai
mengaburkannya.
"Kamu suka hujan?"
Oliver bertanya dari tempat duduknya di balik kemudi. Air keruh kecokelatan
mulai menggenang di sisi-sisi jalanan, campuran dari air got yang meluap karena
hujan. Mereka sudah terjebak dalam kemacetan selama hampir dua jam, dan langit
semakin gelap tak berawan tanpa tanda-tanda hujan akan berhenti.
Niki tersenyum tipis dan
menggeleng. "Enggak. Aku nggak suka hujan sama sekali. Mendung, kelabu,
membosankan karena gak bisa main di luar."
Oliver ikut mengangguk
mendengar jawabannya. "Sama, aku juga. Gak bisa basket outdoor, jalanan
becek dan macet di mana-mana, kayak sekarang."
"Iya, pokoknya nggak
ngenakin."
Oliver tersenyum melihat
gelagat Niki."Terus, kenapa sekarang kamu memperhatikan hujan sampai
segitunya?"
Niki memejamkan mata,
mendengarkan riuh bunyi hujan yang mulai deras di sekitarnya. Merasa aman
karena dia terlindung di balik kap mobil.
"Nata yang suka
hujan," jawabnya. "Setiap kali hujan, Nata pasti akan menengadahkan
kepala memperhatikan langit dan menjulurkan tangan untuk menyentuh hujan."
"Nata, teman kamu
itu?"
Niki mengangguk.
"Kebiasaan yang aneh, kan? Sejak kecil dia begitu."
"Kalian pasti udah lama
sekali saling mengenal."
Lagi-lagi, Niki mengiyakan.
"Kami tumbuh besar bersama. Sering main dan belajar bareng karena rumah
kami berseberangan."
Dengan nada hati-hati, Oliver
mencetuskan rasa penasarannya. "Cuma teman?"
Niki membelalak dan tertawa
spontan. "Maksudnya...?"
Oliver mengangkat bahu.
"Siapa tahu..."
"Serius, kami hanya
sahabat." Senyum Niki semakin lebar, diam-diam senang ditanya seperti itu.
Dia dapat dengan mudah menangkap nada cemburu dan ingin tahu dari lawan
bicaranya.
Tiba-tiba saja, mesin mobil
berhenti. Hujan mulai turun dengan deras, dentum airnya menghantam kaca jendela
danatap mobil dengan kerasnya. Oliver memucat, mencoba menstater kendarannya
berulang-ulang, tetapi tidak berhasil.
"Kenapa?" Niki
bertanya dengan panik, mulai khawatir seiring dengan bunyi klakson mobil-mobil
di belakang mereka yang dengan tak sabar meminta mereka untuk meminggirkan
mobil.
"Mobilnya mati,"
desis Oliver bingung. "Mungkin karena mesinnya kemasukan air."
"Jadi gimana?"
Oliver memandang sekeliling,
sulit melihat melalui kaca yang buram oleh air hujan. Air sudah naik hingga
hampir melewati ban, hasil dari hujan yang tidak berhenti sejak beberapa jam
yang lalu. Bentuk mobilnya yang dimodifikasi sehingga lebih rendah dari
kebanyakan sedan lain juga memperparah keadaan.
"Kamu tunggu di
sini." Sebelum sempat Niki memprotes, Oliver sudah berlari ke luar dan
menerobos hujan. Tidak lama kemudian, mobil didorong manual oleh beberapa orang
yang sedang nongkrong di warung sekitar. Oliver kembali masuk ke mobil dalam
keadaan basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kita harus nunggu
mobil derek."
"Basah-basah begitu,
nanti kamu masuk angin."
Oliver mencoba tersenyum,
tapi tubuhnya mengigil. "Nggak apa-apa."
Mobil derek baru datang tiga
jam kemudian. Mereka berdua berdiri di emperan, melihat mobil tersebut di
angkut dan dibawa pergi. Beberapa kendaraan bermotor lainnya juga mogok di
tengah jalan, menambah kemacetan di sore yang kelabu ini. Niki memasukkan kedua
tangan ke dalam saku terusannya, kini ikut basah karena hujan kiand eras. Oliver
melepaskan jaketnya yang basah dan melingkarinya di pundak Niki, mereka berdua
gemetar kedinginan.
"Kamu nggak apa-apa
kan?"
Suara Oliver terdengar aneh
karena gigi yang gemeletuk, membuat Niki ingin tertawa. Pipinya sendiri sudah seputih
kertas, dengan rambut lembap dan bibir pucat.
"Dingin, ya?" Oliver
bertanya lagi. Niki hanya bisa mengangguk singkat. Oliver menariknya mendekat,
lalu merapatkan tubuh untuk menghangatkannya. Hati Niki berdesir, dengan
malu-malu, ia mendongak. Oliver tersenyum, lalu meraih tangan Niki dan
memasukkannya ke dalam kantong jaketnya, masih dengan tangannya yang membungkus
jemari gadis itu.
Mereka berdua seperti itu
untuk sementara waktu, menyaksikan hujan berderai-derai, tetapi Niki merasa
hangat luar dalam.
***
FEVER
Wish #19: mengetahui rahasia
Niki (Nata)
Nata meletakkan beberapa
buku pelajaran di atas meja belajar Niki, menyingkirkan bungkusan obat yang
sudah tak terpakai dan segelas air yang sudah setengah kosong. Niki terbaring
lemas dengan wajah pucat di atas tempat tidur, mengenakan piyamanya yang
kebesaran dan bersembunyi di balik selimut tebal. Sudah dua hari dia sakit,
akibat kehujanan akhir pekan lalu. Waktu itu, Niki pulang tengah malam dengan
tubuh basah kuyup, tapi di wajahnya tersungging senyum lebar yang terlihat
sangat bahagia. Entah apa yang telah terjadi; Nata gengsi menanyakannya
walaupun ingin tahu, padahal dia sudah khawatir setengah mati.
"Gue bawain catatan
pelajaran yang ketinggalan hari ini," Nata berkata sambil menjatuhkan
tasnya di atas karpet dan berjalan menghampiri sisi tempat tidur. Niki
mengerang tanpa suara.
"Kenapa sih orang lagi
sakit harus disuguhi PR dan catatan pelajaran?" tolaknya kesal.
Nata tidak menjawab.
Diulurkannya sebelah tangan untuk meraba kening Niki, merasakan panasnya.
"Masih demam, nih," dia menganalisis, "udah makan obat? Buburnya
udah dihabisin?"
Niki memasang raut cemberut.
"Nata cerewet, ih."
Nata balas memasang muka
berang. "Mau cepat sembuh, nggak?"
Niki memang ingin cepat sembuh,
karena kangen pada latihan cheers
dan acara senam pagi sebelum kelas pertama setiap hari. Dia kangen makan bakso
kuah superpedas Mbok Nah di kantin,dan mencicipi lemper ayam serta jajanan
lainnya setiap jam makan siang. Ia bersin sekali, lalu sibuk menyeka hidung
dengan selembar tisu.
"Lagian kenapa sih,
bisa sampai flu berat begini? Memangnya lo mandi hujan semalaman?" Nata
melanjutkan, memberikan pertanyaan sebagai umpan untuk memancing cerita
mengenai kejadian Sabtu lalu. Tapi, Niki malah tersenyum lagi, seakan-akan
sedang mengingat kembali momen-momen manis yang hanya menjadi miliknya dan Oliver.
"Kan, udah kubilang,
mobil Oliver mogok jadi kita harus nunggu mobilnya diderek di tengah hujan.
Udah, cuma itu." Dia menjawab dengan kurang meyakinkan, membuat Nata makin
curiga.
"Cowok itu nggak
macem-macem sama lo, kan?"
Dipandang begitu, Niki jadi
salah tingkah. Pipinya sedikit bersemu, tapi ia menggeleng mantap. "Enggak
sama sekali. Oliver baik banget, kok. Pas kami lagi nunggu, dia ngasih
jaketnya supaya aku nggak kedinginan. Ini pertama kalinya lho, Nat, ada cowok
yang care
banget sama aku."
Enggan mendengar pujian
mengena Oliver yang selalu mahabaik dan mahasempurna, Nata akhirnya mengalihkan
pembicaraan, menyerahkan sebutir obat flu pada Niki yang meminumnya dengan
ogah-ogahan. "Anna titip salam. Dia ada klub fotografi hari ini, jadi baru
bisa menjenguk besok."
Niki menyambut selembar foto
yang dititipkan Annalise untuknya sambil tersenyum. Foto itu adalah foto yang
diambilnya dengan kamera Lomo minggu lalu—saat Niki sedang kepedesan dengan
sepiring pempek, dan Nata duduk di sebelahnya, ikut kerepotan memesankan
segelas teh dingin. Di baliknya, tertulis get
well soon dalam tulisan tangan Annalise yang rapi.
"Aku bosan, Nat. Di
rumah sepi, apalagi Acha juga pergi ke sekolah. Coba kamu dan Anna bisa bolos
buat nemenin aku."
"Huuu." Nata
geleng-geleng mendengar usulan itu dan menyentil kening Nikidengan ujung jari.
Tapi, tiba-tiba saja, dia teringat sesuatu. "Eh... tunggu sebentar,
ya."
Niki menyibakkan selimut
dengan penasaran. Nata cepat-cepat menuruni tangga dan berlari ke rumahnya
sendiri sebelum ke kamar Niki, terengah-engah dan mengepit satu set permainan
Monopoli di bawah lengan.
"Karena lo nggak bisa
keluar, gue temenin main, deh."
"Monopoli!" Niki
berseru riang, ikut duduk di atas karpet sambil memasang papan karton dan
menyusun uang-uang kertas di atasnya. Dia jadi ingat, dulu setiap salah satu di
antara mereka sakit, mereka akan mengeluarkan permainan Monopoli dan bermain
berdua di dalam rumah. Kadang, Nata juga akan menyelinapkan es krim untuk Niki
yang sedang sakit walau mereka tahu makanan tersebut dilarang.
Nata dapat membaca senyum Niki
itu, lalu berkata, "Setiap kali kita main Monopoli, lo selalu kalah."
Sejak kecil begitu.
Niki merebut dadu, lalu
melemparnya asal di atas karpet. Angka tiga. "Itu kan karena aku lagi
sakit, atau lagi kurang beruntung."
Nata mengambil gilirannya.
Angka enam. "Monopoli nggak ada hubungannya dengan keberuntungan.
"Yang penting
senang." Niki berargumen, lalu sibuk memajukan patung manusia plastik yang
menandakan posisinya. "Itu, kan, intinya semua permainan?"
Nata mengangkat bahu dan
melangkah. Niki berseru heboh ketika masuk penjara, dengan boros membeli semua
perhotelan tanpa banyak pikir, dan merengut jika kena denda, seolah lupa akan
sakitnya. Diam-diam, Nata tersenyum sendiri melihat polah gadis itu. Saat-saat
seperti ini adalah yang paling menyenangkan, ketika dia bisa memiliki Niki
untuk dirinya sendiri. Pikiran yang agak egois, memang, tapi, itulah yang dia
rasakan kini.
***
Wish #20: bertemu Niki (Oliver)
Oliver berhenti di depan
rumah bercat gading itu, memandang ke arah jendela kamar lantai dua yang
bertirai merah muda. Sambil mengusap hidung dengan sapu tangan, dia menekan
bel.
Otaknya penuh dengan wajah
gadis itu. Senyumnya, tawanya, suaranya, juga sentuhan tangannya. Dia tidak
sabar ingin bertemu lagi walau dalam keadaan seperti ini.
Pintu terbuka. Seraut wajah
yang tidak asing menyambutnya, dari datar menjadi tidak ramah ketika melihat Oliver.
"Niki ada?"
Nata yang membuka pintu
dengan terpaksa menjawab, "Ada di atas, lagi istirahat." Ada
penekanan pada kata terakhir yang diucapkan dengan nada kurang senang.
"Bisa ketemu
sebentar?"
Walaupun enggan, Nata mempersilakan
Oliver masuk untuk menunggu dan ia menaiki tangga untuk memberi tahu Niki.
Masing-masing memikirkan hal yang sama—kenapa
dia bisa ada di sini? Tidak lama kemudian, Niki turun sendirian,
mengenakan sehelai sweatshirt
hijau muda dengan leggings
hitam. Rambutnya tergerai dan wajahnya agak pucat walau dengan sedikit sapuan lipgloss pink di
bibir.
"Kamu sakit?" Oliver
tidak tahan untuk tidak menyentuh pipinya, lalu merasakan hangat dari
temperatur tubuh Niki yang meningkat.
"Demam dan flu.
Kamu?" Niki memperhatikan Oliver yang juga kelihatan lemas, dengan mata
kuyu dan kantung hitam di bawah mata.
"Sama."
Mereka berdua tertawa geli,
menertawakan nasib yang sama akibat berbagi beberapa jam di bawah hujan.
"Kok, gak
istirahat?"
"Mau ngecek nasib
kamu."
Niki merasa hatinya
melambung. "Aku nggak apa-apa. Mendingan kamu pulang dan istirahat."
"Kamu juga, tidur yang
panjang."
Tangan mereka bertaut,
masing-masing enggak melepaskan genggaman.
"Bye, Oliver."
Oliver berdiri di depan
pintu, lalu mengeluarkan setangkai mawar kuning dari sakunya, sedikit layu
karena terlalu lama disimpan di dalam saku. "Buat kamu. Mawar kuning untuk
menjenguk orang sakit."
Niki menganggukkan terima
kasihnya. Dia memandang Oliver masuk ke kursi belakang mobil yang dipandu oleh
seorang sopir, lalu melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang di tikungan.
Dia menghirup aroma mawar
kuning itu dalam-dalam, lalu tersenyum penuh makna. Nata bersembunyi di balik
tangga, berusaha menguping dengan raut wajah masam.
***
LOVE
Wish #21: menghindari hari
valentine (Nata)
“Lo tahu gimana rasanya
jatuh cinta?”
Hari Valentine sudah tinggal
dua hari lagi, dan seisi sekolah heboh mempersiapkannya. Majalah dinding memuat
artikel cinta lebih banyak dari biasanya, horoskop di radio isinya tentang
asmara semua, dan yang paling parah lagi, seluruh ruangan di sekolah dihiasi
dengan ornamen hati dan pita warna pink.
Nata bosan melihaat warna
itu di mana-mana. Kesal juga melihat oknum-oknum penyebar iklan yang menawarkan
jasa mengantar bunga dan cokelat dari kelas ke kelas.
“Kayak nggak ada kerjaan
lain yang lebih bermutu aja,” begitu katanya setiap kali iklan-iklan sampah itu
mengotori mejanya.
Niki memutar mata, bosan
mendengar gerutuan Nata yang nonstop menjelek-jelekkan hari Valentine. “Itu
karena kamu nggak punya gebetan. Makanya, lebih ramah dikit dong, biar
cewek-cewek nggak kabur.”
Annalise tersenyum geli
mendengar ejekan Niki, sedangkan Nata melengos. Dia tahu sejak dulu Niki suka
bunga, berharap ada cowok yang memberikannya sekotak cokelat dengan pesan
manis. Dia tahu Niki suka segala sesuatu yang romantis. Tapi, segala aksi
romantisme itu tidak sesuai dengan dirinya.
Tanpa sengaja, pandangan
matanya menangkap tulisan di ujung pamflet merah yang terselip di halaman buku
pelajaran.
Secret Admirer katakan cinta pada cinta
rahasiamu!
Mukanya memerah dengan
sendirinya. Tagline
iklan itu membuatnya penasaran. Sialan,
Nata memaki dalam hati. Kenapa jadi kepikiran terus?
***
Wish #22: mengetahui rahasia
Nata (Annalise)
Annalise sedang melewati
rak-rak perpustakaan dengan setumpuk buku sastra Inggris di tangan ketika dia
melihat Nata celingukan di sudut yang kosong. Ia ingin memanggil, tapi
kelihatannya Nata sedang gelisah. Dengan hati-hati, Annalise berhenti dan
mengamati Nata dari tempatnya berdiri, bersembunyi di balik rak kayu tinggi.
Nata berhenti di hadapan
sebuah kotak, lalu mengeluarkan selembar amplop biru dari kantong celananya.
Sambil melongok ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya
di sana, ia memasukkan amplop itu ke dalam kotak dan segera berlalu dengan
langkah terburu-buru.
Annalise tidak sadar dia
telah menahan napas. Ketika menyadari apa yang sedang Nata lakukan, entah
mengapa hatinya berdegup tidak keruan.
***
Wish #23: menikmati hari
Valentine! xoxo (Niki)
Niki merentangkan tangan
lebar-lebar sambil menghirup udara segar. Langit pagi sangat cerah—biru dengan
awan seputih kapas yang merentang di mana-mana. Hari ini hari yang sudah
ditunggu-tunggunya, hari yang identik dengan warna pink, pernyataan cinta dan eksibisi
kasih sayang. Beberapa kotak cokelat buatan tangan yang dikerjakannya semalam
bersama Acha, Annalise, dan Mama sudah rapi terbungkus plastik bermotif hati.
Penampilannya juga spesial untuk hari ini—serba pink dari ujung rambut hingga kaki.
Dilihatnya Nata berjalan ke
luar untuk mendorong sepedanya sambil menguap lebar-lebar.
“Nataoo, kok sepedanya nggak
dicat pink
aja?” godanya sambil tertawa, disambut oleh pelototan Nata. Sahabatnya ini
tidak suka pada ungkapan cinta yang ekstravagan, tidak suka pada public displays of affection,
tidak suka pada yang namanya hari spesial untuk memperingati romantisme secara
internasional. Lagu-lagu cinta yang sendu saja sudah membuatnya muak, apalagi
ini? Niki tersenyum geli ketika memanjat boncengan sepeda Nata, lalu berbisik
ringan di telinganya, “Happy
Valentine’s Day, Nata.”
Hari ini akan menjadi hari
yang istimewa, Niki yakin itu.
***
Pelajaran pertama dimulai
dengan gaduh karena murid-murid lebih bersemangat mengenai perayaan hari
Valentine ketimbang pelajaran Kimia. Pak Marwan mulai kewalahan mencoba
menenangkan isi kelasnya. Hari ini seluruh dunia blingsatan untuk sebuah hari
yang menurutnya tidak lebih penting dari hitungan mol dan elektron partikel.
Nata duduk di kursinya
dengan gelisah. Tadi pagi, Niki sempat memeluknya erat dan mengucapkan selamat
hari Valentine, bisikannya menggelitik kuping dan membuatnya merinding. Dia
hanya bisa berpura-pura cuek dan mengangguk pasif begitu mendengarnya—walaupun
ucapan itu membuatnya deg-degan setengah mati.
Ada satu hal lagi yang
membuatnya tak tenang—program secret
admirer konyol yang akhirnya diikutinya. Hatinya mulai berdetak
kencang ketika seorang wakil OSIS berseragam pink
mengetuk pintu kelas mereka, disambut oleh sorak sorai murid-murid yang sudah
tak sabar lagi.
“Seperti kebiasaan kita dari
tahun ke tahun, hari ini kita akan mengantarkan hadiah dari sang penggemar
rahasia,” ujar kakak senior tersebut memulai dengan senyum. Di tangannya sudah
ada beberapa kantong plastik yang penuh dengan hadiah dan surat, kebanyakan
berbungkus kertas kado merah jambu.
Ajang popularitas ini memang
terkenal di SMU mereka. Setiap murid yang ingin menyampaikan rasa cinta tanpa
mengungkapkan identitas dapat memasukkan surat bertuliskan nama pujaan mereka
ke dalam sebuah kotak yang diletakkan tersembunyi di sekolah. Surat tersebut
akan diberikan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya pada hari
Valentine. Nata selalu menganggapnya bodoh dan pengecut, sesuatu yang tidak ada
gunanya—tapi toh dia melakukannya juga. Setelah memasukkan suratnya ke dalam
kotak, rasanya ingin sekali mengambilnya kembali, tetapi tidak bisa. Untung
saja tidak ada yang tahu dia turut berpartisipasi.
“Helena!”
Ketika nama itu dibacakan,
seisi kelas riuh rendah menyorakinya. Helena, yang sudah terbiasa menjadi pusat
perhatian, hanya tersenyum bangga dan maju untuk mengambil tumpukan surat dari
penggemar-penggemarnya yang sebagian besar adalah murid-murid populer dari
kelas sebelah.
“Vanya!”
Beberapa nama kembali
dibacakan—Annalise bahkan mendapatkan lima surat, dan tanpa diduga Nata juga
mendapatkan tiga. Niki tersenyum begitu mendengar namanya dipanggil, kemudian
beranjak untuk menerima empat amplop yang dilem rapi. Nata melihat miliknya ada
di dalam tumpukan itu, dan berusaha menahan diri untuk tidak menaariknya dari
tangan Niki, lalu merobek-robeknya supaya perasaannya tidak ketahuan.
Namun, dia hanya terpaku di
mejanya, meremas erat-erat surat-surat miliknya yang sama sekali tidak menarik
perhatiannya.
***
Annalise melihat Nata
mengaduk-aduk kuah baksonya tanpa selera, lalu meletakkan sendok di tepi
mangkuk. Sedari tadi, dia berusaha memulai percakapan, tapi Nata sepertinya
tidak terlalu memperhatikan.
“Nat, kok baksonya nggak dimakan?”
Ketika melihat Nata masih diam saja, Annalise sedikit kehilangan kesabaran. “Nata!”
Kali ini, untungnya Nata
merespons. “Huh?”
“Kamu kenapa sih?”
Nata tidak ingin mengakui
bahwa kegilaan di hari Valentine ini sudah hampir mengganggu mentalnya juga.
“Nggak apa-apa.”
Annalise tersenyum maklum.
“Kalau memang nggak ada apa-apa, kamu nggak bakalan bengong begini.”
Nata menegakkan tubuh dan
segera menyuap makanannya, baru sadar bahwa bahasa tubuhnya begitu mudah
terbaca oleh Annalise. “Niki mana?”
“Pulang duluan, ada janji
dama Oliver.”
Kuping Nata memanas
mendengar nama itu disebut. “Lagi?” Ia tak tahan untuk tidak berkomentar sinis.
“Hari ini, kan, hari
Valentine.” Annalise beralasan seadanya. Dia tidak ingin bilang bahwa Niki
sudah mempersiapkan segalanya hingga detail terakhir untuk kencan kali ini,
termasuk sekootak cokelat buatannya sendiri yang sudah didekorasi secantik
mungkin. Cokelat yang berbeda dari yang diberikannya pada Nata dan murid-murid
lain di kelas, karena khusus untuk yang ini, Niki begadang untuk membuatnya.
Nata mengangguk tanpa makna,
menyeruput kuah baksonya tanpa kata-kata dan menatap lurus ke depan.
Annalise menghela napas,
lesu. Sejak melihat Nata memasukkan surat yang kini ada dalam ransel Niki,
hatinya tidak tenang. Sering kali dia ingin mengaku saja bahwa dia menyaksikan
aksi Nata itu, tapi setiap kali ingin buka mulut, dia kembali bungkam. Annalise
kerap kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa masalah ini tidak ada sangkut
pautnya dengan dirinya.
Namun, harus diakuinya—ia
kecewa ketika melihat surat itu diserahkan kepada Niki. Lalu dia ingin
menertawakan dirinya sendiri keras-keras. Dasar
bodoh, kamu kira surat itu akan ditujukan kepada siapa? Untuk kamu?
Sejak awal, Annalise sudah menduga siapa penerimanya, tetapi hal itu tidak
menghentikan secercah harapan untuk menyeruak masuk ke dalam hatinya. Dan kini,
ketika dia sudah yakin akan perasaan Nata pada Niki, dia cukup senang hanya
dengan mendampingi pemuda itu memperjuangkan perasaannya. Ah, mungkin itu yang
seharusnya dilakukannya. Memberikan dukungan, dan sedikit dorongan.
“Nat.” Annalise menyentuh
lengan Nata lembut, lalu menarik tangannya. “Menurutku, kamu harus jujur sama Niki.”
Nata mengangkat muka, namun
tidak segera menjawab. “Maksudnya?”
Sebagai teman dekat mereka, Annalise
merasa tidak bisa diam saja melihat keduanya tidak sepaham. Entah sudah berapa
kali dia harus menengahi pertengkaran mereka ketika Nata uring-uringan karena Niki
terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Oliver. Niki pun tampak adem-ayem
saja, terlalu terhanyut dalam kisah cintanya sendiri untuk menyadari bahwa
kecemburuan Nata punya alasan yang kuat.
Annalise memutuskan bahwa
basa-basi hanya akan membuat Nata kesal, jadi dia langsung ke topik pembicaraan
sesungguhnya. “Aku liat kamu masukin surat ke dalam kotak secret admirer
yang ada di perpustakaan.”
Wajah Nata menegang.
“Surat itu untuk Niki, kan?”
Annalise mempertegas. Nata diam saja, raut wajahnya sulit dibaca—sebuah
kombinasi antara rasa kesal, malu dan entah apa lagi. “Aku tau kamu sayang sama
Niki—sesuatu yang lebih dari sekedaar persahabatan.”
Nata tidak tahu bagaimana
harus menjawab, sedikit terkejut karena Annalise yang biasanya memilih untuk
diam dapat secara gamblang membeberkan rahasianya. “Jadi, gue harus gimana?” Ia
bertanya setenang mungkin walau perasaannya sudah campur aduk.
“Bilang sama Niki yang
sesungguhnya, kalau kamu sayang dia.”
Nata mendorong mangkuknya
jauh-jauh, benar-benar kehilangan selera untuk makan. Secara otomatis ia
menampik, menggunakan alasan yang selama ini dipakainya untuk meyakinkan diri
sendiri bahwa tidak ada yang berubah di antara mereka. “Gue dan Niki hanya
sahabat, nggak lebih.”
“Is that how you reallu feel?”
Nata terdiam lagi, tidak
tahu bagaimana harus menjawab. “Gue sendiri nggak tahu.” Akhirnya, dia berkaata
lirih.
Itu jawaban yang jujur. Nata
tidak mampu mengartikan perubahan rasa yang dimilikinya untuk Niki. Dia tidak
tahu sejak kapan dia mulai berdebar-debar setiap kali berdekatan dengan sahabat
perempuannya itu. Dia tidak mengerti mengapa dia merasa kesal ketika Niki
bercerita tentang cowok-cowok yang mendekatinya, marah pada teman-teman
laki-lakinya yang menggosipkan Niki. Dia tidak tahu mengapa perasaannya
terombang-ambing seperti ini. Sukakah? Cintakah? Bukankah Nata kebal terhadap
segala sesuatu yang berkaitan dengan cinta? Dia selalu menganggap jatuh cinta
sebagai sesuatu yang bodoh dan menyebalkan, yang membuat orang kehilangan akal
sehat dan jungkir balik karenanya.
Ia merasakan Annalise
memperhatikan perubahan raut wajahnya, lalu tersenyum simpul. “Perasaan semacam
ini wajar kok. You
just have to fight for it.”
Untuk pertama kalinya hari
ini, Nata mendongak dan berhenti menghindari tatapan Annalise. “Gue nggak
bisa,” desisnya.
Semuanya tidak semudah itu. Nata
dan Niki—mereka sudah terlalu lama bersahabat, dan Nata tahu Niki tidak ingin
ada apa pun yang berubah di antara mereka. Dia pun tidak ingin persahabatan
mereka goyah hanya karena ada cinta yang menyeruak secara sepihak.
Annalise membalas tatapannya.
“Cinta itu nggak memiliki, Nat. Semua orang bebas merasakannya, menyimpannya.
Tapi, kalau kamu terlalu takut untuk mengakuinya, selamanya kamu bisa
terperangkap di dalamnya.”
Wish #24: sebuah pertanyaan
(Niki) & sebuah jawaban (Oliver)
Niki memeluk karangan mawar
merah segar di hadapannya, sesekali menunduk untuk menghirup aroma harumnya.
Dia tersenyum lebar kepada Oliver yang sedang menyetir, sebelah tangannya
menggenggam jemarinya sepanjang perjalanan pulang. Niki ingat beberapa tahun
yang lalu, dia pernah dengan polos bertanya pada Nata, bagaimana rasanya jatuh
cinta yang sesungguhnya? Kini dia sudah tahu jawabannya—persis
seperti apa yang diimpikannya selama ini. Bahagia. Begitu senangnya hingga
tidak bisa berhenti tersenyum. Berdebar-debar hingga mau pingsan rasanya.
Oliver sering memujinya.
Tidak pernah ada cowok yang begitu blak-blakan memberi tahu Niki bahwa ia
cantik, sekalipun belum sempat berganti pakaian, masih mengenakan seragam
sekolah dengan rambut tergerai seadanya, juga wajah yang hampir polos tanpa make-up. Saking
terburu-burunya, sore ini Niki hanya sempat mengulaskan pelembap bibir berwarna
pink,
juga mengoleskan sedikit cologne
bayi beraroma lembut kesukaannya.
Niki menunduk, wajahnya
berser-seri. Di hadapan Oliver, dia terus-menerus tersenyum bodoh dengan wajah
hangat yang memerah. Dia ingin berhenti memasang ekspresi konyol seperti itu,
tapi dia tidak mampu. Rasanya dia sudah tidak bisa menahan kebahagiaan ini
sendirian. Mungkin ini terdengar aneh, tapi Niki ingin cepat-cepat pulang dan
memberi tahu segalanya pada Nata.
Mobil berhenti di depan
rumahnya. Oliver berdiri di depan pintu mobil yang terbuka, seakan
menghalanginya keluar.
“Niki, aku mau ngomong
sesuatu yang penting.”
Niki menatap Oliver,
menunggu apa yang ingin dikatakannya dengan hati berdebar.
“Sejak pertama kali melihat
kamu, aku selalu merasa ada sesuatu mengenai kamu yang sangat istimewa...,
seakan-akan kamu bersinar di antara orang-orang lain. Aku senang bisa kenal
sama kamu, ngobrol dan jalan bareng kamu.”
Oliver menelan ludah,
terdiam sejenak seakan sedang mencoba menemukan kata-kata yang tepat.
“Kamu... mau jadi pacarku?”
Lidah Niki kelu. Dia ingin
menjawab, ingin meneriakkan satu kata itu keras-keras, tapi otaknya kosong.
Dengan lemas, Niki mengangguk, genggamannya pada ikatan mawar-mawarnya
melonggar. Ketika Oliver merunduk untuk mengecup bibirnya, Niki memejamkan mata
dan membisikkan jawaban itu untuk mereka berdua.
***
Wish #25: sebuah pernyataan
(Nata)
Nata menunggu di atas
trampolin hingga lewat jam makan malam. Matahari sudah terbenam dua jam yang
lalu, dan perutnya sudah keroncongan, tapi Niki belum pulang juga. Sesekali
deru mesin mobil atau langkah kaki membuatnya terjaga, namun Niki tidak kunjung
datang.
Kata-kata Annalise tadi
siang terus mengganggu pikirannya, membuatnya bingung dan serba salah. Dia
sudah memikirkannya matang-matang, memainkan berbagai jenis skenaNata yang
mungkin terjadi, juga mempertimbangkan masak-masak segala kemungkinan yang ada
jika dia mengakui perasannya pada Niki. Dia rela mengambil resiko itu. Dan yang
paling penting, Nata ingin berhenti berpura-pura.
Ki, gue sayang lo.
Nata mengakuinya. Entah
sejak kapan, entah mengapa dan entah bagaimana, dia tidak tahu. Yang
diketahuinya adalah, dia mencintai Niki, dan apa pun yang terjadi, dia akan
terus menyayanginya seperti itu. Apa pun jawabannya nanti, Nata hanya ingin
melepaskan pernyataan itu dari hati kecilnya. Tidak ingin membohongi Niki lagi
dengan kedok persahabatan, sedangkan yang diinginkannya adalah merengkuh pundak
mungil itu dalam satu dekapan hangat.
Deru mobil terdengar di
kejauhan. Nata memasang telinga dan menunggu. Tidak lama kemudian didengarnya
langkah kaki Niki mendekat. Sebelum kehilangan keberanian, Nata buru-buru
berkata.
“Ki, gue pengen bilang
sesuatu sama lo. Penting.”
Niki mengambil tempat di
sebelahnya, memeluk lutut dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tampaknya dia
tidak memperhatikan raut wajah Nata yang cemas, juga tidak mendengar urgensi
dalam suaranya.
“Aku juga, Nat. Tahu nggak?
Barusan Oliver minta aku jadi pacarnya, dan aku bilang iya.” Senyumnya melebar,
lalu Niki menoleh dan menatap Nata dengan raut tidak percaya. “Can you believe it? Aku
dan Oliver. Rasanya nggak nyangka, sesuatu yang dari dulu kuimpikan sekarang
jadi kenyataan. Ternyata Prince
Charming memang bener-bener ada. Love
at the first sight betul-betul ada.”
Nata hanya bisa menelan
kembali kata-kata yang belum sempat diucapkan. Momen yang dipersiapkannya sejak
tadi lenyap begitu saja, tergantikan oleh euforia sepihak yang membuatnya
kebas. “Oh ya?”
Niki tertawa kecil. “Kok,
ekspresinya datar, sih? Mestinya, kamu seneng, Nat, sahabatmu ini udah dewasa.
Udah bisa nemuin kebahagiaannya sendiri. Sekarang nggak akan manja dan
ngerepotin kamu lagi untuk urusan-urusan kecil, dan kamu nggak usah ngomel lagi
karena aku lelet atau berat-beratin boncengan sepeda kamu setiap hari.”
Nata tidak tahu bagaimana
harus menjawab. Sebenarnya, Nata ingin sekali mengatakan bahwa Oliver bukanlah
orang yang tepat untuk Niki, juga ingin menyampaikan perasaannya sendiri. Tapi,
ekspresi gembira di wajah Niki membuatnya bungkam. Kata-kata yang akan
diucapkannya hanya akan melukai gadis itu, dan Nata tidak ingin melakukannya.
Dipaksakannya seulas senyum.
“Jadi, gue harus bilang apa, nih? Selamat...?”
Niki mengangguk bahagia.
“Kamu orang pertama yang kukasih tahu.” Ditariknya Nata mendekat dan dipeluknya
eraat-erat. “Thanks
ya, Nata. Kamu memang teman yang baik walau suka nyolot, galak dan
sensi. Selamanya kamu akan jadi sahabat Niki yang terbaik, ya kan?”
Nata tersenyum pahit, untuk
segala sesuatu yang sudah terlambat.
Niki menggumam pelan, masih
dengan Nata dalam rangkulannya. “Inget janji kita waktu itu?”
Nata ingat. “Waktu itu gue
bilang kalau lo pasti lebih dulu jatuh cinta dibanding gue.”
Niki terSarah. “Kamu bener, Nat.
Dan ternyata jatuh cinta itu bener-bener menyenangkan. Kamu akan ngerti
maksudku kalau kamu mengalaminya nanti.”
Nata memandang Niki yang
melonjak-lonjak ringan di atas trampolin, wajahnya tidak pernah tampak
sebahagia sekarang.
Lo salah, Ki. Yang duluan
jatuh cinta di antara kita ternyata bukan lo, tapi gue.
**
Wish #26: a cure for broken
hearts (Annalise)
Annalise berdiri di depan
pagar rumah Nata, menggenggam erat sekotak cokelat terakhir. Entah apa yang
membawanya di sini, dia sendiri masih belum bisa memutuskan apa yang akan
dikatakannya pada pemuda itu jika mereka bertemu nanti. Dengan ragu, ia menekan
bel, lalu merasa serbasalah ketika Dhanny yang membukanya.
“Cari Nata?” tanyanya,
sambil mengusap rambut yang masih setengah basah dengan sebelah tangan.
Annalise mengangguk. “Dia
ada?”
“Lagi semedi di kamar,
sepertinya mood-nya
kurang bagus. Kamu... tau kenapa?”
“Mungkin.” Annalise mengulas
senyum melihat ekspresi Dhanny yang khawatir. Ia meniti tangga ke kamar Nata,
lalu mengetuk pintunya dua kali. Ketika tidak ada yang menjawab, dia memutar
gagang dan beranjak masuk. Nata sedang duduk di atas karpet, memetik senar
gitar dengan asal-asalan.
“Boleh masuk?:”
Nata mengangguk samar. Annalise
duduk di sebelahnya dan meletakkan kotak cokelat berpita putih itu di atas
meja. “Buat kamu. Aku menyisakannya semalam.”
“Jadi ini cokelat sisa?” Nata
separuh bercanda, tapi nadanya tanpa humor. Ia lalu mengubah topik pembicaraan;
sepertinya hal itu sudah mengganggu pikirannya sejak tadi. “Tadi... gue ketemu Niki.”
Nata tidak perlu melanjutkan
kalimatnya karena Annalise sudah tahu. Barusan Niki meneleponnya untuk
bercerita panjang lebar mengenai Oliver. Karena itulah dia buru-buru datang ke
sini.
“Sejak dulu Niki pengen
punya cowok yang sempurna, yang nggak takut untuk bilang sayang dan ngasih
berbagai macam kado. Dan, gue bukan tipe cowok seperti itu.” Nata menjauhkan
gitarnya dan tersenyum pada Annalise. “Thanks
buat nasihat lo, Ann. Gue tau lo care
sama gue dan Niki. Tapi kita berdua Cuma sahabat, nggak bisa lebih dari itu.
Nggak akan ada yang berubah.”
Annalise bersandar pada tepi
tempat tidur Nata, pandangannya menerawang jauh. “Kamu nggak bakalan nyesel?”
“Kalo dia seneng, itu udah
cukup buat gue.”
Ekspresi di wajah Nata
membuatnya merasa sedih. Kata-kata penghiburan yang ingin dikatakannya terasa
klise dan kaku di lidah sehingga Annalise tidak jadi mengatakannya.
Nat, apa Cuma Niki yang bisa
bikin kamu tersenyum? Apakah nggak ada orang lain lagi yang mampu menggantikan
posisinya di hati kamu?
Annalise ingin
menanyakannya. Ingin mengatakan bahwa dia mengerti perasaan Nata, karena dia
pun merasakan hal serupa. Tapi, dia malahan berusap, “Apa pun yang terjadi,
kita bertiga masih sahabat. Itu yang penting.”
Nata tersenyum sendu sebagai
balasannya. “Iya, kita bertiga selamanya temenan.”
Tanpa sadar, sebutir air
mata meluncur turun, dan Annalise mengusapnya sebelum Nata sempat melihat.
***
Ifu duduk di depan meja
belajarnya, dengan lampu tidur yang dinyalakan remang-remang supaya tidak
mengganggu Acha yang sedang terlelap. Sudah hampir tengah malam, tapi dia masih
belum bisa tertidur. Rasanya seluruh kebahagiaan hari ini terlalu menyesakkan
sehingga dia terlalu bersemangat untuk istirahat. Besok pasti seluruh tubuhnya
pegal-pegakl dan jadi mengantuk di kelas.
Dia baru saja menghabiskan
satu jam terakhir bercerita pada Acha mengenai Oliver, sampai adiknya itu
bosan dan tertidur. Bunga-bunga pemberian Oliver sudah ditata rapi di dalam
sebuah vas kaca, beberapa tangkai yang sudah layu bahkan sudah dikeringkan
untuk disimpan. Niki membelai kelopaknya yang sehalus beludru sembari
tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba dia teringat
sesuatu. Empat surat dari penggemar rahasianya yang didapatnya di sekolah tadi
siang masih belum sempat dibuka. Dikeluarkannya dari ransel dan ditelitinya
satu per satu. Salah satu dari keempat surat itu menarik perhatiannya karena
amplopnya yang biru di antara warna merah jambu. Amplop itu sederhana, tanpa nama,
dan di dalamnya hanya ada selembar kertas tipis.
Isinya adalah sepotong sajak
yang diketik rapi.
Niki bertopang dagu di atas
meja, menggunakan remang cahaya kuning untuk membacanya.
Bulan emas tinggal separuh
Bintang-bintang sangat
pemalu
Kau terduduk di sampingku
Aku lantas mencintai
bayanganmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Hatiku berserakan... lebur
dan lepuh
***
ACCIDENT
Wish #27: memenangkan
kompetisi basket (Oliver)
Niki takjub bukan main saat
ia pertama kali menginjakkan kaki di gerbang depan sekolah Oliver. Pasalnya,
sekolah elite
yang selama ini hanya dikenalnya melalui kabar burung dan omongan orang-orang
ternyata memang seperti yang digosipkan. Pagar utamanya tinggi dan kokoh,
dipoles mengilap tanpa karat. Pekarangan sekitarnya asri, seperti kampus-kampus
luar negeri yang dipenuhi pohon rindang dan kursi taman yang terbuat dari
tembaga. Lapangannya dua kali lebih besar dari milik sekolah Niki, dilengkapi
pula dengan fasilitas kolam renang indoor
yang dapat dilihat melalui kaca transparan besar. Belum lagi gedung-gedungnya
yang bercat kuning pucat, semuanya tinggi dan rancangan modern, pastinya karya
arsitektur ternama. Masing-masing ruang kelas memiliki jendela tinggi yang
transparan, terlihat seperti rumah kaca dengan ruang belajar luas, lengkap
dengan loker pribadi.
“Pasti mahal sekali ya,
sekolah di sini?” celetuknya polos. Oliver, yang baru saja memarkir mobil di
area yang tak kalah lapang, ikut tersenyum.
“Yang sekolah di sini
kebanyakan anak-anak diplomat, selebritas atau warga negara asing,” jawabnya
sambil menenteng duffle
bag berisi perlengkapan olahraga./ “Yuk, masuk. Jangan bengong aja
di sana.”
Niki berusaha keras terlihat
biasa di dalam sekolah itu. Bahkan, siswa-siswinya tampak amat modis dalam
seragam serbaputih. Banyak murid berambut pirang dan bermata biru di sana-sini,
mengingatkannya akan Annalise. Oliver sepertinya sangat populer, karena mereka
semua menyapanya dan tak sedikit yang menepuk pundaknya untuk mengucapkan
selamat bertanding.
“Ayo.” Oliver menggandeng tangannya
dan menariknya menuju lapangan basket indoor
sekolahnya. Gestur posesif ini membuat Niki senang.
Lapangan basket indoor yang luas
sudah dipadati orang. Hari ini, tim basket SMU Pelita akan bertanding dengan
tim SMU Aksara yang tahun lalu memenangi kompetisi regional. Niki tahu Oliver
sudah berlatih keras, dan setiap hari yang diomongkannya hanya pertandingan
ini. Sebagai bentuk dukungannya, Niki menawarkan diri untuk datang memberi
semangat.
Bangku-bangku penonton sudah
hampir penuh. Niki menyelinap ke baris ketiga, duduk di ujung sembari
memperhatikan Oliver mengenakan jersey
putih emas di atas kausnya, lalu membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Tim
lawan juga sudah siap, beberapa di antaranya bahkan sudah berlaga di sudut
lapangan untuk melakukan latihan kecil.
Niki merasa kikuk dalam
seragam sekolahnya yang beda sendiri dengan orang-orang di sekelilingnya.
Bandana biru muda yang melilit di kepala dan gelang-gelang oversized
plastik berwarna pelangi di pergelangan tangannya membuatnya lebig self-conscious
lagi, kekanakan dibanding dengan aksesoris platina dan jam bermerek milik
siswi-siswi yang duduk tidak jauh darinya.
Tapi, lalu Oliver menangkap
pandangannya dan mengedipkan sebelah mata, tidaklupa melambaikan tangan dengan
senyum percaya diri. Niki merasa jauh lebih baik setelahnya, walau beberapa
gadis berbalik memelototinya dengan sengit. Dia sudah tahu Oliver adalah salah
satu That It Guy
di sekolah ini—dan dia merasa sangat, sangat beruntung.
Peluit dibunyikan dan
anggota masing-masing tim berlari kecil ke tengah lapangan. Bola basket
dilempar tinggi-tinggi, dan permainan pun dimulai begitu Oliver berhasil
menyentuh bola sedetik lebih cepat dari ketua tim basket lawannya. Para pemain
bergerak cepat, masing-masing mengambil posisi dan mengikuti arah bola dengan
lincah. Decit sepatu dan dentuman bola berbaur dengan seruan dan bunyi peluit. Niki
menonton dengan tegang, ikut berseru riuh rendah ketika skor pertama jatuh ke
tim Oliver. Mata pemuda itu sama sekali tidak meninggalkan bola, dengan seksama
memperhatikan kinerja timnya dan tidak ragu meneriakkan instruksi. Sesekali,dia
mengelap keringatnya dengan ujung kaus, gayanya yang tenang dan penuh kalkulasi
membuat tim lawan gerah.
Baru saja permainan
berlangsung lima belas menit, handphone
Niki bergetar di dalam tasnya. Terganggu dan tidak berkonsenterasi, Niki
membaca pesan singkat yang barusan masuk. Jantungnya nyaris berhenti berdetak
ketika otaknya mencerna kalimat pendek itu.
Sender: Annalise
Ki, Nata kecelakaan.
Sekarang masuk rumah sakit.
Tanpa banyak pikir, Niki
melesat dari bangkunya dan berlari ke arah pintu keluar. Dengan panik, ia
memanggil taksi dan meminta pengemudinya untuk ngebut menuju rumah sakit. Yang
dibayangkannya hanya Nata yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, darah
memenuhi seprai putihnya. Dia berusaha mengenyahkan pikiran itu dengan
menggelengkan kepala kuat-kuat.
“Pak, tolong lebih cepat,
ya,” pintanya, berdoa dan berdoa untuk keselamatan Nata.
***
Wish #28: supaya Nata
baik-baik saja (Niki)
Niki menghambur ke dalam
ruangan tempat Nata sedang dirawat, menemukan sahabatnya sedang dalam posisi
duduk, menggunakan dua bantal besar sebagai penyangga. Perban besar menutupi
danhi dan beberapa bagian tubuh lainnya.
“Hai, Ki.” Teguran santai
itu tidak membuat Niki lega, malahan semakin panik.
“Kamu nggak apa-apa kan, Nat?
Mananya yang sakit?” Niki membalikkan tangan Nata yang dibalut dengan
hati-hati, mencoba mencari bekas luka. “Aduh... kok bisa begini, sih?”
“Segitu khawatirnya sama
gue?” Nata menggoda, senyumnya senang, bertukar pandangan dengan Annalise yang
juga tersenyum geli di sampingnya.
“Serius, nih! Yang mana yang
luka?”
Senyum Nata semakin
mengembang. “Cuma lecet-lecet kecil aja, kok. Yang parah di sini.” Ia menunjuk
keningnya, “kena enam jahitan.”
“Hah?” Niki merinding
mendengarnya. “Kok bisa?”
Annalise ikut bicara untuk
menenangkan Niki. “Nata terserempet mobil sampai jatuh dari sepedanya, tapi
hanya lebam dan luka ringan di sekujur tubuh. Luka di keningnya cukup besar,
tadi sampai berdarah-darah banyak sekali, tapi untungnya sekarang udah nggak
apa-apa.”
Niki mengembuskan napas
lega. “Bawa sepedanya nggak hati-hati, ya?” tuduhnya curiga. “Ngebut, kan?”
Nata mendelik, kesal dituduh
yang bukan-bukan. “Enak aja. Yang ngebut tuh mobil yang nyerempet gue, nikung
sembarangan lagi,” gerutunya. “Lo dari mana aja sih, kok datengnya lama?”
Mendengar pertanyaan itu,
mendadak saja Niki teringat pada apa yang ditinggalnya. Oliver, pertandingan
basket, lapangan SMU Pelita. Gawat! Dia benar-benar lupa sama sekali.
“Tadi aku lagi nonton
pertandingan basket di sekolahnya Oliver.” Niki menggigit bibir dengan rasa
bersalah. Mendengar nama Oliver disebut, raut Nata berubah masam, tapi dia
tidak berkata apa-apa.
Sudah ada lima missed call di handphone Niki
yang tidak disadarinya. Niki beranjak keluar ruangan dan menekan nomor Oliver
dengan speed dial.
Panggilannya terjawab dalam satu kali dering.
“Halo? Niki?” Suara Oliver
sulit terdengar dalam kehebohan riuh-rendah di ujung telepon. “Kamu di mana,
kok tiba-tiba menghilang?”
“Sori... tadi aku dapat SMS
kalau Nata kecelakaan, jadi aku langsung ke rumah sakit dan lupa ngabarin
kamu.”
“Oh.” Oliver terdengar
kecewa. “Dia nggak apa-apa?”
“Luka-luka ringan, dan ada
luka yang dijahit.”
“Kamu bakal balik ke sini,
kan?” Nada suaranya penuh harapan. “Kita menang lho, sayang kamu nggak lihat.”
“Sori,” Sekali lagi Niki
meminta maaf, “kita rayainnya besok aja, ya? Aku yang traktir deh.” Ia kian
merasa bersalah, apalagi ia sama sekali tidak melihat akhir dari pertandingan
itu. Kini dia malahan menolak ajakan perayaan kemenangan Oliver.
Hening. Agak lama sebelum Oliver
menjawab. “Kamu... mau nemenin Nata di sana, ya?”
“Iya,” jawab Niki jujur.
“Kasihan Nata sendirian di rumah sakit, belum bisa pulang karena masih harus check-up.”
“Oh..., ya udah.”
Telepon ditutup.
***
Wish #29: Niki (Nata)
Rumah sakit setelah lewat visiting hours
sangat lengang. Lorong-lorongnya sepi, hanya sesekali terdengar bunyi pintu
kaca didorong, dan langkah kaki serta bisikan kecil para dokter dan suster yang
sedang jaga malam itu. Dua tempat tidur lain yang berbagi ruang dengan Nata
kosong tanpa pasien, membuatnya lega karena memiliki lebih banyak privasi.
Nata menatap Niki yang
sedang tertidur sambil menelungkupkan tangan di tepi tempat tidurnya. Lembaran
kartu Uno berserakan di sampingnya, belum sempat dibereskan. Tadi mereka
bermain kartu untuk melewati waktu, tapi yang ada malah Niki kelelahan dan
dengan mudah terlelap dalam hitungan menit tanpa pembicaaraan. Nata tidak punya
masalah dengan itu, dia cukup senang memperhatikan Niki beristirahat dengan
muka angelic
seperti sekarang.
Dia gembira karena Niki
segera datang ke rumah sakit, meninggalkan pertandingan basket Oliver yang
sepertinya cukup penting. Dia juga senang Niki tidak langsung pulang ke rumah
atau kembali menemui Oliver, malah mengajukan diri untuk menemaninya semalaman,
menggantikan Annalise dan keluarganya yang sudah lama menungguinya di rumah
sakit. Dalam hati, dia bersorak—ini artinya Niki memilihnya. Pikiran kekanakan
itu membuatnya tak berhenti tersenyum, hampir sama sekali melupakan mobil yang
tadi sore menyerempetnya hingga terjatuh ke tepi jalan, membuatnya terpaksa
menghabiskan semalam di rumah sakit.
“Gue sayang lo, Ki. Sayang
banget.”
Kata-kata itu belum pernah
diucapkannya benar-benar, tetapi sama-sekali tidak terasa janggal.
***
Wish #30: menemani Nata di
rumah sakit (Annalise)
Annalise mengendap masuk ke
ruang tepat Nata dirawat, meraih gagang pintu dan memutarnya sepelan mungkin
supaya tidak menimbulkan suaara. Barusan dia berbohong pada suster bahwa dia
adalah adik Nata, supaya bisa diizinkan masuk.
Sebuah kantong plastik
bening berisi beberapa batang es krim kesukaan Nata sudah dibelinya dalam
perjalanan ke sini. Nata pasti kebosanan bukan main di kamarnya, hanya ditemani
satu unit televisi yang menyajikan siaran sinetron sepanjang malam. Niki bilang
dia akan pulang pukul delapan, jadi Annalise bermaksud menggantikannya untuk
menemani Nata.
Langkahnya terhenti. Dia melihat
pemuda itu terbaring di atas tempat tidur dalam pakaian rumah sakit berwarna
biru muda, di wajahnya sebuah ekspresi lembut yang sulit dijelaskan. Lalu, Annalise
melihat Niki yang sedang terlelap, dan sayup-sayup mendengar kalimat yang
dikatakan Nata. Dan, dia mengerti.
Ia mengambil beberapa
langkah mundur yang agak terburu-buru, lantas menabrak seseorang di depan
pintu. Ketika menoleh, Annalise bertatapan langsung dengan Dhanny.
***
Wish #31: membaca pikiran
seseorang (Dhanny)
Dhanny menyandang tas berisi
pakaian dan handuk kotornya setelah dua jam penuh bermain futsal. Dia melangkah
masuk ke dalam rumah sakit untuk menjenguk adik satu-satunya yang hari ini
bermalam di sini.
Kasihan, pasti suram banget
hidupnya di sini, begitu
putusnya, jadi ia pun membawakan beberapa jilid komik baru kesukaan Nata untuk
santapan malam ini. Lumayan untuk melewati bosan.
Di lantai tiga, dia bertemu
dengan seorang suster yang menghalangi jalannya. “Maaf, Dik, jam besuk sudah
habis.”
“Saya kakaknya,” Dhanny berkata,
menunjuk bawaannya, “Saya Cuma sebentar kok, hanya mau membawakan barang.”
Suster itu tampak ragu,
tetapi luluh melihat senyum Dhanny yang memohon. “Ya sudah, tapi jangan
lama-lama ya. Barusan adik perempuannya juga datang berkunjung, mungkin sekarang
masih ada di dalam.”
Adiknya? Dhanny tidak habis pikir,
tapi dia diam saja dan segera berjalan ke kamar rawat Nata. Baru saja ia ingin
masuk, tapi pintu terbuka dan muncul salah satu teman Nata—gadis bule
itu—dengan ekspresi tidak keruan.
Dhanny mengingat namanya. “Annalise?”
“Anna.” Dia mengangguk
singkat, masih tampak terkejut.
“Ada apa? Nata ada di dalam,
kan?” Sebelum Annalise mampu merangkai kata untuk menjawab, Dhanny menjulurkan
kepala dan melihat adiknya, yang sedang menarik selimut miliknya sendiri untuk
menghangatkan Niki yang sepertinya sedang pulas. “Nggak mau masuk?”
Annalise menggeleng. “Aku
mau pulang saja.”
Alvim mengamati perubahan
raut wajah Annalise, tiba-tiba saja mengerti apa yang membuat gadis ini berubah
pikiran begitu saja. Digosok-gosokkannya kedua telapak tangan yang mulai dingin
karena sejuknya malam.
“Kuantar pulang, ya?”
Melihat Annalise mempertimbangkan ajakannya dengan ragu, senyum Dhanny
mengembang. “Aman kok, pasti selamat tiba di rumah. Tapi sebelummnya, temenin
aku makan dulu sebentar.”
Annalise terdiam sejenak,
lalu mengangguk dengan senyum kaku dan mengikutinya menuju 24-hour café
di lantai bawah.
“Percaya atau tidak, rumah
sakit ini punya café dengan makanan yang enak banget, walaupun banyak orang bilang
makanan rumah sakit nggak bisa dimakan sama sekali.” Dhanny memilih runa casserole hangat
dan secangkir espresso,
lalu memilih sebuah meja di sudut yang agak jauh dari pintu keluar. Dilihatnya Annalise
hanya memesan semangkuk sup krim asparagus dan segelas teh tawar hangat
sehingga ia memotong sedikit makananannya dan meletakkannya di piring gadis
itu. “Kamu belum benar-benar mengenal yang namanya makanan enak kalo belum
nyobain ini.”
Sekali lagi, Annalise
mengulas senyum tipis, lalu menyesap minumannya. “Di New York ada sebuah kedai
yang menjual kudapan seperti ini. They
have the best burritos and casserols in town.”
Dhanny mengunyah makanannya
tanpa suara. “Kamu kangen New York?”
Ekspresi Annalise melembut
ketika menjawab. “Kadang-kadang. City
view di sana sangat indah, terutama Natal di daerah Rockefeller.”
“Kamu pernah memotretnya?”
Annalise mendongak, seakan
terkejut ditanya demikian. “Pernah, beberapa kali.”
Senyum Dhanny melebar.
“Kapan-kapan boleh kulihat?”
Annalise memiringkan kepala,
mengamati pemuda yang begitu ramah walaupun belum pernah benar-benar
berkenalan. “Kamu juga suka fotografi?”
“Ah, ya. Sebenarnya hanya
belajar secara otodidak. Lebih tepatnya bisa dibilang hanya pengagum.”
“Pengagum pun harus ngerti
fotografi untuk bisa benar-benar mengapresiasinya.”
“Betul, makanya aku kagum
melihat hasil fotomu waktu pameran tempo hari. Foto-foto itu punya nyawa,
terutama foto seorang anak kecil yang sedang tertawa di balik air matanya.”
Annalise menunduk, tidak
menyangka Dhanny masih mengingat foto-fotonya yang dipajang untuk pensi bulan
lalu. “Nata juga bilang begitu... tentang foto-fotoku.”
“Kamu dan Niki adalah dua
orang yang oenting buat adikku.” Ketika Annalise memandangnya dengan bingung, Dhanny
menjelaskan. “Sejak kecil, Nata benci sama yang namanya perempuan. Dia paling
ogah deket-deket dengan perempuan, bahkan cenderung menyendiri dibanding
bergaul dengan teman-teman seumutnya. Nata orangnya susah bergaul, nggak
terbuka dan nggak gampang percaya sama orang. Karena sifatnya ini, orang-orang
jadi males ngedeketin, karena mereka sulit ngerti dia. Waktu kecil, temen-temen
sekelasnya nggak ada yang mau main sama Nata. Nata juga nggak pernah mau
berbagi mainannya sama orang lain. Cuma Niki yang keukeuh ngajak dia main bareng,
naik sepedalah, main bonekalah, sampai nangkep jangkrik di pinggir kali. Walau
dicuekin Nata berkali-kali, Niki nggak nyerah atau pun marah.”
Dhanny tersenyum mengingat
kejadian itu. Niki dengan senyum lebar dan gigi ompong terus-menerus berjongkok
di samping Nata, tidak peduli bahwa anak cowok itu tidak memedulikannya dan
menyembunyikan seluruh mainannya dari jangkauan Niki. Setiap sore, Niki tetap
datang ke rumahnya dan berteriak dengan lantang. “Nata, main yukkk!”, sampai
akhirnya adiknya itu memberikan satu mobil mainannya kepada Niki.
“Mungkin yang dibutuhkan Nata
adalah orang-orang percaya sama dia. Sahabat seperti kamu dan Niki.”
Melihat Annalise termenung
memikirkan perkataannya, Dhanny bangkit dan tersenyum pada Annalise. “Yuk, kita
pulang.”
***
MAMA
Annalise terjaga dari tidur
lelapnya ketika mendengar ribut-ribut di luar kamar. Terang dari lampu ruang
keluarga menyisip masuk melalui celah-celah pintu, membuatnya membuka mata
untuk melirik ke arah jam weker yang ada di tepi tempat tidurnya. Hampir tengah
malam. Ia bangkit dan mengucek mata yang masih sarat akan kantuk, lalu menyeret
langkah untuk melihat siapa yang malam-malam begini masih terjaga. Ternyata
Tante Nadja sudah mendahuluinya, kacamatanya yang bersiluet tegas terlihat kurang
cocok dengan rambut yang berantakan dan muka mengantuk.
Annalise berusaha
membiasakan pandangannya pada terang yang tiba-tiba menyala, dan melihat sebuah
sosok di balik pintu. Perempuan itu mengenakan mantel dengan gaun selutut dalam
siluet warna krem, serta sepasang boots
suede berwarna senada. Rambutnya diikat dalam sebentuk chignon longgar,
dengan kacamata diangkat ke atas seperti bando. Tingginya tidak kurang dari
seratus delapan puluh sentimeter, terlihat semakin jenjang dengan hak sepatu
yang runcing. Bunyi yang ditimbulkannya cukup membuat Annalise tersadar dari
keterkejutannya.
“Mama?!”
Tantenya tampak sama
kagetnya dengan dirinya. Mereka berdua sama-sama masih mengenakan piyama tidur,
dengan keadaan yang disoriented,
terlihat seperti dua orang kebingungan yang terkejut luar biasa. Mereka melongo
melihat Mama dengan ribut membuka pintu dan menarik masuk kedua kopor besarnya.
”Surprise!!”
Mama merentangkan tangan
lebar-lebar, tersenyum senang melihat kekagetan yang telah disebabkannya. Beliau
berhenti dan memandang Annalise lekat-lekat. Annalise tidak bergerak saat
jemari Mama mengusap helai-helai rambut yang berantakan di keningnya, lalu
mendekapnya erat. Harum parfum Mama masih tidak berubah—Miracle dari
Lancome. Rasanya sudah lama sekali, tetapi anehnya bau itu masih tidak asing di
hidung Annalise.
Ia memejamkan mata dalam
dekapan Mama, terlalu terkejut untuk membalas pelukannya.
***
Wish #32: mama untuk tetap
tinggal (Annalise)
Sudah beberapa hari ini Annalise
tidak henti-hentinya tersenyum, tidak kalah dengan Niki yang masih berseri-seri
sejak peresmian hubungannya dengan Oliver.
“Kalau ada di samping
kalian, gue keliatan kayak manusia paling murung di dunia,” begitu komentar Nata
ketika melihat kedua sahabatnya memasang ekspresi gembira yang identik. Annalise
bertukar pandang dengan Niki dan mereka berdua menyeringai.
Nata dan Niki adalah orang
pertama yang diberitahukannya mengenai kepulangan Mama beberapa hari yang lalu.
Rumahnya tidak lagi penuh dengan kesunyian yang sering kali mengisi percakapan,
kini sarat dengan obrolan yang bermakna untuk melepas rindu. Pada pagi hari
setelah Mama kembali, Annalise bahkan mengecek kamar Mama untuk memastikan
bahwa kejadian semalam bukan hanya imajinasinya. Bertapa leganya saat menemukan
Mama di balik selimut, raut damai dalam nyenyak tidurnya. Annalise tidak pernah
berharap lebih dari ini.
“Mamamu sekarang akan
tinggal di Jakarta?”
Ketika Nata menyeletukkan
pertanyaan sederhana itu, Annalise terhenyak. Dia tidak berani menanyakan apakan
Mama akan tinggal lebih lama di Jakarta kali ini. Dia tidak tahu apakah Mama
akan segera terbang ke luar negeri lagi untuk pekerjaan, lantas tidak kembali
beberapa bulan lamanya. Dia juga belum sempat bertanya mengapa Mama melupakan
hari ulang tahunnya waktu itu, mengapa Mama tidak menepati janji kepulangannya.
“Nggak tahu,” Annalise
dengan jujur menjawab, “mudah-mudahan kepulangan Mama kali ini for god.”
Harapannya ini dikukuhkan
juga oleh kegiatan Mama yang tidak sepadat biasanya. Setiap sore, Annalise
menemukan Mama sedang melukis di patio
rumah mereka, bergulat dengan kuas, palet warna, dan secangkir kopi. Dia akan
duduk saja di samping Mama, memperhatikan garis wajahnya dan kadang-kadang
memotretnya. Sesekali, mereka mengobrol, bertukar cerita mengenai banyak hal
yang tidak bisa diceritakan panjang-lebar melalui telepon. Sore ini, Annalise
pun duduk di kursi beranda, melihat Mama menyapukan wanra merah jambu untuk
pemandangana matahari terbenam di atas kanvas.
“Udah lama nggak ke Jakarta,
ternyata Mama kangen juga sama kota ini.” Mama tersenyum sekilas sambil tersu
melukis, rambutnya yang panjang tergerai dan melambai ringan ketika ditiup
angin. Wajahnya bersih tanpa make-up,
sesuatu yang jarang Annalise lihat, tetapi sangan disukainya. Inilah Mama apa
adanya, Mama yang dikenalnya.
“Kamu sudah terbiasa di
sekolah baru? Punya banyak teman?”
“Ada dua sahabat baruku,
namanya Nata dan Niki. Mereka penggemar berat Mama.”
“Oh ya?” Mama tampak senang
mendengarnya.
“Mama.” Annalise terdiam
sejenak, ragu untuk menanyakan pertanyaan Nata yang membebani pikirannya
belakangan ini. Dia takut mendengar jawabannya, tapi lebih takut lagi menemukan
Mama mendadak pergi seperti yang sering dilakukannya. ”You’re going to stay, aren’t
you?”
Kali ini, Mama meletakkan
kuas dan mengelap kedua tangan dengan celemek yang melilit di pinggang.
Dipandangnya Annalise dengan seksama, tatapan matanya lembut. Mama tidak
menjawab, hanya memeluknya seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
***
PHOTOGRAPHS
Tanggal batas terakhir
pengiriman materi untuk lomba fotografi sudah dekat. Nata dan Niki sibuk
membantu Annalise memilih foto untuk kompetisi tahun ini, yang diusung dengan
tema lokalitas. Tadinya, Annalise enggan untuk ikut, merasa bahwa foto-fotonya
masih belum pantas untuk dijagokan dalam lomba bertaraf nasional, bersaing
dengan ribuan bahkan jutaan remaja lain yang sama-sama punya bakat di dunia
fotografi.
Namun, tentu saja, Niki
mendesaknya untuk ikut mendaftar. Belum lama ini, dia melihat selembar flyer yang mengiklankan
lomba ini di mading sekolah, dan dengan persuasif diajaknya Annalise ikut.
Hampir separuh siswa dari grup ekstrakulikuler fotografi di sekolah mereka akan
berpartisipasi, katanya, dan tidak ada alasan bagi Annalise untuk menolak ikut.
Annalise sengaja mengulur-ulur waktu hingga waktunya dekat, berharap mereka
akan melupakannya. Namun, Nata, dengan netral sempat berkata padanya, “Kalau lo
merasa terbebani untuk ikutan, lebih baik gak usah, daripada terpaksa. Tapi,
menurut gue, foto-foto lo nggak kalah dengan milik fotografer andal, dan lo
harus percaya pada kemampuan lo sendiri.”
Akhirnya, Annalise pun
memutuskan untuk ikut. Hanya saja, hingga sekarang dia masih belum bisa memilih
foto mana yang akan diikutsertakannya dalam lomba. Tema lokalitas adalah subjek
yang tricky
baginya, karena fotonya harus mencerminkan kepribadian bangsa dan kultur
negara, tetapi juga harus memiliki sisi emosional yang mampu menangkap
perhatian para juri. Karena itulah mereka bertiga kini mengobok-obok seluruh
isi lemari foto Annalise, mencoba menemukan sebuah shot yuang sempurna, sekaligus
memikirkan objek yang menarik untu dijadikan fokus utama.
“Kalau candi-candi atau
kerajinan tangan gimana?” Niki mengusulkan, keningnya berkerut selagi ia
membuka album demi almbum foto lama milik Annalise. “Misalnya batik, tanah
liat, kendi atau anyaman.”
“Terlalu biasa,” Nata
berkomentar singkat dari sudut ruangan, berkutat dengan rol flm lama yang
disimpan dalam kotak. “Pasti banyak banget karya serupa, nanti jadi kurang
menonjol.”
“Kalau pemandangan alam?” Niki
melempar ide lagi, kali ini mengangkat beberapa tumpuk foto sekaligus dan
mengaduk-aduknya di lantai.
“Biasa juga, kecuali ada
fenomena yang fantastis.” Sahut Nata.
Annalise tidak terlalu
memperhatikan, sedang sibuk menyortir foto-foto hitam putih yang dulu sempat
menjadi obsesi eksperimennya bertahun-tahun lalu.
“Sawah dan pedesaan?” Niki
memutar otak lagi, berusaha keras untuk memikirkan sebuah tema yang unik.
“Perkampungan kan sekarang sudah lebih maju, tapi kita bisa menampilkan sisi
modern sekaligus tradisional yang gak ditemukan di kota.”
“Lumayan sih. Tapi takutnya
banyak peserta lain yang memikirkan ide yang sama.”
Niki mengerut. “Semua ideku
nggak ada yang kamu anggap bagus.”
Nata terSarah. “Habisnya kita
butuh sesuatu yang bener-bener ‘beda’, yang bisa bikin orang tertegun dalam
sekali lihat.”
“Iya juga, sih.” Niki
setuju, lalu memasukkan hasil sortirannya ke dalam sebuah folder plastik.
Ia beralih ke sebuah kotak sepatu tua yang cukup ringan dan tersembunyi di
balik lemari, lalu membuka tutupnya perlahan. Isinya adalah puluhan lembar foto
dengan fokus sebuah siluet wajah, dan beberapa benda lainnya. Penasaran, Niki
menumpahkan seluruh isinya ke dalam pangkuan dan mulai menelitinya.
Wajah Nata memenuhi setiap
lembaran foto. Ada foto mereka semasa pentas seni catur wulan lalu, foto Nata
ketika sedang memegang gitar dan menulis tangga lagu di buku tulisnya, figurnya
dari kejauhan saat lomba basket sedang berlangsung, Nata yang sedang tertidur
di kelas, juga Nata yang sedang duduk di atas trampolin, beberapa menit sebelum
matahari terbenam. Niki menahan napas, berusaha mengingat-ingat setiap kejadian
saat foto-foto itu diambil tanpa sepengetahuan mereka karena hampir di setiap
foto, Nata sepertinya tidak sadar sedang dipotret dan tidak melihat langsung ke
arah lensa.
Niki melarikan ujung jarinya
memutari garis wajah Nata di atas foto, memperhatikan dalam-dalam tegas raut
matanya, tulang pipinya yang tinggi, dan hidungnya yang sedikit mancung. Kedua
ujung bibirnya yang tipis, sedikit melengkung ke bawah ketika tidak sedang
tersenyum. Ikal rambutnya yang halus melingkari wajah, lalu bentuk telinganya
yang lebar dan berdaun keras. Apakah Annalise mengambil foto-foto ini untuk
mengambil detail yang sama? Apakah...
“Gimana kalo Pecinan? Foto
pasar malam dan wihara di daerah kota pasti mernarik, ya kan?” Tiba-tiba Nata
berseru, mengganggu konsentrasi Niki sehingga gadis itu menjatuhkan foto-foto
di tangannya. Secara otomatis Annalise mendongak, dan begitu melihat apa yang
ada di pangkuan Niki, wajahnya memucat.
“Ah, iya, ide kamu bagus
juga...,” Niki menjawab, mencoba mengumpulkan kembali barang-barang pribadi
milik Annalise yang tidak seharusnya dilihatnya.
“Lagi lihat apa, sih?” Nata
yang kebosanan bangkit dan menjulurkan kepala untuk melihat foto-foto yang
masih berserakan di sekitar Niki. Gerakan ini membuat Niki gugup, dan Nata
semakin curiga. Ia tertegun ketika melihat apa yang ada di sana.
Annalise pun tampak salah
tingkah. “Itu....”
Nata segera mengerti. Ia
mencari-cari kebenaran di wajah Annalise, ingin mengetahui apa tebakannya tidak
salah, tetapi Annalise menghindari tatapannya dan malah berlari keluar dari
ruangan.
“Anna...?” Niki yang
kebingungan segera berdiri, lalu memandang Nata dengan raut bersalah. “Maaf,
aku nggak sengaja....”
Nata menghela napas. Dia
membungkuk untuk membereskan foto-foto yang berantakan di atas lantai. Apakah Annalise
menyukainya? Ia tidak pernah menyangka, karena selama ini Annalise selalu
bersikap netral di hadapannya, bahkan lebih sering menjadi tempat curhatnya
mengenai Niki.
Dia memandang lekat-lekat
wajahnya dalam foto—wajah yang sama sekali tidak menyadari apa-apa.
***
Wish #33: tidak melukai
perasaan Anna (Nata)
Niki berdiri dengan
serbasalah di antara hamparan foto-fotoyang seharusnya tidak pernah dilihatnya,
sedangkan Nata menuruni tangga untuk mencari Annalise. Gadis itu sedang terpaku
di balik pantry
dapur, dengan posisi membelakanginya. Kedua bahu itu tampak rapuh. Bahasa tubuh
Annalise membuatnya tidak berjalan kian dekat.
“Ann,” Nata memanggil
lembut, “foto-foto itu...” Dia tidak bisa menyelesaikan pertanyaan itu, takut
salah bicara.
Annalise memejamkan mata,
merasa malu pada dirinya sendiri. Jika selamanya dia bisa bersahabat dengan Nata,
dia tidak akan pernah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada pemuda itu.
Sebisa mungkin dia berusaha menghindari kejadian seperti ini, saat mereka
berdua akan berubah canggung dan melupakan kedekatan mereka ketika sedang
berteman. mungkin dia memang munafik—ketika Nata tidak ingin berkata jujur pada
Niki mengenai cintanya karena alasan yang sama dia justru menasihatinya untuk
tidak berbuat demikian. Sedangkan dia sendiri dengan pengecut menyembunyikan
perasaannya baik-baik. Tapi salahkah, bodohkah, jika dia hanya berharap Nata
ada di sampingnya dan cukup puas dengan diam-diam menyayanginya?
Masih dengan membelakangi Nata,
Annalise menarik napas pajang. Kini mungkin yang terbaik adalah mengatakan yang
sebenarnya.
“Gue....,”
Asilla berbalik dan tersenyum,
kali ini lebih pasti dari sebelumnya. “Aku sayang kamu, Nat.”
Nata tidak jadi
menyelesaikan kalimatnya, terdiam dan menganga setelah pernyataan simpel itu
keluar dari mulut Annalise.
“Maaf kalau aku membuat kamu
merasa nggak nyaman. ” Annalise meregangkan pegangannya pada gelas di
tangannya, yang tanpa terasa sudah menyisakan bekas di kulit. “Kamu nggak usah
bilang apa-apa. Aku nggak butuh jawaban, karena aku lebih suka kita berteman
seperti biasa. Bisa, kan?”
Nata mengangguk, senyumnya
perlahan mengembang. Annalise lega melihatnya. “Ini pertama kalinya ada cewek
yang nembak gue langsung seperti ini. I
appreciat that, Anna, karena lo jujur sama gue.”
Annalise membalas senyuman,
walau matanya berkaca-kaca untuk sebuah penolakan yang tidak terucapkan, namun
sudah diketahuinya dengan jelas. “Kamu berhak tahu yang sebenarnya.”
“Friends?”
Annalise mengulurkan
tangannya untuk menyetujui janji itu, tapi Nata mendekat dan membuat gestur
seakan sedang memeluknya. Annalise menegang ketika kulit mereka bersentuhan ringan,
lalu ia menyandarkan kepalanya pada bahu Nata dan membiarkan pundaknya ditepuk
lembut, canggung, tetapi bersahabat. Nata memang tidak tahu bagaimana menjawab
pertanyaannya barusan, tapi pelukannya yang kikuk sudah cukup untuk mengenyahkan
ketidaknyamanan di antara mereka.
Tidak perlu ada penjelasan.
Tidak perlu ada kata maaf. Baik Nata maupun Annalise sama-sama mengerti.
***
Wish #34: telling the truth
(Annalise)
Niki sudah membereskan
sebagian foto-foto milik Annalise dan mengembalikannya ke tempat semula . ia
menunggu dengan gelisah, merasa bersalah karena telah menguak sebuah rahasia
yang mungkin tidak ingin Annalise ungkapkan kepada siapa pun—terutama pada Nata.
Apakah Annalise pernah
diam-diam mengikuti gerak-gerik Nata dengan ekor matanya ketika mereka
berbicara? Sudah sejak kapan ia memendam perasaan itu, dan bagaimana mungkin Niki
tidak pernah menyadarinya?
Ketika Annalise kembali, Niki
menyerahkan kotak foto itu dengan ragu-ragu. Ia menunggu reaksi marah, tapi dia
hanya melihat senyum di wajah Annalise.
“Kamu nggak marah?” Niki
bertanya takut-takut.
Annalise tertawa geli
melihatnya. “Kenapa harus marah?”
“Karena gara-gara aku,
rahasia kamu jadi ketahuan.”
“Karena kalau bukan karena
kamu, mungkin aku nggak akan pernah jujur sama kalian berdua.”
Niki tersenyum, nadanya
berubah menggoda. “Ternyata, kamu beneran suka sama Nata. Sejak kapan?”
Pipi Annalise memerah malu.
“Sejak pertama kali masuk sekolah, mungkin,” ia mengakui.
“Apa sih yang kamu suka dari
Nata?” Niki berjongkok di samping Annalise, raut wajahnya penuh rasa ingin
tahu. “Dia kan jutek, nyolot, dan sok dewasa. Sikapnya aja yang keliatan cool, tapi
sebenernya dia kayak anak kecil.”
Annalise tersenyum. “Justru
hal itu yang bikin Nata menarik. Hal-hal kecil kayak kebiasaannya ngomel
panjang-pendek kalau ngerasa direpotin walau akhirnya dia lakukan juga. Sering
kali Nata terkesan cuek, padahal dia sebenernya peduli.”
Niki ikut tersenyum dan
menyandarakan kepala di bahu Annalise ketika mereka berdua duduk sambil
memandang foto-foto yang berhamburan di atas karpet. “Nata memang sejak kecil
begitu.”
Selamanya aku nggak akan
bisa mengenal Nata seperti kamu mengenal dia, Ki.
“Kenapa kamu nggak pernah
cerita-cerita kalau kamu suka sama Nata? Seenggaknya kan aku bisa jadi mak
comblang yang baik untuk kedua sahabatku.”
Karena aku udah tahu
perasaan Nata yang sesungguhnya.
“Oh ya, terus tadi Nata
bilang apa?”
Dia nggak bilang apa-apa.
Aku tahu dia hanya sayang kamu, dan hanya kamu.
Annalise tidak bisa dengan
jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan Niki tersebut, karena dia mengerti ada
beberapa hal yang harus Nata ucapkan sendiri pada Niki, dan dia tidak berhak
menyampaikannya untuk Nata. Jadi, ia pun berujar bijak, “Aku cukup senang kita
bisa berteman. Begitu juga dengan Nata.”
Tapi, aku iri, Ki. Iri
sekali sama kamu. Pikiranitu
lepas tanpa bisa ditekan.
Niki mengangguk seakan bisa
membaca pikirannya, lalu meremas pundak sahabatnya pelan sebagai bentuk
simpati. Annalise merasakan kulit Niki yang hangat, merasa begitu dekat dengan
kedua sahabatnya sekaligus. Dia tahu, jika harus memilih antara Nata dan
persahabatan mereka bertiga, Annalise tidak akan pernah ragu, menentukan
pilihannya.
***
Sebelum memulai latihan hari
ini, Niki menemukan sebuah pesan singkat Oliver dalam handphone-nnya.
Ia tersenyum saat membacanya.
Ntar selesai latihan, kita
pergi ke FX, ya. Ada surprise untuk kamu. Miss you.
“Pasti Oliver.” Linny
menyikutnya sambil menggoda. “Cie... yang lagi dimabuk cinta....”
“Ah, kamu sama Dayat juga
kayak gitu, malah sampai ninggalin voice
mail yang isinya bunyi-bunyi ciuman semua....” Mereka tergelak.
“Ngomong-ngomong tentang Oliver,
kemarin gue ketemu dia lho,” Helena tiba-tiba berkata. “Ternyata bokap gue
kenal deket sama bokapnya dia. Jadi daripada gue nggak kenal siapa-siapa di
acara yang isinya orang tua semua, kita ngobrol semalaman.”
Mereka berbaris sembari
melakukan pemanasan ringan di tepi lapangan. Niki ingat semalam Oliver memang
sempat mengatakan bahwa dia harus menghadiri acara keluarga.
“Dia cerita tentang bisnis
perhotelan keluarganya. Sejak kecil dia sering ikut papanya travelling
keluar negeri, belajar tentang perhotelan dan seluk-beluknya. Gue nggak
nyangka, ternyata dia udah pernah ke Afrika, Mesir, Ukrania, sampe Bhutan
segala. Bokap gue bilang, keluarga Damanik bener-bener tajir, termasuk salah
satu keluarga terkaya di Asia versi majalah Forbes.”
Niki mengangguk, tidak tahu
bagaimana harus menanggapi karena dia tidak tahu—menahu tentang Oliver.
“Terus, rumahnya luas
banget, sampai ada satu ruangan khusus untuk memamerkan lukisan antik punya
nyokapnya. Sekali lihat juga tahu harganya ratusan juta rupiah. Selain itu,
ternyata Oliver juga bisa golf. Kemarin gue nyoba main mini golf di sana.”
“Serius, denger cerita Helen
bikin gue tambah naksir sama Oliver. Lo beruntung banget, Ki, dapet calon suami
kayak dia,” Sara meledek lagi, “udah ganteng, kaya, romantis... Kalo udah nggak
mau, dilempar buat gue ya.”
“Huuu..!” Yang lain berseru
dengan heboh, sedangkan Niki hanya tersenyum setengah hati untuk membalas
candaan itu.
Jenis hal-hal lain yang
dibicarakannya dengan Oliver seperti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan
dengan percakapan Helena barusan. Begitu banyak yang tidak diketahuinya
mengenai Oliver, sedangkan dia ingin mengenal cowok itu luar-dalam. Bahkan, dia
belum pernah dikenalkan kepada kedua orang tua Oliver, juga menginjakkan kaki
di rumahnya.
Niki menggigit bibir,
tiba-tiba merasa kesal saat menyadari perasaannya. Dia cemburu.
***
MILAN
Sore itu, ketika Annalise
memasuki rumahnya sepulang sekolah, sayup-sayup didengarnya argumen dari arah patio. Dia
mengenali suara Tante Nadja yang bernada kesal.
“Bukannya kamu baru beberapa
minggu pulang? Kali ini, mau pergi untuk berapa lama lagi, tiga bulan? Lima
bulan?”
“Jangan sarkastis begitu,
Nad. Kamu, kan, tahu aku bukannya pergi untuk senang-senang. “Suara Mama yang
membalasnya terdengar defensif. “Butikku akan buka cabang di sana, dan ada
proyek baru yang harus kuselesaikan.”
“Aku tahu, tapi kamu, nggak
bisa terlalu sering dinas ke luar negeri. Bagaimana dengan Annalise? Waktu itu,
kamu bahkan lupa hari ulang tahunnya.”
“When are you going to forgive me about that? Aku
sudah bilang nggak sengaja. Lagi pula, bukankah waktu itu aku kirim hadiah
untuk Anna?”
Hening. Tidak lama kemudian,
ia mendengar tantenya menghela napas. “Hadiah itu nggak sama dengan kehadiran
kamu, Vidia. Kamu bukan hanya seorang fashion
designer dan model, tapi juga seorang ibu. Annalise butuh kamu.”
Argumen itu berlanjut, tapi Annalise
tidak ingin lagi mendengarkan. Dia meninggalkan tempatnya bersembunyi dan
beralih ke kamar. Kado ulang tahun dari Mama masih tersimpan di dalam lemari.Annalise
tidak pernah membukanya, sebagian besar karena ia tahu apa yang ada di dalamnya
hanya akan membuatnya semakin sedih.
Dalam hitungan hari, Mama
akan mengepak koper, lalu mengecup pipinya sebelum mengucapkan selamat tinggal.
Terkadang, Annalise takut
Mama tidak akan kembali lagi.
Terkadang, ia takut ia akan
berhenti membutuhkan Mama. Atau Mama yang berhenti membutuhkannya.
***
Annalise berjingkat ke arah
kamar Mama, mendorong sedikit pintunya hingga terbuka. Perlahan, Annalise
menyibakkan selimut dan berbaring di samping Mama. Sudah lama sekali sejak
mereka tidur bersama, padahal waktu kecil dulu dia sering memanjat ranjang
orang tuanya di tengah malam.
Tanpa disangkanya, Mama
belum tertidur. Beliau berbalik sehingga mereka berdua saling berrhadapan, lalu
mengusap sehelai rambut yang menutupi mata Annalise dan menyibakkannya di balik
telinga, sesuatu yang selalu dilakukannya sejak Annalise kecil.
“Mama akan pergi lagi,, kan?
Suara Annalise tidak lebih dari sebuah bisikan. Ia ingin mendengar sendiri
kalimat tersebut dari mulut Mama, ingin mempersiapkan diri sebelum kepergian
Mama kali ini.
Tapi, Mama tersenyum.
Senyumnya terlihat misterius dalam kegelapan, seakan menyimpan sebuah rahasia.
“Milan. And you’re
coming with me, Honey.”
***
Annalise punya sebuah ritual
sebelum tidur—minum segelas susu hangat dengan taburan bubuk sokelat dan marshmallows di
atasnya. Kebiasannya ini bermula sejak ia sulit tidur setiap kali Mama tidak
ada di rumah.
Malam ini, ia kembali tidak
bisa tidur. Annalise menemukan tantenya di dapur, sedang duduk sendirian dengan
secangkir kopi, berkas-berkas pekerjaan tersebar di atas meja. Kacamatanya
bergantung di ujung hidung, meninggalkan jejak tanda sudah lama bertengger di
sana.
Tante Nadja adalah adik
bungsu ibunya, satu-satuna kerabat keluarga mereka di jakarta. Beliau adalah
arsitek yang memiliki studio kerja sendiri di rumah. Usianya hampir empat puluh
tahun, dan memilih untuk tetap melajang. Berbeda dengan kakaknya, Tante Nadja
berpenampilan bersahaja, berambut pendek dan tak pernah merias diri. Sifatnya
tegas, menyerupai seorang anak tertua yang mandiri walau sebenarnya beliau
adalah anak bungsu. Ketika Annalise kembali ke Jakarta, Tante Nadja menawarkan
diri untuk tinggal bersama mereka dan membawa bisnis kecilnya yang cukup sukses
ke rumah itu.
Beliau mendongak ketika
melihat Annalise, lalu menarik bangku—sebuah undangan untuk bergabung.
“Nggak bisa tidur?”
Annalise mengiyakan.
“Mau cerita?”
Tantenya selalu bertanya
demikian saat AAnn tampak muram. Beliau adalah teman curhat yang setia, baik
saat ia mendapat nilai ulangan yang jelek di sekolah, atau saat hal-hal
menyenangkan terjadi. Tante Nadja adalah salah satu orang dewasa favoritnya,
seseorang yang selalu mendengarkan dengan sabar dan memiliki nasihat bijak.
Annalise menggigit bibir.
“Kami akan pindah lagi dari sini. Tante juga udah tahu, kan.”
Tantenya mengangguk. “Gimana
pendapat kamu tentang kepindahan ini?”
Annalise mengangkat bahu.
Kemungkinan besar, Mama akan tetap sibuk seperti dulu. Mereka akan teruus
berpindah-pindah dari kota ke kota mengikuti tuntutan pekerjaan Mama. Dia akan
keluar masuk sekolah baru, berulang-ulang merangka kehidupan baru sedangkan ia
bergerak lambat untuk menyesuaikan diri. Tapi, dia ingin memastikan satu hal
tidak akan pernah berubah—Annalise dan Mama, satu kubu yang selalu saling
mendampingi.
“Kukira kami akan tinggal
lebih lama di sini,” Annalise mengaku. Seharusnya, dia tahu kepindahan mereka
ke Jakarta juga tidak permanen. Seharusnya, dia tidak usah bersusah-payah
mengikuti banyak aktivitas sekolah, tidak perlu repot berpartisipasi dalam sayembara
fotografi, toh dia tidak akan ada di sini untuk melihat pengumuman pemenangnya.
“Tapi, kepindahan kamu ke
sini ada baiknya juga, kan.” Tante Nadja mengingatkan, “kamu jadi ketemu Niki
dan Nata.”
Annalise tercenung. Tantenya
benar. Kedua sahabatnya adalah alasan terbesar dia ingin tetap tinggal. Dia
dapat melihat kesedihan yang membayangi raut wajah mereka ketika dia mengabari
perihal kepindahannya. Niki bilang, mereka harus menghabiskan hari-hari
terakhir Annalise di Jakarta sebaik mungkin, menciptakan banyak kenangan.
Kalimat itu membuatnya sedih.
“Jadi keputusan kamu udah
bulat, untuk ikut ke Milan dengan Mama?”
Pertanyaan itu mengejutkan Annalise,
dan untuk sesaat ia terdiam. Kepindahan ini adalah sepenuhnya keputusan Mama,
tapi mengatakan tidak tak pernah terlintas dalam pikirannya.
“Segala sesuatu tentang
hidup adalah sebuah pilihan, Anna. Bukannya Tante meminta kamu untuk melawan
mamamu atau bebas melakukan apa pun yang kamu mau, tapi kadang kita harus berani
memilih dan mempertahankan apa yang kita inginkan. Mama banting tulang demi
keluarga dan pekerjaan yang dicintainya, kamu pun harus berjuang untuk apa yang
penting bagi kamu.”
Annalise mengerti, tapi
bagaimana jika keduanya adalah hal yang sama-sama berarti baginya?
***
Wish #35: Annalise tetap
tinggal (Niki dan Nata)
Niki merapikan terusan yang
dipilihnyauntuk acara farewell
party kecil-kecilan milih Annalise, menatap Nata yang mengenakan
kemeja kotak-kotak senada. Hitam.
“Kok, kita seperti mau
menghadiri pemakaman ya?” Niki mengeluh, membiarkan Nata membawakan hadian yang
nantinya akan diserahkan kepada Annalise. Minggu depan sahabat mereka itu
akan bertolak ke Milan. Barang-barang di rumahnya sudah dipak, surat transfer
sekolah sudah diurus dan tiket sudah dibeli, difinalisasikan oleh sebuah acara
untuk mengucapkan selamat tinggal yang dihadiri oleh teman-teman sekelas mereka
dan beberapa teman Annalise dari klub fotografi.
“Orang dewasa itu egois ya, Nat?”
Niki berkata, memeluk pinggang Nata selagi pemuda itu memboncengnya dengan
sepeda. “Mereka selalu bebas ngelakuin apa aja yang mereka suka, tanpa mikirin
perasaan orang lain.”
“Nggak semua orang dewasa
kayak begitu,” tegur Nata.
Niki terdiam. “Menurut kamu,
Anna bener-bener mau pindah ke Milan atau Cuma karena terpaksa, ya?”
“Terpaksa? Bukannya Anna
sendiri yang milih untuk ikut ke sana?”
Niki menggeleng, napasnya
hangat di tengkuk Nata. “Aku selalu ngerasa Anna sebenernya enggak mau pergi
dari ini. Tapi, karena satu-satunya keluarga yang dia punya sekarang Cuma
mamanya, Anna berusaha mempertahankan hubungan itu sebisa mungkin. Masuk akal,
nggak?”
“Tumben omongan lo tepat
sasaran.”
“Hehehe.” Niki terSarah
ketika dipuji, tapi segera berubah serius lagi. “Kesimpulannya, Anna mungkin
‘terpaksa’ setuju untuk ikut ke Milan supaya dia nggak kehilangan mamanya.”
“Mungkin juga.” Nata
berkomentar.
“Kalau ternyata emang
begitu, kita harus gimana dong?” Niki dengan panik mencengkeram ujung kaus Nata.
“Apanya yang gimana? Anna
udah akan berangkat minggu depan, dan tugas kita itu mengantar dan ngucapin
selamat tinggal, supaya dia nggak merasa terbebani dan malah tambah sedih.”
“Nata gimana sih?! Kita
harusnya ngebantuin dia supaya nggak nyesel!”
Nata memperlambat kayuhan
sepedanya dan berusaha menjelaskan sesabar mungkin. Dia tahu sulit mengubah
apa-apa jika Niki sedang keras kepala mempertahankan pendapatnya seperti ini. “Anna
pasti punya alasan sendiri buat pergi dari sini. Mendingan kita dukung aja apa
yang dia pilih bukannya bikin kacau. Lagian....”
“Kamu pasti mau bilang lebih
baik jangan ikut campur masalah orang lain, kan?” Niki menyela.”Kita mungkin
nggak akan bisa ketemu Anna lagi, lho. Gimana kalau setelah tiba di sana,
ternyata Anna nggak bahagia? Dia pasti akan terus pindah-indah tempat tinggal
kayak dulu, sendirian di rumah tanpa orang tua, dan kita nggak bisa ada di sana
buat nemenin dia.”
Nata menggeleng dan berhenti
untuk menjitak ringan pelipis gadis itu. “Dasar keras kepala.”
“Kamu mau Anna begitu?”
desak Niki sekali lagi.
“Enggak!” Nata akhirnya
menjawab. “Iya, iya, gue ngerti maksud lo.”
Raut Niki semakin muram.
“Sekarang, kita Cuma butuh cara supaya Anna nggak jadi pergi.”
***
Pesta kecil itu berlangsung
di patio
samping kolam renang, sebuah pesta barbecue
sederhana yang dihadiri oleh beberapa teman dekat Annalise dan mamanya di
Jakarta. Aroma daging bakar menyulut selera Niki, tapi dia bergegas untuk
menemukan Annalise sebelum perutnya memberontak dan menggodanya untuk mencicipi
sepotong scampi.
Mereka menemukan Annalise di
salah satu kursi panjang di tepi kolam, mengenakan pakaian hitam seperti Nata
dan Niki. Niki tersenyum geli melihatnya, hal ini membuatnya merasa seakan-akan
mereka punya kemampuan telepati.
“Ini buat kamu.”
Disodorkannya sebuah korak yang sudah dibungkus kertas kado pink. “Hasilnya
jelek, tapi kuharap kamu suka.”
Isinya adalah sebuah album
foto dengan hasil jepretan Niki selama belajar memotret. Dia sama sekali tidak
punya bakat di bidang itu; hampir seluruh hasil fotonya terpotong, entah
objeknya tanpa kepala atau anggota tubuh, dan beberapa buram karena dia tidak
mampu menahan napas ketika memencet shutter.
Annalise tertawa melihat foto-foto mereka bertiga diambil secara ngawur dengan
kemampuan memotret yang pas-pasan.
“Kalau nggak bisa jadi
kenangan yang mengharukan, lumayanlah bisa bikin kamu ketawa.” Niki
melanjutkan, dan Annalise berhenti tertawa. “Ann, kita Cuma pengen tau satu
hal. Kamu bener-bener mau pergi?”
“Maksudnya?” Annalise
terlihat bingung.
“Apa kamu bener-bener yakin
mau pergi dari sini, atau kamu memutuskannya karena hal yang lain?”
Annalise terlihat
serbasalah. Tante Nadja pernah menanyakannya, dan saat itu ia tidak mampu
menjawab. Kini, ketika disudutkan oleh pertanyaan sederhana yang sama, dia
kembali tidak dapat menemukan jawabannya.
“Gue dan Niki ngedukung lo.
Tapi, kita nggak bisa diem aja kalu nantinya lo akan menyesal.”
Annalise mendongak untuk
menatap Nata. Air mata memenuhi pelupuk matanya, dan ia mengangguk.
Niki menggenggam kedua
tangannya yang bergetar, lalu berujar dalam suara pelan. “Kita ngerti, kok,
kenapa kamu ngerasa harus pergi. Tapi Anna, kamu kan nggak bisa terus diam....
Kamu harus ngomong apa yang sejujurnya kamu rasain, walaupun itu mungkin
menyakitkan.”
Annalise merasa air matanya
mulai mengaliri wajahnya, terharu mendengar Niki berkata begitu. Belum sempat
dia berkata apa-apa, mereka berdua mendengar bunyi gelas champagne
diketuk dengan sendok perak, tanda tamu harus berkumpul.
Vidia Rossa berdiri di
hadapan para tamu, terlihat anggun dan mewah dengan gaun selutut bertali
spageti, warna kuning gadingnya terlihat begitu serasi dengan kulitnya yang
putih. Rambut kecokelatannya yang diberi sentuhan burgundy ditata dalam bentuk French braid
yang membesona.
“I thank everyone for coming today. It will be a
great loss leaDhang such good friends. But rest assured, good friends remain
forever. We wiil always have you in our hearts.”
Seluruh tamu mengangkat
gelas mereka untuk toast,
tetapi Nata, Niki, dan Annalise tetap berada dalam posisi yang sama, duduk berdampingan
dengan tangan mereka saling bertaut erat.
***
Nata dan Niki tetap tinggal
hingga pesta selesai. Tamu-tamu sudah beranjak pulang, pelayang dari perusahaan
catering
sedang mengangkat piring dan gelas kotor, dan musik sudah berhenti bermain.
Niki baru saja keluar dari
kamar kecil ketika ia menemukan Vidia Rossa sedang berdiri di salah satu balkon
yang menghadap kolam renang, tampak sedang mengamati kekosongan di tempat pesta
barusan. Dari belakang, entah mengapa Niki merasa perempuan itu terlihat
kesepian, dengan bahu yang terlihat ringkih, ikal rambut yang terlepas dari
tatanannya terurai lembut di leher. Dan, Niki merasa sedih, mengetahui bahwa Annalise
tetap memutuskan untuk pergi, untuk melindungi perempuan ini. Demi keluarga
kecilnya.
Ketika Vidia Rossa berbalik,
ia sedikit terkesiap melihat Niki sedang berdiri di belakangnya. Seketika, Niki
kehilangan kemampuan berbicara. Setiap kali melihat idolanya live seperti
ini, dia akan berubahspeechless
dan otaknya kosong. Vidia Rossa memang sangat cantik, bulu matanya lentik,
kulitnya sempurna... tapi apakah dia juga merasa kesepian?
“You’re on of Anna’s friends, right? Oki?”
Niki tergagap ketika
ditodong begitu. Ia hanya dapat mengangguk kaku. Setelah menelan ludah dengan
susah payah, ia menemukan kembali suaranya. “Maaf, Tante..”
Seulas senyum kembali
merekah di wajah Vidia Rossa. “I
told you to just call me Vidia, didn’t I?”
Sangat janggal memanggil ibu
temannya dengan nama depan saja. Sesaat, Niki merasa blank lagi, tapi
sebelum Vidia Rossa beranjak pergi, ia segera menyambung, “Ummm.... apakah
Tante tahu Anna sangat suka memotret?”
Vidia Rossa tampak bingung. Niki
merasa seperti orang bodoh yang mengoceh tak jelas.
“Tante tahu karyanya
dipajang di galeri sekolah waktu pentas seni? Salah satu fotonya adalah foto
Tante saat melukis, itu foto favoritnya. Dan, apa Tante tahu, Anna paling suka
memotret objek yang bergerak? Kata guru seni, karyanya pantas dimasukkan dalam
sayembara.”
Niki mengumpulkan
keberaniannya dan melanjutkan, “Waktu pertama kali kami ketemu, Anna
sama-sekali nggak pernah bicara mengenai Tante. Teman-teman nganggep dia
sombong karena kami nggak pernah diajak ke rumahnya. Dia nggak punya teman dan
nggak terbuka walau kami coba berteman dengannya. Di ulang tahun Anna yang
ketujuh belas, kami nunggu Tante di bandara sampai malam. Anna memang nggak
pernah bilang apa-apa, tapi kami tahu... dia sebenarnya kesepian.”
Vidia Rossa tercengang, dan
seketika Niki berhenti, takut kata-katanya terlalu lancang. “Maaf.” Ia segera
meminta maaf, tapi tiba-tiba saja Nata muncul di sisinya, lalu menggenggam
sebelah tangannya dan meremasnya lembut.
“Maaf, kami memang nggak
pantas bicara begini,” ia menggantikan Niki bicara, “tapi Anna sahabat kami,
dan kami Cuma ingin yang terbaik buat dia. Anna selalu membanggakan Tante, dan
berusaha bikin Tante senang, sampai kadang-kadang menyembunyikan perasaannya
sendiri. Begitu juga mengenai kepindahannya ke Milan.”
Mereka terdiam, melihat
Vidia Rossa memandang mereka dengan asing, seakan kata-kata mereka barusan
tidak terdengar. Lalu, beliau meletakkan gelas wine kosong di atas meja,
meninggalkan balkon itu hingga hanhya suara hak sepatunya yang terdengar, suara
paling sepi yang pernah mereka dengar.
***
Vidia Rossa mendorong pintu
kamar anaknya hingga terbuka, lalu melepaskan kedua sepatu pestanya dan
berjalan masuk, merasakan sejuk karpet di bawah telapak kakinya. Cahaya bulan
sangat terang, merambah masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Dia tidak
ingin menyalakan lampu.
Perlahan, ia memandang seisi
kamar itu. Kepalanya terasa kosong, tetapi hatinya berat. Suara anak-anak yang
barusan mendatanginya untuk berbicara mengenai Annalise mengganggu pikirannya.
Dia tidak mengenali isi
kamar ini. Dia jarang berada di dalamnya, juga tidak mengenali barang-barang
yang ada di sana dengan baik. Apakah itu berarti ia juga tidak mengenal
pemiliknya—anaknya sendiri, dengan baik?
Foto-foto bertebaran di
mana-mana. Dia tahu Annalise suka memotret, tapi dia tidak pernah benar-benar
memperhatikan hasilnya. Dia tidak tahu Annalise mengikuti sayembara, mengikuti
pameran sekolah, memasang potretnya di penjuru kamarnya—di dalam bingkai di
atas meja belajar, tergantung di dinding, ditempel di papan kecil dekat tempat
tidurnya, bersama dengan foto-foto masa kecilnya bersama mantan suaminya, juga
foto-foto sahabatnya.
Ia tersandung sebuah album
foto besar di kaki tempat tidur. Vidia Rossa berjongkok untuk mengambilnya dan
meletakkannya di atas meja belajar Annalise, tetapi berhenti. Cover depan album
tersebut bertuliskan namanya, juga tahun-tahun yang menandakan usia kariernya.
Halaman pertama berisi
potongan kliping wawancaranya. Halaman-halaman selanjutnya berisi fotonya di
media. Beberapa berupa print
out dari internet. Vidia Rossa tidak mampu melihat dengan jelas
dalam kegelapan, tapi dia tahu isi album tersebut adalah esensi
dirinya—pekerjaan yang selama ini menjadi hidupnya.
Tagline majalah dicetak besar-besar
di setiap halaman.
The next Cindy Crawford.
Life begins at forty: model
Vidia Rossa starts her new fashion line.
Vidia Rossa will stop at
nothing.
Dan, di halaman terarkhir, Vidia Rossa is moDhang to
Milan! Majalah tersebut memberitakan kepindahannya ke Milan, serta
butik dan pagelaran busana baru yang sedang dipersiapkan untuk launching di
sana. Ia tersadar, ia sama sekali tidak pernah menanyakan pendapat Annalise
mengenai kepindahan mereka ke Milan, juga sebelum-sebelumnya ketika mereka
harus pindah karena tuntutan pekerjaan.
“Mama?”
Lampu kamar dinyalakan dan
segalanya bagaikan hitam putih—terang dan gelap bersatu dalam sepersekian
detik, dan Vidia Rossa mengerti sesuatu. Secara tidak sadar, dia sudah berhenti
menjadi seorang ibu lagi bagi Annalise, dan tidak pernah seharusnya
membiarkannya terjadi.
***
Annalise keheranan menemukan
Mama di kamarnya, dalam kegelapan. Pesta telah usai dan ia lelah. Sebenarnya,
ia membenci pesta semacam ini,ini membuat segalanya terasa lebih final. Tapi,
ia ingin benar-benar mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada
teman-temannya sebelum ia pergi.
Wajah mamanya pias, Annalise
melihat kliping yang selalu dibuatnya di tangan Mama, dan ia mengerti. Seperti
katat Tante Nadja, dia harus berani membuat pilihan. Seperti kata Niki, dia
harus berani mengungkapkan perasaannya. Ia menggeleng, perlahan mengambil satu
langkah ke belakang dan berbalik. Menghindar, bersembunyi, menurut, seperti
yang selama ini selalu dilakukannya. Tapi, ia melihat tantenya berdiri di
ambang pintu, tersenyum untuk memberikan kekuatan sebelum beranjak pergi untuk
meninggalkan mereka berdua.
“Do you hate me?”
Pertanyaan Mama membuat Annalise
sedih. Terkadang, ia ingin menanyakan hal yang sama pada Mama—apakah Mama tidak
lagi menyukainya, apakah Mama membencinya sehingga lebih sering meninggalkannya.
“No.” Jawabannya lembut, hampir
tidak terdengar. “Kadang, aku cukup egois untuk berharap... Mama bisa seperti
ibu-ibu lainnya, yang hadir untuk mengambil rapor, datang ke acara-acara
sekolah... and
just be here. Aku ngerti, punya orangtua yang terkenal berarti
harus kompromi dengan jadwal yang ketat, dan aku bangga karena Mama adalah
seorang ibu yang patut dibanggakan. It’s
just that....” Annalise tahu kalimat selanjutnya akan menyakiti
hati Mama, tapi dia harus mengatakannya. “sometimes
I really wish, I can see more of my mother in person than in those magazines
covers.”
Sudah. Annalise sudah
mengatakan apa yang sebenarnya, perasaan yang selama ini ditutupinya karena
tidak ingin melukai dan bertengkar dengan Mama. Dia tidak ingin menjadi seperti
Papa yang menceraikan Mama karena tidak bisa menerima kesibukannya. Dia tidak
ingin mengulang kembali pertengkaran otangtuanya yang mempertahankan iVanyalisme
dan keinginan masing-masing. Dia tidak ingin ditinggalkan Mama karena tidak
bisa menerima Mama apa adanya. Dan, Annalise sangat ingin melindungi Mama,
karena dia tahu hanya dirinya yang Mama miliki sekarang.
Pandangan mata Mama yang
basah membuatnya tercekat. Apakah Mama marah? Kecewa padanya? Sedih?
Tapi, Mama justru bergerak
untuk merengkuhnya lalu menangis di pelukannya.
***
Tiga hari kemudian, Annalise
masuk sekolah seperti biasa. Niki dan Nata mendongak kaget ketika melihatnya di
ambang pintu kelas, tertawa ceria sambil menenteng dua kotak Grodiva truffles sisa
pesta kemarin sore. Ini hanya berarti satu hal...
“Aku nggak jadi pindah.”
Niki bersorak heboh, tetapi Nata
lebih waspada. “Terus, Mama kamu tetap akan pergi?”
“Ya, tapi hanya untuk
serah-terima pengurusan butik ke asistennya di sana.”
Pada malam seusai pesta, dia
dam Mama menghabiskan semalaman mengobrol dan menonton Breakfast on Tiffany’s,
kebiasaan yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan. Padahal dulu, ketika Annalise
masih SMP, mereka berbagi tempat tidur yang sama, menonton film klasik dan
mengobrol hingga larut malam. Mama bercerita mengenai kisah-kisah masa mudanya,
sesuatu yang paling suka didengarkannya.
Cerita mengenai Mama dan
Papa adalah salah satu hal yang paling sering Annalise tanyakan pada
orangtuanya. Mendengar kisah tentang pertemuan mereka dua puluh tahun yang
lalu—di sebuah lokasi pemotretan di Bali, sangatlah romantis bagi Annalise.
Dulu papanya juga seorang fotografer paruh waktu, yang kebetulan mendapat
kesempatan memotret mamanya untuk halaman depan sebuah majalah bertaraf
internasional.
Mereka jatuh cinta dan
menikah setahun kemudian, walaupun ditentang oleh keluarga kedua belah pihak. Annalise
masih menyimpan foto pernikahan mereka—Papa dalam setelan adat jawa dan Mama
dalam kebaya ketat berwarna kuning keemasan, sebuah kombinasi yang kontras
melihat garis wajahnya yang asing. Sewaktu Annalise masih belita, kedua
orantuanya mulai sering bertengkar seiring dengan karier Mama yang mulai
menanjak. Ketika mereka bercerai, Mama memboyong Annalise ke London untuk
tinggal di sana selama beberapa tahun. Selepas itu, dimulailah kehidupan mereka
yang berpindah-pindah.
“Keluarga Mama menentang
keputusan Mama untuk jadi model. Juga ketika menikah dengan Papa dan melahirkan
kamu. But you
know, life’s all about choices. Kita tidak akan tahu jika kita
tidak berani menuruti kata hati.”
“Mama pernah menyesal?”
Mama menggeleng. “Mama akan
lebih menyesal kalau menuruti mereka untuk studi hukum dan menjadi pengacara.”
“Maksudku, Mama pernah
menyesal udah menikah dan melahirkan aku?”
Saat itu, Mama terdengar
sangat shocked.
“Tanpa kamu, Mama akan sendirian menghadapi semuanya, Anna. If there should be one
decision I regret, it’s definitely not about you.” Mereka berdua
terdiam untuk beberapa saat saling mendengarkan ritme pernapasan masing-masing.
“I’ve always
thought I should work my hardest for both of us... I realize too late that it’s
actually hurting you. Maaf ya, Sayang.”
Annalise mencaari-cari dalam
gelap, meraba wajah Mama dan merasakan kerutan lembut di sudut lengkungan
matanya yang terpejam. Perlahan diusapnya air mata tersebut, lalu berkata, “It’s not too late, Ma.”
Dirasakannya Mama tersenyum.
“Kedua teman kamu, Nata dan Niki... They
are remarkable friends.”
Annalise turut tersenyum. “Yes. They are remarkable
friends.”
**
FUTURE
Apa artinya sebuah mimpi?
Sesuatu yang diinginkan, sesuatu yang harus dicapai, atau hanya satu fragmen
harapan? Apakah semua orang harus memiliki mimpi? Bagaimana jika kita tidak
memiliknya?
Menjelang kelulusan SMU, Niki
semakin bingung. Setiap orang di sekelilingnya seakan memiliki mimpi yang
solid; Nata dengan musiknya, Annalise dengan fotografi, Helena dengan fashion designer,
Oliver dengan prestasi basketnya, belum lagi teman-temannya yang berusaha
menggapai cita-cita setinggi langit—menjadi dokter, penulis, arsitek....
Sementara, dia sendiri bagaikan terperangkap di tengah-tengah.
Teman-teman sekelasnya sudah
mulai mendaftar ke berbagai universitas ternama, beberapa bahkan sudah diterima
dan bisa menjalani sisa semester dengan tenang. Mereka sepertinya sangat yakin
dengan masa depan mereka. Niki merasa menjadi satu-satunya orang yang tidak
punya cita-cita.
“Cita-cita itu apa sih?” Dia
sempat bertanya kepada Nata suatu sore, ketika cowok itu sedang asyik memetik
gitar. Nata hanya menepuk ringan badan gitarnya, lalu berujar.
“Ini cita-cita gue.”
“Mimpi? Keinginan?”
Nata memikirkannya sejenak,
lalu mengangguk. “Obsesi. Sesuatu yang menjadi penuntun hidup.”
“Sejak kapan kamu yakin
kalau musik akan jadi cita-cita kamu?”
Seulas senyum tipis
menghiasi wajah Nata, sesuatu yang hanya terjadi jika Nata membicarakan hal-hal
yang disukainya. “Sejak gue pegang gitar.”
Niki tahu Nata pertama kali
menyentuh gitar saat berumur sepuluh tahun. Gitar akustik miliknya adalah
pemberian ayahnya sebagai hadiah ulang tahun. Sejak saat itu, Nata tidak pernah
berhenti memainkannya, mulai dari gerakan kaku bernada sumbang yang berkembang
menjadi petikan mantap yang diselingi dengan senandung.
“Ada nggak ya, orang yang
nggak tahu cita-citanya apa?”
Nata berhenti bermain.
“Kayak lo, maksudnya?”
Niki melayangkan cubitan
ringan di pinggang sahabatnya. “Ngeliat kalian begitu bersemangat mengejar
mimpi, ngedaftar sana-sini untuk mengamankan posisi di jurusan favorit...
semuanya bikin aku semakin gamang, Nat. Aku nggak tahu mau jadi apa.”
“Itu tandanya lo udah
beranjak dewasa, udah mulai mikirin masa depan.”
“Bukannya orang dewasa tahu
jelas mereka mau jadi apa?”
Nata melengos. “Nggak banyak
orang yang seratus persen yakin sama diri mereka sendiri. Justru orang-orang
yang serius mikirin itulah yang benar-benar dewasa.” Dipandangnya Niki yang
masih tampak bingung, lalu dicubitnya pipi gadis itu dengan gemas. “Mimpi itu
bukan Vanyadline,
Ki. Bukan sesuatu yang nggak bisa berubah. Bukan sesuatu yang datang dan pergi
begitu aja. Nggak usah terlalu stres mikirinnya.”
“Tapi, kalau nggak ada
cita-cita yang jelas, bukannya kita bakal ngerasa hampa ya?”
Nata berpikir sejenak lalu
mengangguk. Diulurkannya sebelah tangan untuk mengacak rambut Niki, lalu
kembali memainkan gitarnya.
Apa itu mimpi? Apakah semua
orang harus memiliki mimpi?
***
CONFESSION
Wish #36: persahabatan yang
tidak pernah berubah (Niki)
Niki meniti tangga dan
mendorong pintu kamar Nata hingga terbuka. Ia menemukan kamar tersebut kosong,
lalu duduk di tepi tempat tidur untuk menunggu cowok itu pulang.
Seperti biasa, kamar Nata
sangat rapi untuk ukuran cowok, bahkan lebih bersih dari kamarnya sendiri.
Kamar itu tidak terlalu besar, didominasi oleh warna tanah—mulai dari lemari
pakaiannya. Beberapa poster band indie yang disukai Nata ditempel di dinding,
sedangkan koleksi CD dan kaset kesayangannya diletakkan di pojokkan khusus
tempatnya menulis lagu. Nata sering kali menggubah lagu. Walaupun dia enggan
mempertontonkannya kepada orang lain, dari beberapa lagu ciptaannya yang
sering disenandungkannya, Niki tahu sahabatnya itu sangat berbakat.
Setelah beberapa saat
menunggu dalam diam, Niki mulai tidak sabaran. Ia bangkit menuju meja belajar Nata,
melarikan jemarinya pada koleksi miniatur gitar dan buku-buku yang berjejer
rapi di sana. Sebuah buku bersampul kulit berwarna cokelat yang menyembul dari
deretan kamus menarik perhatiannya. Niki mengenalinya sebagai buku lirik Nata.
Dia membolak-balik
halamannya, menemukan goresan lirik dalam tulisan tangan Nata di bawah partitur
lagu. Sepertinya lagu-lagu ini sudah dibuat sejak lama, dilihat dari begitu
banyaknya coretan di sana-sini, serta guratan pensilk yang memburam dan
mengotori halaman. Setiap lirik memiliki catatan pendek, seolah menguraikan apa
pun inspirasi Nata saat menulis lagu-lagu tersebut.
Kelulusan SMP—sebelas tahun
kami sekelas dan duduk sebelahan.
Niki tersenyum mengingat
masa kecil mereka. Dari tahun ke tahun, dia dan Nata memang selalu berbagi
kelas dan tempat duduk. Ternyata Nata sempat menuliskan sebuah lagu berdasarkan
persahabatan mereka.
Gitar listrik pertama—hadiah
kelulusan.
Niki ingat saat duduk di
kelas tiga SMP, yang Nata inginkan hanya sebuah gitar listrik baru. Sebagai
hadiah dari orang tuanya atas nilai yang hampir sempurna, Nata akhirnya
mendapatkannya pada hari kelulusan.
Rembulan, angin, hujan, dan
kamu.
Niki terkikik geli saat
membaca beberapa bait yang rasanya terlalu sendu untik diciptakan oleh seorang Nata.
Padahal biasanya cowok itu hanya suka pada lagu-lagu yang berlirik tegas yang
tidak terkesan cengeng.
Hari pertama masuk SMU.
Pertama kalinya gue sadar ada yang berubah di antara kita.
Senyum Niki membeku pada
wajahnya ketika dia membaca semakin jauh, tidak mengira namanya akan memenuhi
sebagian besar halaman buku tersebut, juga tidak menyangka akan menemukan
sesuatu mengenai Nata yang tidak seharusnya diketahuinya.
Anna bilang, Niki spesial
untuk gue. Dia benar.
Cowok itu mungkin nggak
kenal Niki sebaik gue kenal dia.
Niki merasa lututnya lemas.
Apakah Nata menulis hal ini mengenai dirinya? Ia terus membaca, perasaannya
campur aduk.
The day I kissed her. It was
sunset
14 Februari—untuk segala
sesuatu yang sudah terlambat.
Lo nggak tahu... it’s always
been you.
Tiba-tiba, Nata masuk ke
kamar. Dia terhenyak ketika melihat apa yang ada di tangan Niki, wajahnya
memerah saat menarik buku itu dengan satu gerakan kasar.
“Ngapain berantakin
barang-barang gue?” Pertanyaan itu terdengar seperti bentakan.
Pandangan Niki tetap pada
buku yang kini disorokkan dalam saku celana Nata. Dia tidak tahu harus berkata
apa. “Yang kamu tulis itu....”
Nata menunggu beberapa saat
sebelum menjawab,
“Yang sebenarnya.”
Keheningan di ruangan itu
mulai menyesakkan. Niki menggeleng, mengambil beberapa langkah untuk
meninggalkan kamar itu, tapi gerakannya ditahan oleh Nata yang meraih tangannya
dan berkata dalam suara rendah yang menyerupai bisikan.
“Gue sayang lo, Ki.”
***
Waktu seakan berhenti. Satu
detik, dua detik. Nata tidak sadar ia telah menahan napas. Detak jantungnya
terasa lebih kencang dari biasanya, satu-satunya bunyi yang terdengar di
ruangan itu.
Dalam hati, Nata tidak
henti-hentinya merutuk diri atas kebodohannya meninggalkan barang-barangnya
berserakan di tempat terbuka, melupakan kebiasaan Niki yang suka
mengobrak-abrik kamarnya. Dan, kini, dia telah mengucapkannya begitu saja—gue sayang lo, Ki, seakan-akan
kata-kata itu adalah penjelasan atas apa yang ditemukan Niki dalam bukunya.
Tapi, apa yang harus dikatakannya? Kebohongan lain untuk menutupi perasaannya
sendiri?
Niki tidak bergerak
sejengkal pun. Nata tidak bisa melihat ekspresi pada wajahnya karena gadis itu
memunggunginya. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Niki mengerat hingga ia
bisa merasakan detak jantung Niki, tidak beraturan seperti miliknya.
“Gue tau ini kedengerannya
konyol dan nggak masuk akal, tapi gue serius.”
Masih tidak ada jawaban.
Perlahan, pegangannya mengendur putus asa, dan dengan cepat Niki mengibaskan
tangannya, lalu menghilang di balik pintu, menuruni tangga dan meninggalkannya
sendirian di sana.
Entah mengapa, saat itu Nata
merasa dia sudah kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya.
***
Nata menyayanginya? Nata
menyayanginya—lebih dari sekedar teman? Niki tidak bisa menghapus pikiran itu
dari benaknya. Dia berlari meninggalkan rumah Nata tanpa memedulikan pintu yang
berdebam tertutup di belakangnya, menyeberangi jalan dan menyusuri
pekarangannya rumahnya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci
pintunya.
“Kak?” Pintu kamarnya
diketuk beberapa kali, ketukan khas Acha. Niki terlonjak sedikit mendengarnya,
tapi merasa lega adik perempuannya ada di sana. Dibukakannya pintu untuk Acha.
“Kenapa, Kak? Kakak nggak
apa-apa?”
Niki menggeleng, masih
berusaha mengatur napasnya.
“Kak Nata ada di bawah tuh,
lagi nungguin Kakak.”
Mata Niki membulat. “Suruh
dia pulang!”
Kening Acha berkerut. “Kakak
kenapa, sih? Lagi berantem ya sama Kak Nata?”
“Achaaaa... please jangan
bayak tanya. Tolong suruh Nata pulang, ya?”
Sambil menghela napas, Acha
menuruni tangga dan kembali lagi dalam hitungan detik. “Sekarang kakak harus
cerita ada apa,” tagihnya sambil menghempaskan tubuh di atas tempat tidur Niki.
Niki menggigit bibir dengan
rasa bersalah. Diceritakannya kejadian barusan secara singkat. “Terus... aku
pergi begitu aja tanpa bilang apa-apa.”
Giliran Acha yang melotot
tidak setuju. “Kakak gimana, sih?”
“Jadi aku harus bilang apa?
Terima kasih, tapi aku hanya anggap kamu sahabat? Maaf, tapi tolong jangan
bercanda lagi?” Dengan frustasi Niki menarik ujung-ujung kepangannya. “Ugh! Aku
jadi sarkastis kayak Nata!”
“Perasaan Kakak ke Kak Nata
gimana?”
Niki terdiam dan memandang
Acha, sungguh-sungguh mempertimbangkan jawabannya. Sejujurnya, dia tidak tahu
apa yang harus dilakukannya. Niki sama-sekali belum pernah menolak cowok, apalagi
cowok itu adalah sahabatnya sendiri. Barusan Nata terlihat... sungguh-sungguh. Niki
tidak tahu jawaban macam apa yang diinginkan Nata darinya.
“Aku, kan, udah punya Oliver,
Cha,” akhirnya ia menjawab, “aku dan Nata murni hanya sahabat.”
“Mungkin saja selama ini
Kakak yang nggak pernah sadar kalau Kak Nata punya perasaan khusus untuk
Kakak.”
Niki terhenyak. “Jadi aku
harus gimana?”
Acha tersenyum sambil
memperbaiki tatanan rambut kakaknya yang acak-acakan. “Kurasa Kak Nata pasti
mengharapkan Kakak untuk jujur, apa pun jawabannya.”
***
Niki tidak menjawab
teleponnya, juga tidak mau menemuinya. Nata menunggu semalaman di trampolin
mereka, tapi Niki tidak datang. SMS-nya tidak dibalas, dan ketika dia datang
mencari Niki di rumahnya, Acha berkata (berbohong tepatnya), bahwa Niki sudah
tidur. Nata tahu Niki tidak pernah tidur sebelum pukul sebelas malam.
Akhirnya, ia menelepon Annalise
dan mencurahkan penyeselannya pada gadis itu. Dia menyesal telah kelepasan
mengatakan kata-kata yang kini memperkeruh hubungannya dengan Niki. Dia benci
telah mengacaukan suasana dengan membiarkan perasaannya meluap—padahal biasanya
dia selalu bertindak dengan logika, bukan emosi. Annalise mendengarkannya
selama satu jam di telepon, padahal Nata belum pernah mengobrol dengan siapa
pun di telepon selama itu. Ketika menutup telepon, dia merasa lebih baik tapi
tetap tidak bisa tidur sampai subuh menjelang.
Pagi ini, dia menyeret
langkah dan menunggu Niki di depan pagar walaupun dia tahu Niki akan berangkat
ke sekolah bersama Oliver, seperti biasa.
Tidak lama kemudian, gadis
itu melangkah ke luar dan melihatnya di sana. Nata merasa hatinya perih ketika Niki
berhenti dan terlihat salah tingkah.
“Kita perlu bicara, Ki.”
“Tapi, sebentar lagi Oliver
ngejemput.” Niki mencengkeram tali ranselnya erat-erat, seolah ingin kabur
kapan saja. Nata benci melihatnya seperti itu.
“Lima menit aja. Gue
bener-bener butuh ngomong sama lo.”
Niki akhirnya mengalah. Dia
bergerak-gerak dengan tak nyaman, ekspresinya kaku dan tidak tersenyum.
“Gue nggak akan bilang kalau
kemarin gue Cuma becanda, lalu narik kembali kata-kata gue. Gue sendiri nggak
sadar kapan perasaan gue ke lo berubah, dan gue nggak bermaksud ngerusak
persahabatan kita atau hubungan lo sama Oliver. Gue hanya capek berpura-pura, Ki.
Gue pengen jujur tanpa lo harus menjauh darai gue. Bisa, kan?”
Niki akhirnya berhenti
bergerak-gerak. Suaranya bergetar dan kalimanya kaku, seperti sudah dilatih
berkali-kali. “Aku tetap menganggap kamu sebagai sahabatku. Maaf kalau aku nggak
bisa terima perasaan kamu.”
Nata menggeleng melihat
gerak-gerik Niki yang terlampau dibuat-buat seperti itu. “Lo jangan ketakutan
gitu di depan gue dong,” ujarnya lembut, dan dengan satu tangan disentuhnya
dagu Niki yang bergetar. Secepat kilat, Niki merespons terhadap sentuhannya dan
bergerak mundur seakan terkena arus listrik.
“Aku pergi dulu, ya. Bye.”
Nata tidak tahu apa yang
sepatutnya dirasakannya, semua bercampur menjadi satu; sedih, marah, kesal,
sesal. Ujung jarinya masih hangat setelah menyentuh Niki barusan. Dia baru
sadar, sedari tadi Niki sama sekali tidak berani memandang langsung ke arah
matanya.
**
Wish #37: kata-kata yang
tidak terucapkan (Nata)
Annalise melambaikan tangan
ketika melihat Niki menyeberangi kantin dengan sepiring gado-gado di tangannya.
Niki tersenyum kecut, lalu bergegas untuk bergabung dengan Helena dan
kawan-kawannya.
Sejak tadi, Niki menghindari
tempat di mana Nata berada. Nata sendiri menangkap pandangan mata Annalise dan
menggeleng lesu, tanda pembicaraannya bersama Niki tidak berhasil seperti yang
direncanakan.
“Niki itu orangnya nggak
bisa pura-pura.” Nata mengeluh, masih dengan intonasi lesu yang sama. “Apa yang
dirasakannya pasti muncul dengan jelas di wajahnya.”
Annalise menepuk
pundak Nata untuk menyemangatinya. “Kasih dia sedikit waktu, Nat. Mungkin Niki
hanya nggak tahu gimana harus bersikap di depan kamu.”
“Tapi gue nggak mau dia
nganggep gue sebagai orang asing. Kita kan udah temenan terlalu lama untuk
saling canggung seperti ini.” Nata menggelengkan kepala dengan kesal. “Gue
bener-bener nggak ngerti jalan pikiran cewek.”
Annalise hanya separuh
mendengarkan gerutuan Nata. Tidak jauh dari mereka, Niki sedang bercanda dengan
Helena, matanya merah karena kurang tidur, tawanya dipaksakan. Mereka bertiga
seperti terpisahkan jadi dua kubu yang berlawanan—sahabat yang tidak lagi
mengenal satu sama lain. Ia tidak menyukai perasaan itu.
***
Sepulang sekolah, Oliver
mengantar Niki pulang seperti biasa. Ia membuka percakapan mengenai permainan
basket hari ini, tapi Niki tidak terlalu mendengarkan, bahkan tidak sadar
ketika mobil sudah berhenti di depan rumahnya.
“Ki?” Oliver memperhatikan
raut wajah Niki yang pucat. “Kita udah sampai. Ngantuk ya, sampai bengong
begitu?”
Niki menggeleng dengan seulas
senyum yang sedikit dipaksakan. “Bye,
Oliver.”
Oliver hanya tersenyum, lalu
mengucapkan selamat tinggal. Niki baru saja menginjakkan kaki di beranda ketika
sebuah bungkusan yang diletakkan di atas meja menangkap perhatiannya. Namanya
tercetak besar-besar di permukaan kertas dengan tinta hitam—dalam tulisan
tangan Nata.
Niki menghela napas, lalu
menyelipkan bungkusan itu dalam tasnya.
***
TTRAMPOLIN
Ujian akhir sudah dekat.
Belakangan, Niki banyak menghabiskan waktu luang untuk mengejar ketinggalannya
dalam pelajaran, terutama mata pelajaran eksak seperti Matematika, Kimia, dan
Fisika. Kini, dia semakin sering belajar bersama dengan Helena dan gengnya,
berkumpul setiap sore di rumah Helena untuk mengulang kembali pelajaran hari
itu dengan bantuan guru les privat temannya itu.
Kadang, Niki merasa mereka
semua lebih banyak mengobrol dari pada belajar. Televisi besar berlayar flat di ruang
tengah hampir selalu dinyalakan, biasanya berhenti di MTV atau Channel V.
Makanan ringan tersebar di atas meja, di samping majalah impor edisi terbaru.
Jika salah satu dari mereka mengangkat topik obrolan atau mulai bergosip,
buku-buku pelajaran akan terlupakan dan akhirnya mereka tidak jadi belajar sama
sekali.
Bukannya Niki tidak
menyukainya; dia senang menjadi bagian dari grup Helena. Dia juga suka hangout di rumah
berlantai tiga dan tanning
di kolam renang outdoor
sambil menyesap jus segar, dikelilingi oleh teman-teman yang sama-sama menyukai
fashion
dan cheerleading.
Tapi, kadang dia merindukan Nata dan Annalise, sesi studi mereka di
perpustakaan sambil berkutat dengan bergelas-gelas teh herbal dingin dan omelan
Nata ketika mengajarinya rumus Fisika sampai bisa. Atau bermain di rumah Annalise
dan berlanjut dengan mengerjakan PR setelah makan malam, ditemani sekotak pizza vegetarian.
Pada awalnya, Niki tetap
bergabung dengan mereka, tetapi dia merasa tidak nyaman. Sesekali, dia akan
mendongak dan menangkap basah Nata sedang diam-diam memperhatikannya, atau Annalise
yang memandangnya dengan raut khawatir. Mereka bertiga tidak lagi bisa
mengobrol seperti dulu, tertawa lepas dan bergerak bebas. Kini, Niki merasa
tidak bebas menyentuh Nata, meras telah menyakiti perasaan Nata, tapi tidak
bisa berbuat apa-apa untuk memperbaikinya. Dia tidak bisa merasa nyaman setelah
mengetahui orang yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat ternyata
mengharapkan lebih.
Karena itu, lama-lama Niki
memilih untuk menjauh sementara. Dia tidak bisa terus-menerus berada dalam
ruangan yang sama dengan Nata tanpa merasa bersalah dan canggung. Nata pun
sudah berhenti berusaha menjelaskan posisinya padanya.
“Niki, prom nanti lo
mau pake baju apa?”
Konsenterasi Niki dalam
memecahkan rumus Kimia terganggu kala Vanya menyela dan mengencangkan voluma
televisi.
Prom? Niki menyelipkan pensilnya
di balik telinga dan terdiam. Beberapa minggu lalu Oliver sempat mengatakan
bahwa sekolah mereka akan mengadakan pesta prom untuk senior yang akan lulus
tahun ini, dan dia mengajak Niki untuk datang sebagai pasangannya. Saat itu Niki
menyambutnya dengan antusias, tapi gagasan itu sedikit terlupakan seiring
dengan peristiwa Nata dan persiapan untuk ujian akhir. Begitu melihat
antusiasme teman-temannya yang menggebu-gebu, Niki teringat bahwa dia sama
sekali belum menyiapkan apa-apa.
“Masih belum tahu,” dia
mengaku lirih.
“Masih belum?” Mata Vanya
membelalak. “Prom
night SMU Pelita selalu jadi acara paling bergengsi setiap
tahunnya, lho. Dayat aja udah booking
limousine untuk malam itu, dan gue juga udah reservasi make up di salon
dari jauh-jauh hari.”
Limousine? Salon? Niki berusaha
sebisa mungkin menutupi ekspresi clueless-nya.
“Gue udah ada beberapa pilihan baju, kok, hanya belum nentuin yang mana yang
lebih bagus.” Akhirnya, ia terpaksa berbohong.
Niki semakin panik
memikirkannya. Gadis-gadis SMU Pelita dan teman-temannya yang glamor pasti akan
menyiapkan setelan gaun pesta bermerek yang mewah. Sedangkan isi lemarinya sama
sekali tidak bisa dimanfaatkan untuk acara kali ini. Bagaimana jika pakaiannya
ternyata tidak pantas untuk pesta itu? Bagaimana kalau dia mempermalukan Oliver
dan dirinya sendiri? Ini keteledorannya karena tidak memikirkan masalah ini
dari jauh-jauh hari. Pikiran-pikiran paranoid mulai bermunculan. Dasar bodoh. Tenang dulu.
Suara Helena sayup-sayup
didengarnya. “Oliver bilang MC dan band-band terkenal khusus diundang untuk
ngeramein prom
tahun ini. Temanya red
carpet, seperti acara penganugerahan Oscar.”
“Oliver?” Niki bertanya.
“Oh, kemarin gue hangout bareng
temen-temennya di SMU Pelita. Kebetulan Oliver juga ikut.” Helena tersenyum.
“Dia nggak cerita?”
Niki menggeleng lemas.
Belakangan ini, Oliver terlihat banyak pikiran dan agak pendiam, dan setiap
kali Niki menanyakannya, Oliver selalu bilang dia baik-baik saja. Hal ini
sedikit membuatnya cemas.
“Gosipnya lagi, Zahra bakal
hadir buat ngeramein pesta itu, sebagai alumni.”
“Zahra? Gila, acaranya pasti
top punya dong.”
Niki hanya samar-samar
mendengarkan. Zahra? “Zahra siapa?”
Dengan cepat Vanya menjawab
pertanyaan itu. “Lo nggak kenal Zahra, ya? Zahra itu kakak kelasnya Oliver,
sekarang udah lulus dan kuliah di Melbourne. Denger-denger, sejak kelas satu Oliver
kepincut sama cewek itu.”
“Ah, masa, sih,” Niki
merespons dengan tawa kecil.
“Gue juga pernah denger
gosipnya, lho,” timpal Linny menimpali, “katanya Zahra ini adalah cinta
pertamanya Oliver. Sejak cewek itu lulus, Oliver selalu gonta-ganti cewek
supaya bisa ngelupain dia.”
Sara turut mengiyakan. “Itu
cerita sebelum dia pacaran sama lo, Ki. Dia nggak pernah sebut nama Zahra
sekali pun?”
Niki menggeleng. “Gosip itu
juga belum tentu benar, kan?”
Vanya, Linny, dan Sara
terdiam sedangkan Helena mengangkat bahu tanda dia tidak ingin menjawab. Niki
tidak menyukai ekspresi di wajah mereka.
***
“Tadaaahhh!” Niki berteriak
sambil merentangkan tangan lebar-lebar. Beberapa anak bersembunyi di balik
punggungnya, tersenyum lebar dengan gigi ompong. Oliver berdiri dengan bingung,
tidak mengerti apa yang ingin disampaikan Niki padanya. Tadi gadis itu bilang,
dia ingin memperkenalkan beberapa orang penting kepadanya. Kini, dia dihadapkan
dengan anak-anak berpenampilan kucel dengan rambut dan muka kotor.
“Ini temen-temen kecilku.
Hari ini kita akan bermain basket bersama Kakak Oliver. Kak Oliver ini juara
basket paling jago se-Jakarta lho.” Niki memperkenalkannya pada anak-anak kecil
di sekelilingnya. Dengan enggan, Oliver menyalami mereka satu-per-satu.
“Ini anak-anak dari panti
asuhan?”
Niki menggeleng, untuk
sesaat terlihat muram. “Mereka nggak punya orangtua dan tempat tinggal.
Kadang-kadang mereka makan dan belajar di rumahku.”
“Oh.” Setiap bulan keluarga Oliver
menyumbangkan sesuatu untuk panti asuhan, tapi dia tidak pernah berhubungan
langsung dengan penghuni-penghuninya.
“Ayo!” Niki menarik
tangannya ke arah lapangan di kompleks perumahannya, membawa sebuah bola basket
di tangan kirinya. “Anak-anak ini paling suka main bola. Kami juga suka main
sepak bola di tanah kosong sana.”
“Kami?”
“Iya. Annalise, aku, dan Nata.”
Niki cepat-cepat berlari ke ujung lapangan, tidak berkata apa-apa lagi.
Oliver mengikuti dengan
setengah hati, kecewa karena kencan hari ini ternyata dibaginya dengan
anak-anak jalanan yang kumuh. Terkadang, dia sungguh tidak bisa mengerti Niki.
Gadis itu melambaikan tangan, dalam posisi bebas untuk menerima bola. Rambutnya
tergerai bebas dengan helaian rambut membingkai wajahnya.
Oliver terdiam lama. Terik
matahari menyengat kulitnya, dan bola itu tidak pernah meninggalkan tangannya.
***
Wish #38: mengobrol panjang
dengan Oliver(Niki)
Niki mengambil beberapa
botol air mineral dingin dan menempelkan satu di lengan Oliver. Laki-laki itu
terlonjak sedikit, lalu menerimanya dengan tawa kecil.
“Maaf.” Niki berujar.
Oliver menoleh ke arahnya.
“Maaf? Kenapa?”
“Sepertinya kamu nggak suka
berda di sini.”
“Bukan begitu. Aku hanya
kecapekan, akhir-akhir ini begadang buat ujian.”
“Maaf.” Padahal, Niki
sengaja merencanakan hari ini untuk menghibur Oliver.
Oliver mengusap rambutnya
ringan. “Nggak apa-apa.”
Niki mengharapkannya
berbicara mengenai ujiannya, keluarganya, juga apa yang selama ini mengganggu
pikirannya. Niki juga ingin mendengar mengenai Zahra, juga cerita mengenai
gadis-gadis lain yang pernah dekat dengannya. Tapi selama ini Oliver selalu
bungkam. Niki merasa mereka menjadi seperti dua orang asing yang tidak benar-benar
saling mengenal.
“Oliver, kemarin...” Niki
tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Pandangan Oliver tampak kosong, melihat
jauh ke depan seperti sedang memikirkan sesuatu yang penting.
Oliver sepertinya tidak
menangkap rautnya yang serbasalah. Ia bangkit dan mengecup pipi Niki. “Aku
pulang dulu ya. Sori, hari ini aku ada acara.” Niki menatapnya berjalan menjauh
dan masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkannya di lapangan bersama anak-anak
yang masih berteriak dan memperebutkan bola.
“Kita pulang yuk,” sahutnya
dengan kurang bersemangat. Anak-anak itu menjatuhkan bola dengan kecewa.
“Kak, hari ini kami akan
difoto sama Kak Anna,” Ajeng, salah satu murid Niki, berkata lugas. Dia menoleh
kepada teman-temannya. “Jadi.... apa namanya ya?”
“Model!” Raka, seorang anak
laki-laki bertubuh besar menyahut lantang.
“Iya! Model! Model!” Mereka
mulai ribut sendiri. “Kakak ikut kan?”
Model. Pasti untuk lomba
foto yang akan diikuti Annalise, dengan topik lokalitas itu. Ah, dia ingin
ikut. Tapi Nata pasti akan ada di sana.
Niki terduduk lesu di tepi
lapangan.
***
Ketika kembali ke rumah,
langit sudah gelap. Niki belum makan apa-apa sejak siang, tapi perutnya tidak
lapar. Dia merasa lemas dan tidak bersemangat. Sayup-sayup trdengar suara ribut
di luar. Niki bangkit dengan malas dan mengintip melalui jendela kamarnya.
Nata sedang berbaring di
atas trampolin mereka, tubuhnya berguncang dengan tawa. Gitarnya terbaring di
sisinya, tidak jauh dari tempat Annalise duduk. Annalise pun sedang menutupi
tawanya dengan sebelah tangan, sesekali memukul Nata dengan tangan kirinya.
Mereka berdua tampak sangat nyaman bersama, seolah-olah sudah lama berteman.
Mereka mengingatkannya akan... Nata dan dirinya, sebelum mereka berdua saling
menjauh.
Niki menatap pemandangan itu
dengan tidak senang. Tiba-tiba saja, dia merasa sedih sekaligus marah.
Trampolin itu adalah tempat khususnya dengan Nata, tempat yang sejak kecil
menjadi milik mereka. Baik dia maupun Nata tidak pernah mengajak orang lain
untuk duduk di sana—hal itu menjadi seperti sebuah peraturan tak tertulis dalam
hubungan pertemanan mereka. Dan kini Annalise ada di sana, menggantikan tempat
yang selama ini menjadi milik Niki.
Saat itu, Niki tidak bisa
membedakan apakah perasaan marahnya ini ditujukan pada siapa, Annalise, Nata,
atau dirinya sendiri.
***
Annalise menakn perutnya
yang sakit karena tawa, tetapi tidak mampu menghentikan tawa yang dari tadi
menggelitik tenggotokannya. Nata pun berguling di atas trampolin sambil tertawa
keras-keras, membuat tubuh mereka berdua terguncang. Foto-foto yang tadi sore
diambil dan dicetak untuk kompetisi dotografi tersebar di sekeliling mereka,
alasan mereka tertawa begitu hebohnya. Beberapa foto memang cukup mengundang
tawa akibat kekonyolan anak-anak yang diundangnya menjadi model. Pada akhirnya,
Annalise memilih tema Pramuka untuk kompetisi itu. Anak-anak itu didandaninya
dalam seragam Pramuka, lalu dipotret saat sedang bermain dan memanjat sebuah
tugu lama di daerah Jakarta Pusat. Tugu itu selalu dilewatinya setiap pulang
sekolah, dan menarik perhatian dengan cat yang sudah mengelupas dan coretan
grafiti di sana-sini. Tugu itu terlihat tua, namun gagah walaupun usia sudah
menggerogoti pondasinya.
“Stop, stop.” Annalise
menyusut air mata yang menggumpal di sudut matanya. “Perutku sakit nih.”
Belum pernah dilihatnya Nata
tertawa selepas itu dalam beberapa minggu belakangan ini. Nata mengambil napas
dan mengembuskannya pelan-pelan, lalu menelan kembali tawa yang masih tersisa.
“Pilihan gue foto yang ini,
dan ini.” Nata menunjuk dua foto dan menyingkirkan yang lain.
“Hmmm. Yang ini bagus.” Annalise
menjentikkan jari di atas permukaan foto yang dipilih Nata. Foto itu adalah
foto terakhir yang diambilnya sesaat sebelum mereka semua pulang, ketika
anak-anak itu memanjat tugu dengan latar matahari terbenam. Warna langit belum
berubah, hanya tercoreng beberpa sabetan oranye. Dia mengangkat kamera dan
menjepret momen tersebut dengan klise terakhirnya pada saat yang tepat.
Mereka mendiskusikan foto
tersebut sampai Annalise bangkit dan membereskan barang-barangnya. “Yuk, aku
harus pulang. Mau belajar untuk ujian bahasa Inggris besok.”
Nata mencibir. “Lo masih
perlu belajar bahasa Inggris? Kalau gue dan Niki, sih, mungkin masih perlu
ngafalin struktur grammar.”
Mereka berdua terdiam ketika
nama Niki disebut. Annalise mendongakkan kepala untuk melihat ke arah kamar Niki.
Gelap. “Niki apa kabarnya ya?”
Nata ikut melirik ke arah
yang sama. “Nggak tau.”
Berdua tidak sama rasanya
dengan bertiga. Annalise memang merasa lebih dekat dengan Nata, tapi hubungan
mereka terasa terlalu... tenang. Tidak ada spontanitas dan celetukan asal khas Niki,
juga komentar polos yang menghibur.
Annalise pernah berbicara
dua mata dengan Niki beberapa waktu lalu. Dia ingin menjelaskan bahwa Niki
tidak perlu canggung di hadapan dia maupun Nata, dan tidak ada yang harus
berubah dalam persahabatan mereka. Saat itu, Niki memandangnya lama dan
berkata,
“Semuanya nggak bisa kembali
seperti dulu begitu aja, Ann. Setiap kali ngeliat Nata, aku ngerasa bersalah
karena Cuma bisa jadi seorang sahabat buat dia. Setiap kali ngeliat kamu, aku
ngerasa udah ngecewain kamu karena aku udah ngambil orang yang kamu sayang. Aku
nggak bisa cerita mengenai Oliver di depan Nata, nggak bisa curhat mengenai Nata
di depan kamu. Kita bertiga jadi penuh dengan kepura-puraan, dan aku nggak bisa
terus begitu.”
Annalise tidak bisa
menjawabnya, dan sekarang ia menyesal telah membiarkan Niki berjalan pergi
begitu saja.
Sebelum menaiki mobil, Annalise
berhenti dan memandangi garasi mungil tempat mereka berkumpul untuk mengajar
setiap Selasa. Dia menarik lembaran-lembaran foto yang ada di dalam tasnya,
mencoretkan sesuatu di balik salah satunya, lalu menyelipkannya di dalam kotak
pos keluarga Niki.
***
Acha berbaring dengan sepiring
stroberi segar di atas tempat tidur Niki, mengolesinya dengan sendok berlumuran
selai cokelat dan menelannya dengan nikmat. Sesekali, Niki meraih beberapa
butir dan mengikuti gerakannya. Acha akan memperhatikannya dengan heran. Pasti
ada sesuatu yang salah jika kakaknya yang health
freak itu sudah mulai makan begitu banyak cokelat.
“Aku ini bodoh banget.” Niki
memasukkan sebutir stroberi ke dalam mulutnya tanpa nafsu. “Aku nggak tau apa
yang sedang aku lakukan.”
Acha menunggu tanpa
menginterupsi. Biasanya, cerita demi cerita akan keluar tanpa perlu ditanya.
Dan benar, Niki memuntahkan segalanya tanpa disensor, kebiasaan sepasang kakak
beradik yang sudah terbiasa berbagi rahasia sejak kecil.
Niki mendesah panjang untuk
mengakhiri curhatannya. “Aku sendiri yang ngejauhin mereka, tapi aku juga yang
kesal melihat mereka bersenang-senang tanpa aku.”
Acha menatap Niki dengan
prihatin. “Itu artinya... Kakak cemburu, kan?”
“Cemburu?”
“Iya, cemburu, menyesal,
gengsi. Perasaan-perasaan itu ngebuktiin kalau mereka masih punya makna yang
penting untuk Kakak.”
Niki merengut. Acha selalu
menawarkan logika di setiap analisisnya, sesuatu yang dibencinya karena
biasanya tepat sasaran.
“Aku jahat, ya?”
“Bukan jahat, tapi nggak
siap.” Melihat ekspresi Niki yang meminta penjelasan lebih lanjut, cha
meneruskan, “Saatnya nggak tepat. Kak Nata memilih waktu yang nggak tepat untuk
jujur, yaitu ketika Kakak masih belum siap mendengarkan. Dan, reaksi Kakak juga
nggak membuat keadaan lebih baik, malah semakin kacau.”
Niki manggut-manggut,
menyadari kebenaran dalam observasi itu dan terdiam cukup lama. Sebelum adiknya
meninggalkan ruangan dan mematikan lampu, Niki separuh mendengar ucapannya yang
lirih,
“Gak ada persahabatan yang
sempurna di dunia ini,Kak. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa
mungkin untuk mempertahankannya.”
***
Wish #39: bertemu dengan Nata
dan Anna (Niki)
Niki tidak bisa tidur. Jam
weker di meja samping tempat tidurnya menunjukkan angka satu lewat lima belas
menit. Dalam beberapa jam, dia harus menghadiri sesi ujian bahasa Inggris,
ujian pertama dalam semester ini, yang belum siap dihadapinya sama sekali.
Kemudian, minggu-minggu liburan yang menyenangkan akan dimulai, diikuti dengan
hari pertama mereka menjadi mahasiswa.
Dengan langkah terseok, Niki
meraih ranselnya dan meraba-raba isinya dalam kegelapan, mencoba menemukan
sesuatu yang sudah lama tersimpan di sana. Nah, ini dia. Ia mengeluarkan kotak
kertas yang sudah sedikit penyok itu, menyisihkan pembungkusnya yang koyak. Di
dalamnya, ia menemukan sebentuk kaset, dan tanpa banyak pikir, Niki
memasukannya ke dalam tape
miliknya.
Statis. Lalu terdengar suara
deheman yang tidak asing, sekali, dia kali. Tidak lama kemudian, bunyi petikan
gitar yang lembut dimulai. Terdengar agak samar, lama-kelamaan semakin jelas.
Setelah beberapa kali mengulang nada yang sama, suara Nata mengisi hening
ruangan.
Niki duduk di tepi tempat
tidurnya sambi memeluk bantal, memejamkan mata dan mendengarkan lagu-lagu
gubahan Nata yang perlahan-lahan membuatnya tenng. Entah sudah berapa lama dia
tidak mendengarkan suara ini, suara berat yang familier, petikan gitar yang
tangkas, tarikan napas di antara nyanyian. Dia bisa merasakan goncangan
trampolin mereka pada tubuhnya, seperti saat Nata bergerak untuk menyesuaikan
nada dan mulai bermain, seperti saat Niki bersorak dan bertepuk tangan setiap
kali sebait lagu selesai dimainkan, seperti saat Nata menjulurkan sebelah
tangan untuk menyentil dahinya karena telah membuat komentar konyol. Dia sangat
merindukan Nata.
Lagu demi lagu yang
dimainkan secara akustik dan direkam dalam sebuah kaset hitam, diletakkan di
atas meja beranda rumah dan tertindih barang-barang lain dalam ransel Niki,
kini bermain bebas.
Inilah perasaan Nata selama
ini, Niki tahu. Dia akhirnya mengerti. Untuk pertama kalinya dalam beberapa
bulan, Niki dapat tertidur pulas, dengan seulas senyum di wajahnya.
**
PROM
Wish #40: prom dress (Niki)
Mencari prom dress yang
tepat adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Niki sudah menghabiskan seluruh
akhir pekan memutari hampir seluruh butik di mal dekat rumahnya bersama Acha
dan Mama, mencari sehelai gaun yang sempurna untuk acaranya akhir pekan ini.
Namun, mereka tidak menemukannya—jika gaun itu tidak jatuh pas di tubuh Niki,
pasti karena harganya yang terlalu mahal.
Akhirnya, Mama menghela
napas dan menawarkan sebuah solusi. Mama berjanji akan mengeluarkan koleksi
gaun-gaun lamanya dari lemari dan mencoba menemukan sesuatu yang cocok
untuknya. Niki menyetujuinya tanpa banyak argumen, karena dia sudah putus asa. Helena
dan Vanya sudah meneleponnya untuk menjelaskan detail gaun mereka, juga jenis
sepatu yang akan dikenakan bersama gaun tersebut.
Tepat sebelum Niki
memutuskan untuk menlepon Helena untuk meminjam baju, Mama berseru memanggil
namanya berulang-ulang, diikuti oleh Acha yang sama hebohnya.
Gaun di tangan Mama bukanlah
gaun paling indah yang pernah dilihat Niki—masih ada deretan gaun-gaun malam
idamannya yang tidak mampu dibelinya—tetapi saat melihatnya, Niki tahu bahwa
gaun itu akan sangat cantik jika dikenakan. Kainnya sangat halus ketika
disentuh, dibentuk mengikuti model gaun-gaun zaman dulu yang menyempit di
pinggang dan mengembang di bagian roknya, dengan warna broken white
yang terlihat klasik. Bagian atasnya dilapisi oleh brokat jahitan tangan dengan
detail yang sangat teliti, menukik beberapa sentimeter di atas belahan dada.
Beberapa bagian sedikit kotor oleh debu, tapi Mama berjanji akan
membersihkannya dan memodifikasinya sedikit. Setelah semalaman bekerja dengan mesin
jahitnya, Mama menggantung gaun itu di kamar Niki supaya ia bisa melihatnya
ketika bangun pagi nanti.
Ketika Niki mengenakannya,
ia merasakan gaun itu mengambang lembut di atas tubuhnya, ringan seperti sutra.
Mama telah memangkas bagian lengannya sehingga kini gaun itu tidak berlengan,
memberikan kesan modern pada pakaian Dhantage
tersebut. Mama juga telah memendekkannya, sehingga roknya yang berlapis renda
kini jatuh di atas lutut. Elegan, tapi tidak berlebihan.
Niki berlari menuruni tangga
masih berbalut dalam pakaian itu dan memeluk Mama dengan penuh rasa terima
kasih. Mereka menghabiskan beberapa jam menata rambut dan dandanan Niki, dengan
Acha yang sesekali menawarkan opini dari tepi tempat tidur. Rambut Niki
dibiarkan tergerai supaya tidak terlihat terlampau dewasa, dan dandanannya
dibuat senatural mungkin.
Niki mengulaskan sentuhan
terakhir berupa lipstik nude
merah muda pada bibir bawahnya, lalu menatap refleksi dirinya sendiri pada
cermin. Dia memiringkan kepala dan tersenyum, melihat gadis dalam cermin
membalas senyumnya.
***
Niki baru saja menyemprotkan
sedikit parfum beraroma jasmin di pergelangan tangannya ketika telepon
berbunyi. Sambil memasang sebelah sepatu, ia menyambar telepon yang tergeletak
di atas tempat tidurnya.
“Niki?”
Suara Oliver terdengar lemas
dan parau.
“Kamu kenapa?” Niki bertanya
dengan agak panik.
“Sepertinya aku nggak enak
badan. Kepalaku pusing banget.”
“Kamu nggak apa-apa? Udah
makan obat, belum?”
“Udah, tapi rasanya masih
lemas. Tunggu sebentar lagi, ya? Kalau udah baikan, aku bakal segera jemput
kamu.”
“Lebih baik kamu istirahat
aja deh, daripada nanti tambah parah.”
“Tapi kamu pasti udah siap,
kan? Nggak apa-apa, kayaknya aku masih bisa tahan.”
Suara Oliver sudah sangat
lemah. Niki menggeleng. “Nggak pergi juga nggak apa-apa, kok.”
Oliver terdiam. “Tapi prom night kan
Cuma sekali seumur hidup.”
Niki tidak langsung
menjawab, tapi dia tersenyum saat mengatakan, “Yang penting bukan prom, tapi
kamu.”
“Maaf ya.”
Niki berusaha mengabaikan perasaan
kecewa yang menggerogoti hatinya. Sesungguhnya, dia sangat menantikan malam
ini; merayakan akhir dari masa SMU, mengenakan pakaian cantik dan bersama
dengan orang-orang yang disayanginya. Tapi dia lebih tidak ingin Oliver datang
dalam keadaan sakit. Dia tidak boleh egois. Lagi pula, bukankah Oliver pasti
lebih kecewa? Ini adalah pesta prom sekolahnya, sesuatu yang hanya terjadi
sekali seumur hidup.
Pandangan Niki jatuh pada
papan Monopoli yang menyembul dari tumpukan majalahnya. Tiba-tiba saja, dia
mendapat ide brilian. Dengan semangat empat lima, dia segera bergegas untuk
berangkat.
***
Sambil mengepit sebuah thermos berisi
teh hangat dan beberapa jenis permainan yang biasa dimainkannya bersama Nata
ketika sedang sakit, Niki berdiri di depan pagar rumah Oliver. Ia merasa
sedikit gugup. Rumah itu besar, dilengkapi dengan taman yang luas dan pos
satpam kecil di bagian depan. Dari luar, rumah berlantai tiga itu terlihat
seperti kastil, dengan jendela besar dan tangga yang meliuk. Selama mereka berpacaran,
Niki tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana sebelumnya. Helena yang
menunjukkan posisi rumah itu kepadanya ketika mereka melewati jalan besar ini.
Ditekannya bel dengan
waswas. Setelah menunggu sekian detik, seorang laki-laki paruh baya dalam
seragam, satpam muncul dengan tergopoh-gopoh.
“Cari siapa, Non?”
“Saya datang menjenguk Oliver,
Pak.”
Satpam itu tampak bingung.
“Tuan barusan saja pergi.”
“Pergi?” Niki menatapnya
dengan tidak percaya. “Oliver kan lagi sakit?”
“Ndak, Non, Tuan Oliver ndak
sakit. Baru saja pergi, kok.”
Setelah menghabiskan
beberapa menit sia-sia berdebat dengan satpam tersebut, Niki menyerah dan
berdiri di depan pagar dengan perasaan tidak enak. Jelas-jelas tadi dia tidak
salah dengar. Seandainya mereka jadi pergi pun, Oliver pasti akan meneleponnya
dulu. Niki berkali-kali menekan speed
dial dan menghubungi nomor handphone
Oliver, tapi tidak ada jawaban.
Dia baru saja ingin memutar
arah dan kembali ke rumah, namun entah apa yang membuat Niki berubah pikiran
ketika ia memberitahukan destinasi selanjutnya kepada pengemudi taksi.
“SMU Pelita, Pak.”
***
Pekarangan SMU Pelita dihias
apik dengan dekorasi bunga segar. Mobil-mobil mewah bergantian berhenti untuk
menurunkan para senior yang malam ini akan menghabiskan hari terakhir mereka di
sekolah tersebut. Niki adalah satu-satunya yang keluar dari sebuah taksi,
berusaha untuk tidak merasa minder saat ia melintasi lapangan ke arah hall tempat
pesta prom dilangsungkan.
Muda-mudi berpakaian indah
berseliweran, tangan kanan para gadis tersemat corsage cantik dan tangan kiri
mereka menggandeng pasangan masing-masing. Niki merasa self conscious
berjalan sendirian di tempat asing tersebut, tiba-tiba saja merasan underdressed
dalam balutan gaun turunan ibunya dua dekade lalu, di antara gadis-gadis
bergaun malam model terbaru.
Ia tersenyum tipis saat
berpapasan dengan teman-teman basket Oliver yang sempat dikenalkan kepadanya
beberapa saat yang lalu, namun mereka hanya melewatinya tanpa menyapa. Niki
menunduk, mukanya hangat. Ia harus segera menemukan Oliver, jika cowok itu
memang ada di sini.
“Niki!”
Ia menoleh, menarik napas
lega saat melihat Vanya melambai dari sisi meja penerima tamu, menggandeng
Dayat, pacarnya yang juga senior SMU Pelita. Vanya mengenakan terusan panjang
warna hitam dengan potongan kerah halter yang sangat chic. Niki
merasa pernah melihat gaun serupa di Fashion TV beberapa waktu yang lalu.
Niki menghampiri mereka,
masih celingukan mencari Oliver. “Hai. Kalian liat Oliver nggak?”
Mendadak wajah Vanya dan
Dayat sedikit memucat. Mereka saling berpandangan.
“Lo... belum tahu?”
“Tahu apa?” Iy mengerutkan
alis dengan bingung.
“Oliver ada di dalam. Dia
datang sama....”
Vanya tidk perlu
menyelesaikan kalimatnya. Niki sudah melihat Oliver di antara kerumunan
teman-teman tim basketnya, tampak gagah mengenakan setelan tuksedo yang sangat
pas di tubuhnya. Di sampingnya, berdiri seorang gadis dalam balutan trapeze dress
berwarna midnight
blue yang serasi dengan pakaian Oliver. Gadis itu mengenakan tiara prom queen di
kepalanya. Lalu, ia mendongak, menangkap pandangan mata Niki dan bibirnya
perlahan menarik seulas senyum yang menandakan ia mengerti segalanya.
Gadis itu adalah Helena.
***
Niki tidak dapat memercayai
pengelihatannya. Ia tidak lagi memperhatikan ketika Vanya dan Dayat bergegas
permisi dengan tak nyaman, juga keramaian yang mulai menyesakkan di
sekelilingnya. Ia tidak bisa berhenti memperhatikan Oliver dan Helena, dua
orang yang paling tidak pernah disangkanya akan hadir bersama di pesta ini.
Lalu akhirnya, ia menyadari satu hal.
Untuk sesaat, Oliver
mengangkat wajah dan menghindari pandangannya. Niki ingin menyerukan namanya
dan meminta penjelasan, tapi lidahnya kelu. Helena menggandeng laki-laki itu
untuk menghampiri Niki yang masih terpaku di pintu masuk dengan tubuh gemetar.
“Hai, Niki. Kok sendirian?”
Niki ingin melenyapkan
senyum puas dari wajah cantik itu, tapi kedua tangannya yang bergetar terdiam
bagai lumpuh di kedua sisi tubuhnya.
“Kalian....”
Oliver berjalan menjauh dari
sana untuk menerima telepon yang mendadak berdering, meninggalkan Niki dan Helena
yang saling memandang.
“Gue nggak nyangka lo akan
tetap punya nyali untuk datang,” Helena berkata dengan tenang, senyum itu tidak
pernah meninggalkan wajahnya. “Tapi harus gue akui, lebih menyenangkan ngeliat
lo di sini daripada membayangkan lo meratap di rumah karena Oliver meninggalkan
lo.”
“Ini semua rencana kamu?”
Suara Niki bergetar, dan ia benci mendengar nadanya yang melengking.
“Ini bukan apa-apa dibanding
dengan apa yang lo ambil dari gue. Gue mau lo tau rasanya kehilangan, ketika
apa yang berarti bagi lo dirampas begitu saja.”
“Aku nggak ngerti.”
Helena mendengus, untuk
pertama kalinya memperlihatkan rasa benci dalam ekspresinya. “Jangan pura-pura
bodoh. Sejak lo gabung sama tim cheers
kita, gue bagaikan nggak punya gigi. Bahkan beberapa orang sempet
mempertimbangkan lo untuk jadi kandidat pengganti ketua tim... dan memang itu
tujuan lo, kan?”
Hal itu adalah hal terkonyol
yang pernah didengar Niki. Dia, ketua cheers?
hanya karena dia aktif menyumbangkan koreografi baru dan menawarkan diri untuk
membuat mix tape
lagu untuk latihan mereka? Dia tidak pernah berpikir untuk menggusur posisi Helena
yang sudah bertahun-tahun memimpin tim itu menuju juara satu.
“Semua orang suka lo;
temen-temen gue, guru-guru, Nata, Anna... Gue nggak ngerti apa yang menarik
dari lo. Lo kan biasa aja, tapi lo malah ngambil semua yang harusnya jadi milik
gue. Sampai Oliver juga, padahal gue yang duluan kenal dia.”
Helena ingin berteman dengan
Nata dan Annalise? Helena menyukai Oliver? Niki mengerjapkan mata. Sudah berapa
lama Helena menyimpan perasaan ini dan membencinya diam-diam, sedangkan dia
tidak tahu apa-apa mengenainya?
“Tapi, kan kita teman....”
“Teman, lo bilang?” Helena
tertawa kecil. “Di dunia ini nggak ada yang namanya teman sejati, Ki. Lo yang
terlalu naif. Teman-teman Cuma ada kalau mereka butuh pertolongan kita, kalau
kita punya sesuatu yang bisa jadi alasan mereka untuk tetap tinggal.” Helena
mengibaskan tangan dan melayangkan pandangan pada Oliver. “Lo inget Zahra?
Cewek yang nggak bisa dilupain Oliver? Zahra itu sepupu gue. Oliver rela
melakukan apa aja demi ketemu lagi sama dia, termasuk mutusin lo dan muncul di
pesta ini sebagai pasangan gue.”
Tatapan Helena saat itu
sangat dingin. Niki tidak lagi merasa marah, tapi sedih. Ternyata, selama ini
dia tidak cukup mengenal Helena maupun Oliver dengan baik. Mereka pun tidak
mengenal dirinya, tidak menerima dirinya apa adanya. Dia tidak diinginkan di sini.
Oliver berbalik dan
menghampiri mereka. Dia terlihat serbasalah.
“Ki, gue....”
Niki memberanikan diri
menatap langsung ke arah mata cowok itu, mencoba mencari sisa-sisa perlakuan gentleman yang
selama ini lekat pada diri Oliver, juga permintaan maaf yang tidak kunjung
keluar. Entah mendapat keberanian dari mana, ia mengangkat sebelah tangan dan
melayangkan tamparan keras pada pipi kanan Oliver.
Niki tidak memperhatikan
seruan kaget—entah siapa yang berteriak barusan, tidak juga menyadari betapa
keras hak sepatunya berdentum di lantai marmer ketika ia berlari keluar, keluar
sekarang juga. Dan ketika ia berhenti dan terengah-engah di depan pagar sekolah
yang kini sepi, ia berjongkok, menyembunyikan wajah dengan kedua tangan, dan
menangis sejadi-jadinya.
***
BIKE
Wish #41: menemukan Niki (Nata)
Kring kring!
Niki tidak sadar sudah
berapa lama bunyi yang tidak asing itu terdengar. Ketika mendongak, dia melihat
sosok seseorang dengan senyum pengertian yang membuatnya ingin menangis lagi.
Nata.
“Pulang yuk.”
Cowok itu menepuk-nepuk
bagian belakang sepedanya dengan raut jenaka. Ia bangkit dari sepedanya dan
berjalan ke arah Niki, lalu mengulurkan sebelah tangan untuk membantunya
berdiri.
“Ayo.”
Niki menatapnya dengan mata
basah. Mengapa Nata ada di sini? Bagaimana Nata bisa tahu? Tapi, dia merasa
begitu lega melihatnya. Melihat sahabatnya datang untuk menyelamatkannya.
***
Tadinya, Nata mengayuh
sepedanya menuju SMU Pelita sekuat mungkin, berdoa dalam hati supaya dia belum
terlambat. Ketika dilihatnya gadis itu terduduk di luar pagar, sendirian dengan
bahu mungil yang berguncang oleh tangis, Nata merasa hatinya terenyuh. Ia ingin
memeluknya dan melindunginya sepenuh hati, tapi untuk sesaat dia hanya bisa
memandang dan menunggu.
Kenangan perlahan-lahan
muncul di benaknya seperti rekaman video. Tangan kecil yang menarik ujung
bajunya, sosok yang mengikutinya ke mana pun dia pergi. Wajah anak perempuan
yang tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang ompong. Ucapan menghibur
yang keluar dari mulutnya setiap kali Nata sedang menghadapi masalah—dan ia
selalu bisa mengetahuinya bahkan sebelum Nata berkata apa-apa. Belaian lembut
di pundaknya ketika anak itu menemukan Nata bersembunyi di balik lemari, malu
ketahuan sedang menangis. Sejak kecil, Niki selalu bisa menemukannya. Kali ini,
adalah gilirannya menemukan dan melindungi Niki.
Niki menatapnya dengan air
mata masih mengaliri kedua sisi wajahnya, bibirnya bergetar dan matanya sembab.
Nata tersenyum, lalu menarik gadis itu berdiri.
Awalnya tangan Niki masih
dengan tentatif berpegangan pada tempat duduknya, lalu lama-kelamaan,
melingkari pinggang Nata seperti yang selama ini selalu dilakukannya. Tidak ada
yang berusaha memulai percakapan, hanya keheningan yang mengisi perjalanan pulang
mereka. Nata mengayuh lambat-lambat, angin menerpa wajahnya dan temaram lampu
menerangi jalannya. Ia merasakan punggungnya basah, dan pelukan pada
pinggangnya mengerat. Nata mencengkeram setang sepedanya erat-erat, mencoba
menahan gejolak emosi yang meluap dan membuatnya ingin melampiaskannya kepada
siapa pun yang sudah melukai Niki.
Lo aman di sini Ki, bersama
gue.
Entah sudah berapa lama Nata
mengayuh, sampai ia berhenti di depan rumahnya. Niki bergerak turun dari
sepeda, buru-buru mengeringkan air mata dengan kedua tangannya. Nata tahu apa
yang akan dilakukannya—mengucapkan terima kasih sambil memaksakan senyum.
Keesokan harinya, mereka akan kembali menjadi dua orang asing yang berpura-pura
seakan kejadian malam ini tidak pernah ada.
“Boleh duduk di trampolin?”
Pertanyaan itu mengejutkan Nata.
Niki sedang menatapnya penuh harap, menawarkan sesuatu yang tidak berani
ditanyakannya sejak mereka berhenti berteman. Nata mengangguk.
Kain elastis trampolin itu
berguncang mengikuti berat badan mereka. Rasanya, sudah lama sekali sejak
mereka berdua duduk di sini, sekedar ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja,
sembari memainkan musik.
“Aku dengerin tape kamu,
beberapa hari yang lalu.”
Nata mendongak, wajahnya
memerah. “Isi kaset itu semua lagu yang pernah gue buat.” Untuk lo.
Niki mengangguk samar.
“Lagu-lagu itu bagus sekali. Kamu memang berbakat.”
Nata memandang Niki tepat di
kedua manik matanya, sudah letih berpura-pura. “Sejak kapan kita secanggung
ini, Ki? Kenapa kita harus berbasa-basi, nggak bisa lagi ngomong jujur apa yang
ada di pikiran kita?”
Niki yang pertama kali
mengalihkan pandangan. Mereka berdua sama-sama tahu jawabannya.
“Gue nggak minta apa-apa
dari lo. Gue nggak merasa sakit hati karena lo nggak bisa terima perasaan gue,
gue justru lebih sakit hati karena lo menghindari gue. Gue kecewa lo nganggep
gue sepicik itu, bahwa gue akan menjadi orang yang berbeda hanya karena
perasaan gue berubah. Gue nggak mau kita berhenti berteman gara-gara masalah
seperti ini.”
“Semua orang selalu bilang,
cewek dan cowok nggak pernah bisa jadi sekedar sahabat. Pada akhirnya, itu
bener kan, Nat?”
Nata tersenyum pahit. “Yang
gue tau, persahabatan itu nggak memilih. Persahabatan bukan didasari oleh
gender, usia, motif, atau apa pun itu. Persahabatan yang tulus gak harus punya
alasan.”
Senyum Niki berubah sendu.
“Kamu benar. Sejak dulu, aku selalu mengharapkan bentuk cinta yang sempurna.
Kukira kalau aku berteman dengan murid-murid yang populer dan pacaran dengan
cowok yang istimewa, hidupku juga akan sempurna. Aku baru sadar, nggak ada yang
sempurna di dunia ini. Teman sejati adalah orang-orang yang bisa nerima aku apa
adanya, seperti kamu dan Anna. Aku yang udah ngecewain kalian, maaf ya.”
Nata memotong permintaan
maaf itu dengan meletakkan kedua tangannya di atas bahu Niki, merasakan kulit
mereka hangat oleh sentuhan itu. “Gue maafin, asal mulai sekarang, lo nggak
pura-pura nggak kenal sama gue di sekolah.”
Niki tertawa kecil di balik
air matanya. Nata berusaha tampak tak acuh, tapi dia tahu dia tidak bisa
menghentikan senyum yang kini bermain bebas di wajahnya. “Apa pun yang terjadi,
jangan pernah memperlakukan kami seperti orang asing lagi.”
Niki mengangguk mantap.
Untuk pertama kalinya malam ini, Nata memperhatikan Niki dalam balutan gaun
yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya—berbahan halus, sebatas lutut, dipenuhi
dengan potongn renda-renda. Jalinan rambutnya sudah terlepas, riasan ringan di
wajahnya berantakan dan ada bekas-bekas air mata di sana, namun di matanya, Niki
terlihat sangat cantik.
“Hari ini lo cantik banget.”
Niki belum pernah mendengar Nata
berkata seperti itu. Nata tidak pernah memuji penampilannya, tidak pernah
memperhatikan gaya berpakaian perempuan apalagi berkomentar mengenainya. Wajah Nata
merah padam selagi mengatakannya, dan Niki merasakan senyumnya mengembang,
perasaannya jauh lebih ringan, seolah-olah beban berat telah terangkat.
“Thanks, Nata.”
Mereka berbaring menatap
kerlip bintang yang bertebaran di langit-langit—seperti butiran gula-gula. Nata
mengalas kepalanya dengan sebelah lengan, dan Niki mengandarkan kepalanya pada
bahu pemuda itu, mengenakan sweatshirt
sahabatnya yang kebesaran. Hanya mereka berdua, dan itu saja sudah lebih dari
cukup.
**
FORGIVE
Wish #42: tertawa keras.
Benar-benar tertawa. (Niki)
Niki tidak pernah menyangka
akan bertemu dengan Oliver lagi. Setidaknya, jika dia bersua dengan pemuda itu
secara tidak sengaja, dia yakin dia akan segera berjalan menjauh ke arah yang
berlawanan, sebisa mungkin menghindari kontak apa pun. Hubungan mereka sudah
selesai, diputuskan sebelah pihak. Namun, sampai sekarang, Niki masih belum
bisa melupakan kejadian malam itu.
Karena itulah, ketika Niki
menemukan pemuda itu berdiri di depan pintu rumahnya, dia ingin segera
membanting pintu dan berlari ke kamarnya. Tapi bersembunyi, menghindar, dan
berlari adalah hal-hal yang sudah terlalu sering dilakukannya; terhadap Nata,
terhadap Annalise, terhadap dirinya sendiri. Dia tidak ingin mengakhirinya
seperti ini, membiarkan kata-kata belum selesai terucapkan, lalu menyesalinya
kemudian.
Jadi Niki memaksakan diri
untuk memandangnya dan bertanya apa yang dia inginkan.
“Aku mau bicara.”
Mereka mencari privasi di
sebuah lapangan basket kosong tidak jauh dari sana. Niki merasakan hatinya
berdegup kencang, seperti yang selalu dirasakannya saat berada di dekat Oliver.
Diam-diam, dia membenci dirinya sendiri karena masih merasa seperti itu.
“Aku datang untuk minta
maaf.”
Niki sudah menduga perkataan
itu akan keluar dari mulut Oliver. Dia pun sudah tahu mengapa. Tapi, ternyata
lebih sulit—lebih menyakitkan, untuk mendengarnya langsung.
“Helena memintaku supaya
tetap membawa kamu ke pesta itu, lalu ninggalin kamu di sana. Tapi, aku nggak
bisa....”
Hati Niki melunak. “Kalau
kamu nggak melakukannya, Helena nggak akan mempertemukan kamu dengan Zahra,
kan?”
Oliver tampak terkejut
mendengarnya. “Kamu tahu tentang Zahra?”
“Sedikit.” Hanya tahu dengan jelas
kalau kamu begitu mencintainya sehingga memilih dia dibanding aku. “Kenapa
akhirnya kamu nggak membawaku ke prom?”
Oliver menggeleng. “Aku
nggak bisa mempermalukan kamu di depan mereka semua, Niki. Akhirnya, Helena pun
bohong mengenai kepulangan Zahra. Dia merencanakan semua ini untuk membodohi
kita.”
“Terima kasih.”
Oliver mendongak lagi, kali
ini benar-benar menatap Niki sejak malam itu. “Terima kasih? Buat apa?”
“Karena kamu masih punya
hati. Karena kamu memilih untuk jujur sama aku.” Niki tersenyum samar.
Bahasa tubuh Oliver berubah
rileks ketika melihat Niki menerima permintaan maafnya. Mereka duduk di kursi
tembaga yang diletakkan di sudut lapangan, tidak jauh dari padang ilalang kecil
tempat Nata dan Niki dulu sering mencari jangkrik dan kunang-kunang.
“Zahra itu kakak kelasku,
dua tahun lebih tua. Dia atlet renang sekolah, juga juara lomba Matematika. Dia
murid kesayangan guru-guru, disukai semua orang, dan banyak cowok yang
tergila-gila sama dia. Waktu orientasi, dia jadi mentorku, dan sejak saat itu
kami sering ngobrol. Waktu aku kelas satu SMU, Zahra pacaran dengan salah satu
guru sekolah kami. Aku selalu bilang kalau mereka nggak akan bisa
sembunyi-sembunyi seperti itu, tapi Zahra nggak peduli. Beberapa kali aku
mengungkapkan perasaanku sama dia, tapi Zahra bilang aku hanya seperti adik
baginya. Sampai suatu hari, hubungan mereka ketahuan. Mereka putus, guru itu
dipecat, dan Zahra dikirim untuk sekolah ke luar negeri oleh orangtuanya.”
Oliver menarik napas dan
mengembuskannya pelan-pelan. Wajahnya terlihat lelah dan sedih—ekspresi yang
berbeda dari yang selama ini diperlihatkannya kepada semua orang, Niki baru
menyadarinya.
“Aku yang melaporkan
hubungan mereka ke kepala sekolah. Sejak saat itu, Zahra nggak mau lagi menemui
aku. Dia nggak mau membalas e-mail
dan teleponku. Kami nggak pernah ketemu lagi, tapi aku nggak bisa ngelupain dia.”
Oliver memandang Niki lekat-lekat. “Kamu orang yang baik, Ki. Aku bener-bener
senang setiap kali menghabiskan waktu bersama kamu, dan kukira aku bisa
menyayangi kamu... tapi aku nggak mau melukai kamu lebih dari ini. Kuharap kamu
nggak menganggap aku orang yang jahat.”
Niki mengangguk kebas, tidak
lagi mendengarkan permintaan maaf Oliver. Selama ini, Oliver memang tidak
pernah menyayanginya, tidak menganggapnya sebagai bentuk cinta pertama yang
sempurna. Hanya dirinya yang sudah bodoh dan berharap lebih.
Oliver tersenyum sedih. “Aku
akan kuliah di Melbourne, berangkat bulan depan. Aku mau menyusul Zahra ke
sana, mencoba memulai dari awal.”
Niki menyapukan pandangan
pada Oliver sekali lagi, melihat sisi dewasa pemuda itu, sosok yang tidak
pernah benar-benar dikenalnya.
“Good luck.” Hanya itu yang bisa
dikatakannya.
Oliver mengangguk, dan
mereka berpisah di sana. “Good
bye.”
Niki secepat mungkin
melangkah pergi, supaya Oliver tidak melihat air mata yang mengalir deras di
wajahnya.
***
Nata baru saja kembali dari
swalayan kecil di kompleks perumahannya untuk membeli sekotak susu ketika ia
melewati lapangan basket. Niki dan Oliver sedang berada di sana, berdiri
berhadapan dengan bahasa tubuh yang kaku. Ekspresi Oliver penuh penyesalan,
sedangkan Niki tampak tidak nyaman.
Nata menghentikan sepedanya
tanpa suara dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Tidak lama kemudian, Niki
setengah berlari meninggalkan Oliver, dan Nata tahu dia sedang menangis. Niki
selalu membuat ekspresi dan gestur seperti itu jika dia menangis. Tak dapat
menahan Sarasalannya, Nata meninggalkan sepeda dan barang belanjaannya di tepi
jalan, lalu berlari mengejar Oliver yang kini sedang berjalan ke arah mobilnya.
“Tunggu!”
Oliver berhenti dan
berbalik, hanya untuk mendapati Nata sudah mencengkeram kerah kemejanya dan
mengayunkan sebelah tinjunya di udara. Untuk sesaat, dia memejamkan mata,
menunggu kepalan tangan itu mendarat di sisi wajahnya, tetapi dirasakannya
tekanan pada cekalan tangan Nata meringan dan akhirnya melonggar.
Nata sedang menatapnya
dengan marah—itu satu-satunya adjektif yang tepat untuk menjelaskannya.
“Gue udah bilang lo nggak
boleh bikin dia nangis lagi,” desisnya.
“Gue dateng untuk minta
maaf, dan mengucapkan selamat tinggal.” Oliver menjawab dengan tenang. “Itu
aja.”
Mereka berdua saling
berhadapan, menjaga privasi jarak masing-masing. “Lo itu pengecut.”
“Definisi pengecut adalah
orang yang nggak punya cukup keberanian untuk mengakui yang sebenarnya.”
Cih. Nata mengusap keringat
dengan sebelah tangan, matanya tidak meninggalkan Oliver. Dia ingin sekali
menghajar cowok ini, satu hantaman kuat saja sudah cukup, tapi dia tidak
melakukannya. Sedetik sebelum kepalan tangannya menyentuh rahang Oliver, Nata
teringat pada Niki, dan dia tidak bisa melakukannya.
“Gue nggak pernah bermaksud
nyakitin Niki. Karena itu gue datang ke sini untuk menjelaskan semuanya.”
“Tapi, justru itu yang lo
lakukan, nyakitin dia.”
Oliver menggeleng. “Kalau
gue pergi begitu saja tanpa penjelasan apa-apa, selamanya gue akan merasa
bersalah sama dia.”
Nata memaki dalam suara
rendah. “Kalau lo nggak mau nyakitin dia, lo nggak akan bohong sama dia di
pesta itu. Lo nggak akan seperti pengecut ngikutin semua omongan Helena dan
ninggalin Niki sendirian di sana.”
Oliver terdiam lama dan
suaranya merendah. “Karena itu gue nelepon lo. Karena Cuma lo yang bisa
menyelamatkan Niki, saat gue nggak bisa.”
Itu adalah penjelasan paling
pengecut yang pernah Nata dengar. “Jangan pernah muncul lagi untuk nyakitin Niki.
Gue nggak akan maafin lo untuk kedua kalinya.” Dia berbalik dan meninggalkan Oliver,
tapi dapat dengan jelas mendengar seruannya di kejauhan.
“Gue bukan orang yang tepat
untuk Niki. Gue dan lo sama-sama tahu itu.”
Nata terus berjalan.
***
Niki berhenti di depan
trampolin, terengah-engah setengah berlari dari lapangan ke rumah Nata. Air
mata masih mengaliri wajahnya, tidak bisa berhenti walaupun dia berusaha sebisa
mungkin untuk menghentikannya. Dia tidak ingin menangisi berakhirnya
hubungannya dengan Oliver, tidak ingin menunjukkan betapa lemah dan terluka
hatinya.
Dia menerima alasan Oliver,
mengerti sakit hatinya. Tapi bagaimana dengan sakit hatinya sendiri?
“Niki?”
Suara itu mengejutknnya. Niki
mengangkat kepala dan melihat Annalise sedang berdiri di sana, memegang
kameranya dan segulung rol film. Sudah lama sekali Niki tidak melihat Annalise,
raut wajahnya yang khawatir jika salah satu di antara dirinya atau Nata sedang
dilanda masalah.
“Are you alright?”
Dengan satu pertanyaan itu, Niki
kembali terisak. Annalise beranjak maju, dan tanpa ragu, melingkarkan kedua
tangannya pada bahu Niki serta menariknya dalam pelukan. Niki tersedu-sedu di
sana, dan Anna memeluknya dalam diam, tidak memerlukan jawaban, penjelasan, apa
pun, hanya ada di sana untuknya.
Tidak lama kemudian,
dirasakannya kehangatan tubuh Nata turut mengelilingi mereka. Nata beraroma
susu dan keringat, bau yang sangat menenangkan. Perlahan, air mata Niki
mengering dan dia merasa jauh lebih tenang.
“Barusan gue ketemu Oliver.
Hampir aja gue tonjok dia sampai bonyok.” Nata berkata sambil mengepalkan kedua
tangannya.
Niki ternganga kaget.
“Tapi, nggak jadi.” Nata
tersenyum. “Karena gue tau lo nggak akan mau gue berbuat begitu.”
Niki tertawa di antara
tangisnya, diikuti dengan Annalise yang terSarah lembut di sebelahnya.
“Aku punya sahabat seperti
kalian, tapi aku malah menjauh.” Niki mengusap air matanya cepat-cepat, lalu
menggenggam tangan kedua sahabatnya, Nata dengan tangan kiri, Annalise dengan
tangan kanan. “Maaf ya.”
“Apologies accepted.” Annalise
menyeringai.
“Setuju.” Nata mengangkat
tangannya yang masih berbalut tangan Niki.
Mereka tertwa bersama,
tangan saling terpaut.
***
HELENA
Menjelang ujian akhir
semester, tidak banyak pertandingan basket antarsekolah yang diadakan. Hal ini
membuat jadwal latihan cheers
semakin berkurang, dan Niki bersyukur untuk itu. Kini, dia tidak lagi
bertegursapa dengan Helena. Di kelas, mereka terpisah dalam sudut yang
berlawanan, Niki dengan Nata dan Annalise, Helena dengan teman-temannya.
Terkadang, jika berpapasan dengan sesama cheerleader,
mereka akan tersenyum sekilas pada Niki, tetapi tidak pernah benar-benar
memulai percakapan seperti yang dulu mereka lakukan. Awalnya Niki merasa tidak
nyaman, seperti kehilangan teman dekat, tapi dia akhirnya sadar, bahwa
sebenarnya teman-teman itu tidak pernah menjadi miliknya.
Bukankah lucu jika
persahabatan harus memiliki sebuah alasan? Lebih lucu lagi karena sebuah
hubungan pertemanan bisa putus begitu saja hanya karena alasan itu sudah tidak
lagi eksis. Niki merasa sedih jika memandang murid-murid perempuan berseragam cheers sedang
berkumpul di sudut ruangan, tertawa-tawa tanpa dirinya. Dulu dia sempat menjadi
bagian dari mereka.
Dia pun tahu Helena
mengharapkan dirinya berhenti dari tim. Keluar begitu saja, dengan alasan tidak
tahan diperlakukan seperti orang asing, dan merasa tidak lagi diterima di sana.
Tapi, Niki tidak ingin berbuat begitu untuk melayani ego mereka. Jika dia sudah
kehilangan teman-temannya, dia tidak ingin kehilangan cheers juga.
Hari ini pertandingan basket
tahunan antara SMU Pelita dan SMU Harapan dilaksanakan lagi. Tepat setahun yang
lalu, acara inilah yang mempertemukan Niki dengan Oliver.
Kapten basket yang kini
menggantikan posisi Oliver berdiri di tengah lapangan sambil men-dribble bola. Niki
masih ingat dulu Oliver melakukan hal yang sama, memicingkan mata untuk mencari
anggota timnya yang sedang berda dalam posisi bebas. Pandangan mereka sempat
bertemu untuk sepersekian detik, lalu pecah oleh gerakan lawan yang mencoba
merebut bola itu dari tangan Oliver. Sudah lama sekali, tapi masih segar dalam
ingatan seakan baru terjadi kemarin.
Niki melakukan gerakan rutin
yang sudah dilatihnya tanpa semangat. Kenangan-kenangan itu terasa masih mentah
dalam benaknya. Oliver, Helena, Nata, malam itu.
Dia bahkan tidak sepenuhnya
sadar bahwa gerakannya sudah melencong jauh dari anggota cheers yang
lain.
***
Helena membiarkan air dari
keran shower
menitik turun dan membasahi tubuhnya seperti gerimis. Dia selalu menyukai perasaan
setelah memenangkan sebuah pertandingan, merasa menjadi bagian dari kemenangan
itu, walau hanya berada di samping untuk menyemangati.
Hanya saja, hari ini dia
tidak merasa menang. Entah karena alasan apa, adrenalin yang sama tidak
dirasakannya, hanya kehampaan yang amat sangat.
Dia mengingat wajah Niki
ketika melihat Oliver dalam gandengan tangannya. Wajah Oliver ketika mengetahui
bagian dari rencananya, dan tatapan mata pemuda itu ketika berbalik untuk
meninggalkannya. Pandangan itu lebih menyakitkan daripada kata-kata penuh
amarah dan kesedihan yang dia harapkan dari Oliver.
Air mata kini berbaur dengan
air dingin, mengguyur wajahnya yang kotor oleh keringat dan debu. Helena
memutar keran, berharap dentuman air menyembunyikan isakannya supaya tidak
terdengar oleh siapa pun.
***
Niki meletakkan peralatan
mandinya di sisi wastafel, membersihkan wajahnya dengan sepotong kapas. Dia
selalu menunggu hingga anggota cheers
lain sudah pulang sebelum menyelinap ke dalam ruang ganti untuk membersihkan
diri,karena dia merasa tidak nyaman bertukar pakaian di tengah orang-orang yang
tidak bersahabat dengannya.
Samar-samar, didengarnya
suara tangisan dari salah satu ruang mandi yang sedang digunakan. Niki tidak
tahu masih ada orang di sana, karena tadi dilihatnya sekelompok murid perempuan
berjalan keluar dari ruangan itu sambil tertawa-tawa.
Dengan tentatif, ia
menghampiri kubikel yang tertutup oleh tirai plastik, mengulurkan tangan untuk
menyibakkannya, tapi lalu berubah pikiran dan memutuskan untuk menunggu,
menemani siapa pun yang ada di sana hingga tangisannya mereda.
***
Baik Niki maupun Helena
sama-sama terkejut ketika mendapati satu sama lain di ruangan itu. Helena
keluar dengan rambut basah, tetapi yang mengejutkan Niki adalah betapa pias wajahnya,
bibirnya pucat dan kedua matanya merah. Dia belum pernah melihat Helena
terlihat rapuh—sama sekali. Helena selalu terlihat composed, percaya diri, penuh
otoritas.
“Helen?”
Helena mengangkat dagu
dengan angkuh dan mengubah ekspresinya, tapi Niki tidak tertipu.
“Kamu... nggak apa-apa?”
Mereka saling menatap,
memikirkan seribu satu makna yang terkandung dalam satu pertanyaan sederhana
itu. Mereka sama-sama tidak pernah menanyakannya kepada satu-sama lain, mungkin
karena mereka tidak pernah menjadi seakrab itu untuk saling memperlihatkan sisi
rapuh masing-masing.
“Lo masih peduli?”
Mata Niki menyipit
mendengarnya. “Kita pernah berteman, Helen. Aku masih nganggep kamu salah satu
teman dekatku.”
Helena terSarah hambar.
“Bahkan, setelah hal-hal jahat yang gue perbuat?”
“Hal-hal yang kamu lakukan
itu beralasan, bukan?”
Niki sering kali memikirkan
kejadian malam itu, perkataan Helena yang menusuk, pengakuan Oliver yang
membuatnya kecewa, dering lonceng sepeda Nata. Dan, yang paling tidak bisa
dilupakannya adalah sorot mata mereka, terutama Helena. Saat itu, dia
mengartikannya sebagai perasaan menang telah menyakiti Niki, bangga telah
membawa Oliver ke sisinya, tapi kini Niki menyadari, pandangan mata itu penuh
kesedihan.
Sudah berapa kali dia
melewatkan ekspresi yang sama? Ketika dia bercerita penuh semangat mengenai
perkembangan hubungannya dengan Oliver, dia hanya memikirkan kesenangannya
sendiri, tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Helena. Niki lupa betapa
sering Helena menyebut nama Oliver sebelum pertandingan basket antarsekolah itu
dimulai, melupakan pandangan memuja yang disapukan Helena pada pemuda itu saat
mereka berkumpul di lapangan, dan senyumnya ketika membicarakan Oliver.
Niki terlambat menyadari
bahwa dialah yang sudah melukai Helena.
“Maaf.”
Helena mendongak cepat,
mengira dirinya salah dengar. “Maaf?” ulangnya ragu.
Niki mengangguk. “Maaf,
karena aku juga nggak pernah menjadi teman yang baik untuk kamu. Aku nggak
pernah sadar kalau kamu sangat menyayangi Oliver.”
Helena menggeleng, ekspresi
wajahnya letih. “Lo pasti senang udah menemukan kelemahan gue, tapi gue nggak
butuh dikasihani.”
“Bukankah kita berdua
sama-sama terluka oleh hal yang sama?”
Helena tersenyum pahit,
menyadari kebenaran di balik pertanyaan itu. “Dia pernah suka sama lo,
sedangkan dia sama-sekali nggak punya perasaan apa-apa buat gue. Benci,
mungkin.”
Niki tahu alasan sebenarnya Helena
melakukan hal itu bukan sekedar untuk melukainya, tapi untuk membuktikan
sesuatu—perasaan Oliver yang sesungguhnya. Dia juga paham bagaimana rasanya
mengetahui bahwa cinta yang kita miliki selama ini bertepuk sebelah tangan, dan
kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengubahnya.
“Oliver bilang dia akan
pergi ke Australia untuk nyusul Zahra. Dia nggak nyalahin kamu untuk sesuatu
yang udah seharusnya dia lakukan sejak dulu.”
Helena menggeleng. “Lo nggak
tahu, gue udah memperhatikan Oliver selama bertahun-tahun, sejak kami bertemu
di pesta ulang tahun Zahra. Dia nggak ingat gue sama sekali, karena pandangannya
selalu mengikuti gerak-gerik Zahra. Lagi pula, siapa yang nggak jatuh cinta
sama Zahra? Dia sempurna, punya segalanya. Tapi dia nggak bisa menerima Oliver,
malah berhubungan dengan seorang guru yang udah menikah. Gue invisible di
hadapan Oliver. Dia nggak pernah ngeliat gue, padahal gue selalu berusaha
sebisa mungkin untuk terlihat. Dia banyak pacaran dengan cewek-cewek lain
setelah ditinggal Zahra, sampai akhirnya dia ketemu lo. Kenapa harus lo? Kenapa
dia bisa ngeliat lo dan cewek-cewek itu, dan bukan gue?”
Niki tidak berusaha menjawab
pertanyaan itu. Perlahan, dia mendekat dan menyentuh lengan Helena dengan
gestur bersahabat.
“Kita nggak bisa memaksakan
perasaan seseorang untuk menyukai kita. Yang bisa kita lakukan Cuma merelakan,
berharap supaya dia bahagia.” Niki tidak dapat menahan diri untuk menyelipkan
sebuah canda. “Walau yang jelas dia rugi besar karena udah ngelewatin
cewek-cewek hebat seperti kita, ya, kan?”
Helena mengangguk,
diwajahnya tersungging seulas senyum tulus yang pertama kali Niki lihat, walau
kedua matanya berkaca-kaca. Mereka mungkin tidak lagi bersahabat, tapi Niki
senang dapat memulai halaman baru dengan seseorang yang bisa disebutnya teman.
***
SURAT UNTUK NATA
Nata melongok ke dalam kotak
pos, menemukan beberapa amplop di dalamnya. Tagihan kartu kredit milik Dhanny,
katalog, undangan untuk kedua orangtuanya, lalu sepucuk surat beramplop putih
yang ditujukan untuknya.
Nama sekolah yang tertera di
sudut amplop membuat hatinya bergejolak. Beberapa bulan yang lalu, dia pernah
mengirimkan aplikasi dan tape
audisi atas rekomendasi guru musiknya, lalu melupakannya segera setelah
mengeposkannya. Sekolah itu adalah salah satu sekolah musik terbaik di Amerika,
dan dia tidak terlalu berharap dapat diterima, karena banyak sekali anak-anak
berbakat yang gagal masuk ke sana.
Disobeknya ujung amplop
dengan perasaan tidak enak. Kata-kata yang tercetak pada lembaran suratnya
membuat Nata gelisah.
Nata mengumpulkan surat itu
dan menyelipkannya ke dalam saku, mencoba melupakan.
***
“Nat.”
Sebuah tangan mungil
dikibaskan di hadapan wajahnya, membuatnya tersadar dari lamunan.
“Nat!”
Suara itu kian tak sabaran. Nata
mengerjapkan mata dan memfokuskan pandangan pada Niki yang sedang menatapnya
dengan aneh.
“Kenapa sih, dari tadi
bengong melulu.”
Nata baru menyadari bahwa
sedari tadi suaranya menggema di ruangan. Niki sedang memasang tape berisi
lagu-lagu yang direkamnya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Dengan satu gerakan, dimatikannya tape,
menghentikan lagu yang baru memasuki reff.
Niki merengut. “Kenapa
dimatiin?”
“Jelek.”
“Bagus. Kalo jelek kenapa
sering kuputar, coba?”
“Jelek.”
“Bagus.”
“Jelek.”
Niki mengembuskan napas
kesal. “Kamu selalu pesimis, padahal lagu-lagu ini bagus sekali, lho. Nggak kalah
sama lagu-lagu yang sering diputer di radio.”
“Kalo lo ngedengerin suara
lo sendiri menyanyikan lagu-lagu ini, lo akan ngerti kenapa gue ngerasa risih.”
Niki mengangkat bahu, lalu
menarik kaset itu dari tape
dan memasukannya ke dalam walkman
miliknya. “Kalau kamu nggak mau dengerin, biar aku aja.”
Sejak memiliki kaset itu, Niki
semakin sering mendorongnya untuk menulis lebih banyak lagu, juga mengambil
kesempatan untuk manggung di kafe-kafe kecil. Dia selalu berkata bahwa
lagu-lagu Nata harus didengarkan oleh semua orang, ada dalam setiap CD player
dan dikumandangkan di stasiun radio terkenal.
Hiperbola, Nata tahu, karena
lagunya tidak sebagus itu. Masih perlu banyak perbaikan di sana-sini, dan
permainan gitarnya tidak sempurna. Lagi pula, dia benci mempertunjukkan lagunya
di depan khalayak ramai, dan ini sudah menjadi rahasia umum.
Nata ingin belajar musik
lebih banyak lagi, di sebuah lingkungan yang profesional. Itulah satu-satunya
alasannya mengirimkan aplikasi ke sekolah itu. Dan, kini begitu surat
penerimaannya tiba, dia malah tidak tahu harus berbuat apa.
Dhanny yang menemukan
gumpalan surat itu di tepi tong sampah ketika sedang berkunjung ke kamarnya.
Rasa penasaran membuatnya meraih lembaran lecek itu dan meluruskannya untuk
membaca isinya.
“Kamu daftar ke universitas
musik di luar negeri?”
Nata tertegun. “Disuruh sama
guru musik di sekolah,” dia berusaha menjawab senetral mungkin.
“Dan kamu diterima untuk
audisi kedua. Lalu, kenapa surat ini mau dibuang?”
Nata menyambar surat itu.
“Bukan dibuang, tapi tercecer.”
Abangnya tidak percaya, dia
tahu itu. “Kamu mau pergi?”
“Masih belum tahu.”
“Ini kesempatan yang jarang
datang, lho.”
Nata juga tahu itu. Gurunya
sudah menceritakannya berulang-ulang, bahwa sekolah musik itu menetapkan
standar yang tinggi dengan acceptance
rate hanya tujuh persen. “Aku masih belum bisa memutuskan.”
“Karena Niki?”
Sebagian besar, ya. Dia
tidak ingin meninggalkan Niki, Annalise, sekolah, rumahnya. Niki, terutama.
Siapa yang akan menjaga gadis manja itu jika dia tidak ada? Lagi pula, bukankah
banyak sekolah musik yang bagus di Jakarta?
“Dia udah dewasa, Nat.” Dhanny
melanjutkan seakan-akan dia bisa membaca penjelasan dalam kepala Nata dengan
gamblang. “Membuat pilihan bukan berarti harus meninggalkan salah satu. Kamu
masih bisa memiliki keduanya—persahabatan dan cita-cita.”
Nata menatap abangnya datar.
Tidak semudah itu. Baginya, pilihan adalah menentukan mana yang lebih penting
bagi dirinya.
Bagaimana jika dia kembali
dan Niki sudah berubah? Atau, justru dia yang berubah?
***
“Pergilah, Nat, it’d be silly to waste such
a big opportunity.”
Nata sudah mengira Annalise
akan berkata begitu, dengan nada yang sama seperti abangnya. Sebenarnya, dalam
hati dia pun tahu itu adalah jawaban yang benar, tapi dia masih menyimpan
secercah keraguan. Surat itu masih saru di antara sampah yang tidak lagi
diinginkannya.
“Kalau memang nggak kepengen
pergi, kenapa harus ragu?”
Nata ingin pergi. Nata ingin
belajar. Nata ingin menjadi seseorang. Tapi, mengapa sulit untuk menjelaskan?
“Jangan bilang-bilang ke Niki
dulu sebelum gue memutuskan ya, Ann?” pintanya pada Annalise. “Gue butuh
waktu.”
Annalise hanya
menggeleng-geleng dengan pasrah, lalu menyipitkan mata untuk mengamati Nata. Ia
mengambil gumpalan surat penerimn itu dari tempat sampah dan meletakannya di
meja Nata, sebuah pesan agar ia memikirkannya baik-baik.
***
Akhir-akhir ini, Niki merasa
Nata terlihat kurang bersemangat. Dia sering bengong kalau diajak bicara
tentang ujian akhir. Gitarnya diletakkan jauh-jauh di sudut lemari, lagu-lagu
yang dulu sering disenandungkannya hampir tidak pernah terdengar lagi. Setiap
kali Niki memutar tape
pemberian Nata keras-keras, cowok itu pasti segera mematikannya. Terkadang, dia
memandang Niki lama, seakan sedang berusaha menemukan sebuah jawaban.
Akhir-akhir ini, Niki tidak
bisa mengerti Nata.
“Ada apa, sih?” Begitu dia
selalu bertanya.
“Nggak ada apa-apa.” Begitu
juga jawaban otomatis itu selalu terdengar.
Nata juga enggan
membicarakan pilihan kampusnya. Ketika Niki membicarakan kehidupan kampus yang
tampaknya menyenangkan, Nata terlihat masa bodoh dengan semuanya.
“Kalau udah jadi mahasiswa
nanti, kita masih tetap bisa hangout
bareng, Nat. Kalo jam kuliahnya pas, kita bisa janjian makan siang juga, sama Anna.
Seru banget, bisa belajar pake baju bebas, nggak terikat peraturan macam-macam
dan nggak ada hukuman kalo membolos. Rasanya jadi kayak orang dewasa, iya
nggak?”
Nata hanya mengangguk tanpa
banyak komentar.
Niki tidak jadi meneruskan ocehannya.
Ia terdiam menatap Nata lama, menunggu hingga sahabatnya jengah dan mendelik ke
arahnya.
“Ada apa sih!” cetus Nata
dengan tidak senang. “Kenapa gue diperhatiin kayak objek penelitian begitu?”
“Justru aku yang harusnya
nanya gitu, Nat. Kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini selalu begitu, menghindari
pembicaraan. Bete tau, dicuekin kayak gitu.”
“Jadi gue harus gimana?”
“Cerita dong, kalau ada yang
ganggu pikiran.”
Nata menghela napas. Dia
tahu pada akhirnya dia harus memberi tahu Niki yang sebenarnya. Dalam beberapa
hari ini, dia sudah membicarakan kepergiannya ke Amerika dengan guru musiknya,
juga keluarganya dan Annalise. Mereka semua sangat mendukung, apalagi
kesempatan semacam ini jarang datang dua kali. Kini yang belum dilakukan Nata
adalah memberitahu Niki, dan ini adalah bagian yang tersulit untuknya.
Bagaimana caranya, jika setiap hari yang bisa dibicarakan Niki adalah betapa
senangnya jika mereka bisa kuliah di tempat yang sama? Setiap kali ingin buka
mulut, Nata berhenti dan menyimpan kembali kata-katanya. Dia tidak ingin ada
ekspresi kecewa di wajah mungil itu.
Namun, ketika memandang
wajah Niki yang bahagia, Nata sadar akan sangat tidak adil jika tidak segera
memberi tahunya. Sekarang, Niki memandanginya dengan intens, menunggu apa pun
jawaban Nata yang bisa menjelaskan perilaku anehnya belakangan ini. Nata
menghela napas, lalu berdiri dan berjalan ke arah meja belajarnya, membuka laci
paling atas tempat surat-surat mengenai kepergiannya ke Amerika tersimpan.
Lembaran surat penerimaan masih terletak paling atas, lecek karena Nata pernah
berusaha melenyapkannya. Diambilnya kertas itu dan diberikannya tanpa kata-kata
kepada Niki.
Niki menerimanya dengan
ekspresi bingung. Diluruskannya lembaran tersebut dan dibacanya sekilas. Nata
menunggu perubahan raut wajah Niki, seperti yang telah diduganya. Perubahan itu
datang. Terkejut, pada awalnya, lalu gembira, lalu sedih. Berubah kecewa.
“Ini surat apa?” Dia
bertanya walaupun isinya sudah jelas.
“Surat yang menyatakan gue
diterima di sekolah musik, di New york.” Nata berusaha menjelaskannya sedatar
mungkin, tetapi tidak dapat menghentikan gejolak aneh dalam suaranya.
“Aku nggak tahu kamu apply ke sekolah
di luar negeri.”
Nata mengangguk. “Gue apply beberapa
bulan yang lalu atas rekomendasi Pak Gunawan, yang juga alumni sekolah itu. Gue
nggak nyangkan akan diterima, makanya gue nggak pernah bilang sama
siapa-siapa.”
“Kamu udah mutusin untuk
pergi ke sana?” Pertanyaan itu bernada menuduh.
“Gue nggak tahu.” Nata
meringis dalam hati. Dia tidak ingin berbohong pada Niki, bahwa ada sebagian
besar dari dirinya yang sudah memutuskan bahwa dia ingin mengambil kesempatan
langka ini.
“Semua orang udah tau?
Orangtua kamu, Kak Dhanny, Anna?”
Nata menunduk, tidak dapat
menjawab. Dia tidak menemukan jawaban untuk berkata-kata, kata-kata yang akan
memperbaiki kesalahannya dan mengobati Sarasalan Niki.
Niki tersedak dengan tawanya
sendiri, tetapi kedua matanya berlinang air mata. “Selamat ya, Nat. Kamu memang
hebat.”
Nata merasa hatinya kecut ketika
air mata pertama meluncur di pipi Niki. Dia telah membuat Niki menangis. Selama
ini, dia berjanji akan menghajar jahanam mana pun yang membuat Niki menangis,
tapi ternyata dialah si berengsek itu.
Dipandangnya gadis itu
meremukkan surat penerimaannya sekali lagi, lalu beranjak keluar dari kamarnya
tanpa sepatah kata pun.
***
Niki meremas erat-erat surat
di kepalan tangannya dengan gemas, lalu melemparkannya ke ujung ruangan. Bola
kertas itu memantul sedikit di ujung tempat sampah lalu berguling ke lantai.
Patutkah ia kesal? Bukankah
seharusnya dia gembira karena Nata berada satu langkah lebih dekat menuju
mimpinya?
Dia tidak menghiraukan
ketukan samar pada pintu kamarnya. Didengarnya pintu berderit terbuka, juga
langkah kaki yang berjalan mendekat. Annalise.
Niki menoleh, bekas air mata
masih menodai wajahnya, Annalise mengulurkan sebelah tangan untuk menghapusnya.
Dibelainya helaian anak rambut Niki yang menempel di sisi wajahnya yang basah,
lalu menyelipkannya di balik telinga. “Kamu marah karena Nata akan pergi atau
karena dia memutuskan tanpa memberi tahu kamu?” tanyanya lembut.
“Aku marah karena aku jadi
orang terakhir yang tahu.” Niki menatap Annalise. “Aku marah sama diri sendiri
karena aku egois. Lebih egois lagi karena aku nggak mau dia pergi.”
Raut Annalise berubah muram.
“Kita semua nggak mau dia pergi, Ki. Nata nggak berani memutuskan kepergiannya
karena mikirin kita, terutama kamu. Tapi terkadang, kita harus membiarkan dia
membuat pilihan yang terbaik.”
Pertanyaannya adalah, yang
terbaik untuk siapa?
***
Wish #43: saling memiliki,
apa pun yang terjadi (Nata, Niki, dan Annalise)
Sudah tengah malam. Nata
bolak-balik berjalan mengelilingi kamarnya, menghempaskan tubuh di atas tempat
tidur, melongok ke luar jendela, bahkan mencoba untuk tidur, tapi tidak
berhasil. Akhirnya ia menyerah dan menyambar gagang telepon, hmpir saja menekan
digit-digit angka yang dihafalnya di luar kepala, jika tidak menyadari bahwa
sudah terlalu malam baginya untuk menelepon. Oh ya, Niki juga sedang marah
padanya.
Frustasi karena insomnia dan
rasa tidak nyaman yang menyesakkan dada, Nata bangkit lalu berjalan ke luar
melalui pintu belakang di dapur. Tiba-tiba saja ia ingin melompat-lompat di
atas trampolin, sekedar untuk melampiaskan Sarasalannya.
Nata tidak menyangka akan
menemukan Niki di sana, mengenakan setelan piyama putih dengan corak kelinci,
berbalut selimut perca yang selalu dipakainya setiap malam. Niki tampak
terkejut juga ketika melihatnya tapi tidak ingin berkata-kata, hanya menatapnya
dingin.
“Ngapain lo malam-malam di
sini sendirian?” Pertanyaan itu terdengar kasar, padahal Nata tidak bermaksud
begitu.
“Mau ngerasain gimana
rasanya duduk sendirian di sini, setelah kamu pergi nanti.”
Entah mengapa jawaban itu
justru membuat Nata sedih.
“Ki, gue minta maaf. Karena
gue egois, dan gue berengsek. Untuk pertama kalinya gue akuin hal itu.”
Sudut-sudut bibir Niki
terangkat, hampir membentuk seulas senyum, dan Nata merasa sangat lega
melihatnya.
“Gue tau seharusnya gue
langsung ngasih tahu lo saat daftar ke sekolah itu, juga waktu gue diterima.
Tapi sebelumnya gue mau mikirin keputusan gue matang-matang, supaya nggak ada
penyesalan di kemudian hari. Gue nggak bisa bilang, karena gue tahu lo pasti
kecewa.”
“Kamu kepingin banget masuk
sekolah itu kan, Nat?” Ketika Nata tidak menjawab, Niki menatapnya sendu. “Aku
ngerti, kok. Maaf, karena aku jadi alasan yang ngebebanin kamu dalam ngambil
keputusan.”
Nata tercekat saat mendengar
permintaan maaf itu. “Jangan bilang begitu.”
Niki tersenyum, walau masih
dengan air mata di pelupuk matanya. “Bodoh. Aku akan selalu ngedukung kamu, apa
pun yang kamu pilih. Selama itu adalah impian kamu.”
Nata tidak dapat menahan
diri untuk beranjak mendekat dan menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya,
tidak lagi berpikir apa yang seharusnya dia lakukan dan tidak lakukan. Gadis
dalam pelukannya tidak meronta, justru mengulurkan kedua lengan untuk balas
melingkari pinggangnya. Mereka berpelukan dalam diam, dua sahabat yang saling
mengerti dan menerima bahwa mimpi yang berubah menjadi kenyataan adalah hal
terbaik yang dapat terjadi pada seseorang. Walaupun salah satu dari mereka
harus berkorban untuk itu.
***
DEPARTURE
Hari ini, Nata dan Niki
berjanji untuk menghabiskan hari terakhir Nata di Jakarta bedua saja. Niki
berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menangis, apa pun yang
terjadi, tapi janji itu sepertinya lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan.
Menjelang kepergian Nata, ia
berusaha keras untuk tampak gembira, memasang ekspresi bangga walaupun
sejujurnya ia masih menyimpan sedikit luka di hati. Puncaknya adalah ketika dia
dan Annalise membantu mengepak barang-barang Nata. Melihat separuh isi kamar Nata
yang kini berpindah ke dalam koper, entah mengapa Niki merasa tertekan. Dia tidak
menyadari bahwa dia sedang menangis hingga Annalise menegurnya lembut.
Buru-buru, Niki menyusut air
matanya, berharap teman-temannya tidak akan mempermasalahkannya lebih lanjut.
Tapi, Nata meletakkan tumpukan pakaian yang telah dilipat rapi, berjongkok di
hadapannya dan berkata dalam nada lembut yang jarang digunakannya.
“Lo nggak perlu ngerasa
harus pura-pura senang di depan gue, Ki. Gue juga ngerasain hal yang sama
dengan lo.”
Niki mengangguk, mati-matian
berusaha menghapus air matanya yang kini mengucur deras dan tidak bisa
dihentikan. Annalise merasakan matanya sendiri basah dan ia menyelinap keluar,
meninggalkan dua sahabatnya sendirian. Dia juga butuh waktu untuk menata
perasaannya.
Selagi bergerak ke arah
dapur untuk membuat secangkir teh hangat, ia berpapasan dengan Dhanny yang
memegang sekantung besar keripik kentang pedas di tangannya.
“Hai.”
“Hei.”
Mereka berdua berdiri di
dipan, memandang ke luar jendela. Matahari bersinar cerah, kebun kecil keluarga
Nata tampak terawat dengan bugenvil warna-warni yang mekar pada saat yang
tepat, tapi Annalise merasa mendung dan kelam. Dia tidak pernah
mengungkapkannya, tapi mengetahui bahwa keputusan Nata akan pergi sudah final
juga membuatnya merasa sedih.
“Besok Nata akan pergi.”
Annalise mengangguk kaku.
“Kamu juga nggak mau dia
pergi, kan?”
AAnn mendekatkan cangkir ke
bibir, sesekali meniup minuman di dalamnya supaya cepat dingin, sengaja
mengulur waktu untuk menjawab. “Semua orang nggak mau Nata pergi.” Dia berusaha
menjawab dengan netral.
“Tapi, kamu masih sayang
sama dia.”
Itu bukan pertanyaan. Hanya
pernyataan yang membuat hatinya lebih miris lagi. “Gimana perasaan Kakak waktu
Sivia pergi?”
Dhanny tidak berusaha
menghindari pembicaraan ketika mendengar pertanyaan tersebut, tidak juga
memasang ekspresi sedih. Dia hanya tersenyum, senyum seseorang yang sedang
mengenang masa lalu tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disesali.
“Sivia orang yang tegas. Dia
bilang ada tiga jenis orang di dunia ini; orang yang memiliki mimpi lalu
memilih untuk mengejarnya sampai dapat, orang yang memiliki mimpi, tapi tidak
melakukan apa-apa untuk menjadikannya nyata, dan orang yang sama sekali tidak
mempunyai mimpi. Sejak kecil, dia tahu kalau dia akan pergi jauh dari sini, dan
aku nggak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya pergi.”
“Kakak pernah memintanya
untuk tinggal?”
“Ya. Tapi, dia bilang aku
egois kalau memaksanya tinggal, bodoh kalau mengorbankan diri sendiri untuk
mengikutinya ke sana. Karena kami punya mimpi yang berbeda. Dia ingin jadi
penari, sedangkan saat itu aku masih nggak tahu apa yang kuinginkan. Kalau
mengikutinya, aku tahu aku hanya jadi beban buat dia, begitu juga sebaliknya.
Perasaan kami saat itu tidak cukup kuat untuk mempertahankan apa yang kami
punya.”
Mengapa sangat mudah bagi
seseorang untuk mengorbankan cinta demi cita-cita? Annalise ingin tahu.
Dhanny menatapnya tenang,
dan saat itu juga Annalise mengetahui jawabannya. Karena cinta tidak ingin
bertahan dalam hati dua orang yang tidak menginginkan hal yang sama. Karena
jika salah satunya tidak memiliki ruang yang cukup untuk cinta, maka cinta itu
akan beranjak pergi.
***
Wish #44: menjadi anak-anak
lagi, yang tidak pernah memusingkan banyak hal rumit (Nata)
Niki menyiapkan berbagai
kudapan di basecamp
mereka. Marshmallows
bakar berbalut selai cokelat. Nachos
saus keju kesukaan Nata. Gelato matcha
dan yogurt rasa blueberry.
Soda dingin dan jus jeruk.
Mereka duduk bersebelahan,
mendengarkan musik sambil memandangi bintang. Hangat kulit Nata bergesekan
dengan lengannya, membuatnya merasa aman. Sesekali, Niki melihat kerlip siluet
pesawat melintas di kejauhan, dan ia merasakan tendangan kecil dalam hati,
teringat bahwa besok pagi sahabatnya juga akan dibawa pergi oleh salah-satu
benda tersebut.
Sudah belasan tahun mereka
melakukan hal ini setiap malam, sebuah rutinitas yang sama kentalnya seperti
minum air. Bagaimana dengan esok? Niki memaksa dirinya sendiri untuk memikirkan
hal-hal yang menyenangkan. Apa pun untuk mengalihkan pikirannya.
“Inget nggak waktu kamu
pertama kali ngajak aku duduk di atas trampolin ini?”
Saat itu, mereka berdua
berusia tujuh tahun. Trampolin baru itu terlalu besar untuk tubuh mereka yang
mungil sehingga Niki selalu merasa dia tenggelam dalam kegelapan hitam pekat
kain raksasa itu. Orangtua mereka mewanti-wanti supaya mereka tidak terlalu
sering bermain di luar hingga larut malam, tapi baik Niki maupun Nata tidak
terlalu memedulikan nasihat itu. Merasakan angin semilir di wajah mereka selagi
berada di udara, di bawah langit yang cerah mengikuti terbenamnya matahari
adalah salah satu hal terbaik yang pernah mereka rasakan.
“Ingat,” Nata menjawab
dengan senyum di nada suaranya, “waktu itu lo jatuh.”
Pada hari kedua, Niki
mengusulkan mereka berdua melakukan kontes untuk menentukan siapa yang bisa
melompat lebih tingga. Niki melepaskan kedua sepatunya, lalu mulai memantulkan
tubuh di atas trampolin, merasakan adrenalin yang luar biasa hanya dengan
melompat dan melayang di udara selama beberapa detik. Namun saat mendarat, salah
satu kakinya menyentuh ujung trampolin dan dia terpantul ke luar, terjerembab
ke atas tanah. Niki hanya ingat tangannya terpelintir dalam posisi tak wajar,
seluruh tubuhnya sakit bukan main, sedangkan Nata berteriak-teriak histeris
seperti kesetanan.
“Pertama kali aku masuk
ambulans.” Niki mengingat dengan senyum.
“Gue juga.”
Saat itu, Nata memaksa ikut
masuk ke dalam ambulans bersama Niki, tidak pernah melepaskan tangannya sedetik
pun. Niki mendapat lima jahitan di dagu, sekujur tubuhnya lebam dan luka-luka,
tetapi untungnya tidak ada yang patah. Sejak saat itu, trampolin dilipat dan
mereka dilarang menyentuhnya lagi, tapi setiap malam Niki dan Nata
mengendap-endap untuk berbaring di atasnya, memandang ke atas dan merasakan
guncangan-guncangan kecil hasil gerakan tubuh mereka. Tidak pernah lagi
diadakan kontes melompat.
“Setiap kali ngambek, pasti
lo ngumpet di sini dan nggak mau pulang.” Nata tidak ingat lagi berapa kali dia
menemukan Niki yang bersembunyi di kebun ini, entah menangis cengeng sehabis
diomeli karena nilainya jeblok, atau merajuk karena tidak diizinkan pulang
malam. Tempat ini jadi semacam tempat rahasia mereka.
“Aku pernah liat kamu ngajak
Anna ke sini.” Niki berkata dalam suara kecil. “Waktu itu aku marah, karena
tempat ini adalah tempat kita berdua. Mungkin egois kalau aku ngomong begitu,
tapi entah kenapa aku nggak senang kalau ada orang lain yag duduk di sini
selain aku.”
“Kamu cemburu sama Anna?” Nata
memainkan senyum nakal di wajahnya, membuat Niki mencubit pinggangnya keras-keras.
“Kalau kamu nggak ada nanti,
aku akan ngajak cowok lain duduk di trampolin ini. Nanti baru kamu tahu gimana
rasanya.”
Nata berubah cemberut.
“Nggak boleh,” tithnya tegas.
“Malam ini, kita di sini
aja, ya?”
Permintaan itu diekspresikan
dengan sangat polos dan manja sehingga Nata mengiyakan sambil menyembunyikan
senyum di wajahnya. Dia ingin menghabiskan malam-malam berbintang, mengobrol
dengan Niki di sampingnya, selamanya.
***
Hampir pukul lima pagi. Nata
terjaga dari tidurnya, merasakan gelap masih mengelilingi mereka. Semalaman,
dia dan Niki mengobrol ngalor-ngidul hingga subuh, hingga mereka berdua
akhirnya tertidur. Nata merasakan hangat tangan kecil Niki dalam genggamannya.
Entah bagaimana, kedua tangan mereka saling menemukan satu sama lain dan
berpegangan erat, seakan tidak ingin terlepas.
Di ufuk timur, dua bintang
yang sangat terang membentuk dua titik di langit. Tidak, bukan bintang. Nata
menyadari bahwa apa yang dilihatnya adalah planet Jupiter dan Venus, dalam
sebuah fenomena alam yang dibacanya di halaman Astronomi koran pagi kemarin.
Beberapa saat sebelum matahari terbit, kedua planet tersebut dapat dilihat
dengan mata telanjang, berdekatan membentuk segitiga dengan bulan.
Nata menggoncang bahu Niki,
yang meracau sejenak sebelum membuka mata dengan malas.
“Bangun Ki, liat tuh.”
Niki tidak berkata apa-apa,
tapi Nata tahu ia sudah sepenuhnya terjaga. Menahan napas, memperhatikan kedua
planet bersinar, berdekatan seperti dua sahabat yang saling menjaga.
Jari-jari Niki menggenggam
tangan Nata dengan lebih erat. Nata melakukan hal yang sama.
***
Perjalanan menuju bandara
diisi keheningan yang menyesakkan. Nata duduk bersama Niki di kursi belakang,
tangan gadis itu erat-erat mencengkeram lengan kemejanya seakan tidak merelakannya
pergi. Nata pun tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan, hanya sesekali
mengulurkan sebelah tangan untuk menyandarkan kepala Niki di pundaknya. Dhanny
yang sedang menyetir dan Annalise yang duduk di sampingnya menangkap gestur itu
melalui kaca spion, lalu tersenyum samar.
Mereka berempat duduk
berdempetan di ruang tunggu bandara yang penuh. Jarum ham merangkak pelan
menuju waktu keberangktan Nata. Panggilan yang ditujukan kepada seluruh
penumpang pesawat yang akan berangkat ke New York sudah diumumkan dua kali,
tetapi Nata tidak kunjung beranjak dari kursinya untuk menuju antrean imigrasi.
Tiket di tangannya dicekal hingga lecek, satu-satunya bukti nyata yang
mengingatkannya bahwa dia sudah harus pergi. Sampai akhirnya ia menghela napas
berat, lalu bangkit dan menatap mereka satu per satu—abangnya, Annalise, lalu Niki.
“Gue harus pergi.”
Kalau bisa, Nata tidak ingin
mengucapkannya, tapi dia tidak punya pilihan.
Air mata perlahan-lahan
mengalir di kedua sisi wajah Niki, walau wajahnya tersenyum. “Aku akan kuat, Nat.
Aku janji.”
Dengan satu gerakan cepat, Nata
menarik Niki ke dalam pelukannya, tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya
yang sedang memperhatikan. “Kalau begitu jangan nangis, dong,” dia berbisik,
tapi suaranya sendiri serak. “Gue akan telepon sesering mungkin. Kalau ada
perlu, lo juga bisa hubungi gue kapan aja.”
Nata merasakan anggukan Niki.
Pelukannya mengendur dan dipandangnya wajah Niki dalam-dalam, ingin
menghafalkan garis wajah itu baik-baik. Dia menahan diri untuk tidak mengatakan
sekali lagi bahwa dia menyayangi Niki, dan akan melakukan apa saja untuknya.
Dia bahkan rela untuk
tinggal, seandainya saja Niki memintanya sekarang.
Nata merasakan matanya mulai
berair, tapi berusaha untuk menyembunyikannya. Walaupun membenci kebiasaan yang
kekanakan itu, dia mengulurkan jarinya dan mengaitkannya pada kelingking mungil
Niki sebagai janji. “Jaga diri baik-baik, ya.”
Sekali lagi Niki mengangguk.
Annalise dan Dhanny menyentuh lengan Nata, mengucapkan selamat jalan. Mereka
saling berpelukan singkat. Panggilan ketiga samar-samar terdengar melalui speaker, dan Nata
merunduk untuk mengecup kening Niki, membekaskan seluruh rasa cintanya pada
gadis itu di sana.
Gue akan segera pulang. Dan,
saat itu, gue gak akan melepaskan lo lagi.
Dia berbalik dan berjalan
menjauh, berusaha untuk tidak menoleh ke belakang lagi, pandangannya kabur oleh
air mata yang tidak jadi menetes.
***
Wish #45: aku nggak mau Nata
pergi (Niki)
Siluet tubuh Nata menghilang
di balik kerumunan orang yang memadati bandara. Niki tidak terlalu merasakan
kehadiran orang lain di sana,hanya kehampaan yang amat sangat. Keningnya masih
hangat akibat ciuman singkat barusan. Ketika menyaksikan Nata menjauh,
tiba-tiba saja ia merasakan separuh jiwanya ikut pergi meninggalkan dirinya.
Untuk pertama kalinya, ia
menyadari sesuatu yang sangat penting. Dia menyayangi Nata—tidak, bukan hanya
menyayangi. Dia mencintai sahabatnya itu.
Niki tidak dapat lagi
membendung air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya. Annalise maju dan
merangkulnya erat, mengusap punggungnya dan memisikkan kata-kata lembut untuk
menenangkannya.
“Aku sayang banget sama Nata,
Ann.” Niki berkata lirik di antara isakannya.
Gerakan Annalise terhenti
ketika mendengar pernyataan yang mendadak itu. “Kenapa kamu nggak bilang sama Nata
sebelum dia pergi?”
Niki menggeleng. “Karena
hanya dengan begini, dia akan tetap pergi untuk mengejar mimpinya.”
Annalise terdiam, menemani Niki
yang terus menangis di sampingnya, air matanya sendiri meleleh tanpa bisa
dihentikan.
***
Niki mendorong pintu kamar Nata,
lalu perlahan berjalan masuk dan memandang sekeliling. Segalanya terlihat
kosong tanpa Nata. Gitar cowok itu tidak ada di sana. Tidak ada tumpukan kertas
yang berserakan di atas karpet, kertas-kertas yang berisi partisi lagu dan
musik yang baru separuh dibuat. Kamar itu masih kental dengan aroma khas
pemiliknya, walau sudah hampir sebulan Nata meninggalkannya. Entah apa yang
membuat Niki menyelinap masuk ke sana—untuk mencari sisa-sisa diri Nata,
mungkin, karena ia merindukannya.
Pandangan matanya berhenti
pada sekotak kaset yang diletakkan di atas meja belajar. Benda tersebut
terlihat asing dalam ruangan kosong yang tak berpenghuni.
Niki meraih kaset itu, lalu
memasukkannya ke dalam tape
dan memencet tombol play.
Petikan gitar yang lembut mengisi keheningan, mengiringi suara Nata yang
menyanyikan sebait lagu pendek.
Bulan emas tinggal separuh
Bintang-bintang sangat
pemalu
Kau terduduk di sampingku
Aku lantas mencintai
bayangmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Hatiku berserakan... lebur
dan lepuh
Hanya satu lagu itu yang
terekam dalam kaset. Niki tercenung. Di mana, ya, dia pernah mendengar
kata-kata yang sama? Untaian kalimat itu sepertinya tidak asing. Mungkin lagu
yang sempat diputarkan di radio? Atau sajak yang pernah dibacanya dalam sebuah
buku sastra?
Tunggu sebentar. Puisi.
Puisi yang disalin pada selembar kertas polos yang diselipkan ke dalam amplop
biru, salah satu surat yang diterimanya pada hari Valentine. Ya, dia ingat
sekarang.
Ternyata, bukan seorang
penggemar rahasia tak bernama yang mengirimkan surat itu untuknya, tapi Nata. Nata
yang selalu memperhatikannya, menjaganya, menyayanginya. Niki memejamkan mata
dan membiarkan lagu itu bermain berulang-ulang, tersenyum sambil membisikan
sutas doa dalam hati.
Tersenyum karena mengetahui Nata
telah meninggalkan lagu itu untuknya.
***
EPILOG
Niki mengunyah cepat sandwich isi
telur yang menjadi menu makan siangnya hari ini, lalu buru-buru menyambar
telepon genggam yang bergetar di atas meja. Ia tersenyum ketika melihat nama
peneleponnya di layar.
"Hei, Anna!"
"Hei, Ki, lagi
ngapain?"
Niki mengepit telepon di
antara pipi dan bahu sambil terus memeriksa setempuk berkas di hadapannya.
"Biasa, nyambi makan sambil menilai hasil ulangan anak-anak. Kamu?"
"Baru selesai meeting dengan
redaksi, dan sekarang mau nge-drop
beberapa foto permintaan klien di kantornya. Oh ya, paket kirimanku udah nyampe
belum?"
"Mmmm...
sebentar." Niki mengobrak-abrik surat-surat yang berserakan di atas mejanya.
Sekali lagi ia mengingatkan diri sendiri agar segera membereskan segunung
barang yang sudah menumpuk di sana, malu mengingat mejanya memang sudah
melewati tahap berantakan yang normal. Beberapa saat kemudian, ia menemukan
sebuah paket berbentuk segi empat dengan namanya dalam tulisan tangan Annalise
di bagian depan, lalu menyobeknya hingga terbuka.
Sebuah bingkai sederhana
yang terbuat dari kaca, dengan selembar foto diselipkan di dalamnya. Niki masih
ingat foto itu—diambil pada hari kelulusan SMU, yang juga merupakan hari ulang
tahun Niki yang kedelapan belas. Niki, Nata, dan Annalise membolos upacara
kelulusan dan pergi ke pantai tanpa sepengetahuan guru. Dalam foto itu, mereka
bertiga tersenyum lebar, masing-masing saling merangkul, seragam mereka basah
kuyup. Niki tersenyum, ujung jemarinya menyentuh permukaan bingkai dengan
rindu.
"It's my birthday present for you.
Happy birthday, Niki."
"Thanks, Ann. Aku
suka banget hadiahnya."
Tiba-tiba, Niki merasa
sentimentil. Tidak terasa, lima tahun telah berlalu menggantikan hari cerah di
pantai itu. Dia rela melakukan apa saja untuk kembali ke masa-masa itu, saat
mereka hanyalah anak-anak yang polos, saat persahabatan saja sudah cukup.
Annalise sepertinya dapat
membaca perubahan emosinya, karena ia lalu menyambung dengan suara lembut,
"We'll always
have each other. Kita bertiga."
Niki mengangguk walau Annalise
tidak bisa melihatnya. Dia pun percaya pada hal itu.
***
Nata berdiri di depan pagar
sekolah lamanya dengan kedua tangan dalam saku. Sekolah itu tidak berubah,
masih dengan cat biru muda yang sama walau terlihat dimakan usia. Pak Tugiran
yang selalu menjaga pagar telah digantikan oleh seorang laki-laki muda
berseragam satpam, sedang berusaha menghalau penjual asongan yang berkumpul di depan
sekolah.
Sebuah gedung baru telah
dibangun di sebelah gedung tempatnya bersekolah dulu. Ruang-ruang kelasnya
masih tampak sama walau kini terlihat lebih modern. Nata menyusuri satu-per
satu, bersyukur telah datang pada sore hari seusai jam pelajaran sehingga dia
dapat mengenang kembali masa kecilnya tanpa gangguan.
Rasanya sudah lama sekali
sejak dia terakhir menginjakkan kaki di sana. Ketika berdiri di bawah naungan
pohon besar yang sudah puluhan tahun menjaga sekolah itu, Nata melihat bayangan
dirinya sendiri sedang berlari menuju pagar, Niki mengikuti di belakangnya.
Mereka berdua terengah-engah, memohon pada Pak Turigan supaya membukakan pintu
dan membiarkan mereka masuk, sebelum mereka dihukum karena terlambat. Nata
melihat dirinya menyendiri di balik pilar, memandangi Niki yang sedang bersenda-gurau
bersama teman-temannya. Dia melihat Niki yang masih kental dalam ingatannya,
berbalut seragam cheers,
melakukan gerakan dalam formasi piramid yang selalu membuatnya menahan napas,
takut gadis itu jatuh. Dia melihat mereka berdua bersepeda pulang, tangan Niki
memeluk pinggangnya.
Selama ini, Nata tidak
pernah melupakan Niki. Kepergiannya ke Amerika tidak mengubah apa-apa,
perasaannya masih sama seperti dulu.
Teriakan seseorang
membuatnya menoleh mencari asal suara. Suara tawa anak-anak yang mengerjai
gurunya dalam sebuah permainan petak umpet tidak jauh dari sana membuat Nata
berhenti untuk memperhatikan.
Sang guru, seorang perempuan
muda, berdiri memutari kebun belakang, mengenakan celana jeans biru tua
dan kemeja putih berlengan pendek. Rambutnya yang lurus panjang sepinggang,
kulitnya kuning langsat. Ia mengenakan sepatu hak tinggi berujung runcing.
Kedua matanya ditutupi oleh saputangan, bibirnya membentuk senyum jenaka sambil
memanggil-manggil sekelompok anak kecil berderagam merah putih yang sedang
berlarian di sekelilingnya.
"Kirana! KeDhan! Kalian
di mana?"
Hati Nata berdesir. Dia
terpaku di sana, tidak mampu bergerak, bahkan ketika perempuan itu berjalan
semakin dekat, lalu tersandung supaya tidak jatuh. Nata mengulurkan tangan
untuk memegangi kedua bahunya, menahan napas saat perempuan itu melepaskan
ikatan di matanya sambil tersengal.
Mereka berdua saling
berpandangan. Tawa perempuan itu surut, mulutnya menganga seakan tidak memercayai
pengelihatannya. Dia sepertinya ingin berseru, tapi justru hanya berbisik
dengan suara tercekat.
"Nata."
***
Niki terpaku lemas, lidahnya
berubah kelu begitu mengenali siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Tubuhnya
gemetar saat ia mengambil satu langkah mundur.
Perubahan pertama yang Niki
sadari mengani Nata adalah tinggi badannya. Dulu, Nata memang tergolong
jangkung, tapi sekarang tingginya jauh melampaui Niki. Tubuhnya kekar, bahunya
bidang, dan tangannya besar. Rambutnya dipotong cepak, wajahnya lebih dewasa
dan dagunya dipenuhi bintik-bintik halus. Tapi banyak hal mengenai Nata tidak
berubah—senyumnya, pandangan matanya, sentuhannya.
Mereka berpandangan untuk
waktu yang cukup lama, berhadapan tidak hanya sebagai sepasang sahabat yang sudah
bertahun-tahun tidak bertemu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki banyak
hal yang belum sempat tersampaikan.
Ia ingin berkata bahwa dia
sudah menemukan mimpinya—menjadi seorang guru. Ia ingin bilang bahwa Annalise
kini sudah mendapatkan tambatan hatinya dalam sosok Kak Dhanny. Ia ingin Nata
tahu bahwa mereka semua baik-baik saja.
Niki selalu menunggu Nata—ingin
mengetahui perasaan apa yang akan terefleksikan saat ia menatap langsung pada
dua bola mata pemuda itu. Ingin tahu apakah semuanya sudah berubah, sudah
terlambat, atau lebih baik tidak terucapkan seperti kalimat yang disimpannya
dalam hati pada hari kepergian Nata, lima tahun yang lalu.
Tapi, ketika mereka berdiri
tidak jauh dari satu sama lain dan saling berusaha menata hati, Niki menyadari
bahwa ada beberapa hal yang tidak perlu dikatakan hanya untuk membuatnya nyata.
Dia tahu jelas apa yang ingin Nata katakan kepadanya melalui pandangan mata
itu, dan dia yakin Nata pun mengerti isi hatinya.
Tidak ada yang berubah.
Mereka masih saling memiliki; dulu, sekarang, dan selamanya.
"Gue udah kembali, Ki."
Niki menyambut ucapan itu
dengan senyum. "I've
missed you."
Nata membalas senyumnya,
tangan kanannya menyentuh jari-jari Niki dan menggenggamnya erat. "I know."
***
Plain melodies
Simple guitar chords
Your humming to my song
Lyrucs of the heart
...and the rhymes of the
moon
Make the best night music
Night music
That belongs to you and I
***